
Richard tak ingin keluarganya disentuh oleh ibu dan juga mantan istrinya. Richard sangat tahu bagaimana mereka.
Apa lagi anak buahnya yang ia perintahkan untuk memata-matai ibunya memberi kabar yang cukup mencengangkan.
"Kamu yakin mami sedang bertransaksi dengan pria itu?" tanya Richard ketika melihat video yang ditunjukkan oleh anak buahnya.
"Benar, Tuan. Sebaiknya kita harus hati-hati menghadapi nyonya. Kita sama-sama tahu siapa pria ini!" jawab Pak Sam lagi.
"Ya, aku tahu dia. Terima kasih Pak Sam. Terima kasih atas infomasi ini. Tolong perketat pernjagaan. Jangan sampai mami atau siapapun mendekati Yunda dan Xavi. Aku nggak mau terjadi apa-apa dengan mereka," pinta Xavi.
Pak Sam dan kedua temannya paham. Mereka pun meyanggupi perintah itu.
Richard sangat paham bagaimana perangai kedua wanita tak punya hati itu. Mereka bisa saja melakukan sesuatu yang tidak diinginkan. Apa lagi saat ini, ibunya tidak menyukai istrinya. Richard yakin, sang ibu pasti akan melakukan apapun untuk memisahkan mereka.
Dan kecurigaan itu sekarang terbukti, kabar yang dibawa Pak Sam dan kedua temannya adalah jawaban atas kecurangan Richard selama ini.
"Satu lagi, Pak. Aku nggak mau menerima apapun yang dikirim mami ke rumah ini. Baik itu berupa pakaian, mainan atau makanan. Aku takut mami menarub jebakan untuk itu. Kalian paham kan maksudku?" tanya Richard, serius.
"Siap, Tuan. Kami paham maksud anda."
"Bagus! Tolong awasi mami terus. Dia nggak akan kembali ke Australia sebelum tujuannya tercapai. Dia pasti akan tetap stay di rumah utama. Pantau terus CCTV di sana. Aku yakin mami pasti melupakan mata-mata satu itu."
"Baik, Tuan. Kami brasa juga demikian. Sepertinya nyonya tidak ingat jika rumah itu pernah kita huni dan kita masih meninggalkan jejak yang tidak semua orang paham akan hal itu," jawab Pak Sam.
"Hem... biarkan wanita tua itu terlena dengan dunianya. Kita awasi saja dia. Jika dia tidak menyerang maka kita pura-pura saja tak tau apa-apa. Tapi jika dia mulai bergerak, mau tak mau kita harus melawan. Kalian paham kan maksud ku?" Richard menatap Pak Sam dan kedua orang yang ia percaya itu.
"Paham, Tuan. Kami siap membantu anda!"
"Hemmm, pergilah. Nanti kita bicara lagi!"
"Baik, Tuan. Kami permisi!" Jawab Pak Sam.
Paham akan tugas yang diberikan, mereka pun langsung menyanggupi perintah tersebut. Setalah itu, mereka pun meninggalkan ruang kerja Richard.
Sungguh, sebenarnya Richard tak ingin durhaka kepada ibunya. Namun, ibunya yang memulai ini semua.
Tak mungkin bagi Richard untuk diam saja tanpa melawan.
Yunda sekarang adalah belahan jiwanya. Ia tak kan pernah rela siapapun menyentuhnya. Termasuk ibu dan mantan istrinya.
Melihat sang suami melamun, Yunda pun mendekati pria itu dan membawakan secangkir teh untuknya.
"Minumlah, jangan melamun terus," Pinta Yunda sembari mengelus lengan suaminya.
"Aku tau saat ini kamu sedang berbohong. Aku tahu kamu sedang mengkhawatirkan aku dan Xavi kan? Kamu takut aku dan putramu di sakiti oleh ibu dan juga mantan istrimu, kan?" tebak Yunda.
"Kamu nguping ya?" balas Richard sembari mencubit manja hidung mancung istrinya.
"Tidak, aku hanya lewat dan tak sengaja mendengar."
"Benarkah?"
"Ya."
"Maafkan aku, aku harus super posesif sekarang. Yang kita hadapi saat ini bukan orang sembarangan, Yang. Mereka memiliki uang dan power. Mereka bisa melakukan apapun untuk menjerumuskan kita ke lubang neraka. Aku minta maaf karena harus mengatakan kejujuran ini. Supaya kamu hati-hati jika ketemu mereka," ucap Richard, khawatir.
"Benarkah? Apakah mereka sekeji itu?" tanya Yunda sangsi.
"Ya. Aku sangat mengenal mami. Mami sangat keji pasa siapapun yang ia kehendaki. Bahkan padaku, yang katanya putra kandungnya," ucap Richard sembari menghapus peluh yang mulai menampakkan pesonanya.
"Sabar, Yang. Mau seburuk apapun dia, beliau tetap ibumu. Bahagiamu adalah ridhonya," ucap Yunda mengingatkan.
"Aku tidak pernah menuntut apapun padanya, Yang. Kamu tau itu. Aku hanya ingin menjalani apa yang menurutku benar. Aku hanya ingin diberi kebebasan untuk memilih. Itu saja. Apa susahnya sih, orang pernikahan juga aku ini yang ngejalanin. Bener nggak? Masak dia paksa-paksa? Sama jal*ng pula. Apa nggak gila itu," Balas Richard kesal.
"Iya, sekarang kan kamu udah bersama pilihanmu. Mari kita dekati ibumu pelan-pelan. Siapa tau nanti beliau bakalan kasih kita restu. Nggak ada salahnya kita mencoba meluluhkan hati beliau. Percayalah padaku, Yang, rumah tangga kita akan lebih indah jika ada restu dari orang tua. Baik dari pihak mu, maupun dari pihak orang tuamu," ucap Yunda mengingatkan.
"Aku pun ingin seperti itu, Yang. Tapi kamu tahu sendiri lah. Mamiku terlalu picik untuk mengakui sebuah kebenaran, Yang. Sudah tau mantan mantunya jal*ng, masih aja suruh balikan. Apa baiknya wanita itu coba," gerutu Richard kesal.
Yunda tersenyum. Agar sang suami tak mengomel lagi Yunda pun memberikan kecupan sayang di bibir pria itu. Lalu mereka berdua pun tersenyum.
Mendapat manisnya kasih sayang dan perhatian sang istri, membuat Richard semakin bersemangat untuk membuktikan pada kedua orang tuanya bahwa pilihannya tidak salah. Yunda adalah sebaik-baiknya wanita.
Jika dilihat dari harta, Yunda memang tidak sekaya Vero. Tapi, akhlak dan ketulusan Yunda tidak bisa diragukan.
Meskipun Xavi bukalah putra kandungnya, tapi kasih sayang yang diberikan Yunda pada Xavi malah melebihi ibu kandungnya sendiri.
Bocah itu sekarang tak pernah kesepian sejak ibu sambungnya ini hadir di tengah-tengah mereka.
Xavi selalu mendapatkan apapun yang ia mau.
Baik itu perihal makan, waktu bahkan kebahagiaan. Dan Richard sangat mengakui kebaikan istri barunya itu.
Senyum mengembang sempurna di bibir Yunda. Apa lagi Richard tidak menolak pelukan bahkan kecupan darinya. Sayangnya, Yunda tidak menyadari bahwa saat ini suaminya sedang diderang dilema. Antara melawan atau menyudahi semuanya.
Bersambung...