
Richard tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada sang putra. Ia pun meminta tim dokter yang menangani bocah tersebut untuk melakukan pemeriksaan ulang.
Awalnya Xavi menolak keinginan papinya itu. Namun, dengan sabar Yunda merayu bocah tersebut.
"Kan tidak sakit, Sayang. Nanti kakak temenin deh," ucap Yunda, merayu kekasih kecilnya.
"Xavi tidak mau disuntik, Kakak. No... sakit," jawab bocah tampan ini, merajuk.
"Tidak, siapa bilang disuntik. Hanya diperiksa. Xavi kan anak pintar. Pemberani. Mana mungkin takut dengan hal seperti itu. Iya kan, Pi?" sanggah Yunda, agar bocah tampan ini terlena.
"Benar kata Kak Yunda. Pangerannya papi anak pemberani. Bukan bocah cengeng yang penakut," balas Richard.
"Tu, Papi saja bilang kalo Xavi anak hebat. Anak pemberani," rayu Yunda lagi.
Xavi menatap Yunda dan papinya bergantian. Lalu ia pun menyetujui keinginan papinya itu.
Kini Xavi di bawa ke ruang pemeriksaan khusus. Sedangkan Richard dan Yunda ada di depan ruangan tersebut. Menunggu.
Sejak Xavi berada di ruang pemeriksaan itu, baik Richard maupun Yunda. Mereka berdua saling duduk berjauhan. Tak ada obrolan sama sekali.
Tak dipungkiri bahwa Richard ingin sekali menawari gadis di sampingnya ini sebuah pekerjaan. Pekerjaan untuk menjaga Xavi.
Richard menghela napas dalam-dalam. Mencoba menurunkan egonya. Agar Yunda tidak takut saat bercengkrama dengannya.
"Hay, kamu... apa benar namamu Yunda?" tanya Richard tiba-tiba. Membuat Yunda sedikit tersentak.
"Iya, Om. Nama saya Yunda."
"Di mana kamu tinggal?"
"Saya tinggal di Dadap, Om. Dekat area pabrik," jawab Yunda.
"Ohhh, aku tau itu. Kamu kerja?"
"Kerja apa maksudnya?"
"Ya kerja... ikut orang atau mungkin di pabrik itu."
"Tidak Om, saya nerusin warung ibu. Soalnya ibu sakit jadi sekarang saya yang jualan."
"Jualan! Jualan apa?"
"Kopi, mie instan, minuman instan, gorengan sama nasi, kalo ada yang pesan."
"Ohh, emang ada ya warung seperti itu?"
"Ada Om, saya kan penjualnya." Yunda tersenyum. Namun juga kesal.
Dasar orang kaya, taunya gedung tinggi doang, gerutu Yunda dalam hati.
"Kau tak usah mengumpat. Kalo mau ngomong, ya ngomong aja!"
Yunda membulatkan mata sempurna. Terkejut, karena Richard bisa membaca isi hatinya.
Apakah dia Cenayang? Ih seram...
"Kenapa melotot begitu? Aku bukan cenayang tau!" Richard melirik Yunda. Sedangkan Yunda hanya diam. Ia tak lagi berani menggerutu dalam hati lagi. Takut Richard kembali membacanya.
"Sekarang Om?"
"Tidak, tahun depan. Ya sekarang lah, masak tahun kemarin." Richard melirik kesal.
"Astaga! Gitu aja sih. Usia saya sekarang 19 tahun, Om."
"19 tahun, tapi udah jualan. Nggak sekolah kamu?"
"Sudah nggak, Om. Hanya sampai SMP saja."
"Kenapa?"
"Nggak ada biaya, Om."
"Nggak ada biaya? Emang ayahmu nggak kerja?"
"Ayah saya, Om. Dia nikah lagi. Kepicut janda Om." Yunda tertawa. Membuat Richard sedikit terhibur.
"Dasar gila! Bapaknya nggak bener kok malah ketawa."
"Habis mau gimana Om? Sedihnya saya sudah lewat Om. Lihat bapak nikah lagi, sudah. Lihat ibu keluar masuk rumah sakit, juga sudah. Putus sekolah dan harus jadi tulang punggung keluarga, juga sudah. Ibarat hidup ini cuma untuk nangis, saya sudah kenyang Om. Air mata saya mungkin sudah habis buat nangisin hidup. Jadi ketawa saja lah... jalani aja. Ngapain dipusingin!" jawab Yunda, masih dengan tawa renyahnya.
Di sini, muncul kekaguman dalam diri Richard. Anak gadis seusia Yunda, bisa setegar ini menghadapi hidup. Sedangkan dirinya, yang katanya usianya udah sangat matang. Malah kadang-kadang masih emosi jika ada masalah.
"Kamu punya saudara?" lanjut Richard.
"Ada Om, satu cewek. Masih kelas 2 SMA. Makanya saya kerja keras supaya dia bisa sekolah. Cukup saya saja Om yang nggak sekolah. Kalo bisa, saya pengen sekolahin adek saya sampai sarjana. Jadi dokter kalo bisa. Minimal perawat lah," jawab Yunda semangat.
"Bagus! Kamu hebat. Di mana adikmu sekolah? Atau tinggal, mungkin? Kata asisten ku, kamu tinggal sendirian di rumah?"
"Iya, Om. Adek sama ibu tinggal di Bogor. Sejak sakit, ibu mau tinggal di Bogor saja. Katanya di sana lebih adem. Lebih tenang. Jadi sekarang saya di rumah sendiri. Paling sama orang-orang yang ngekos di rumah saya," jawab Yunda jujur.
"Ngekos, di rumah kamu? Maksudnya?" Richard terlihat bingung dengan jawaban ambigu itu.
"Rumah saya kan dua lantai Om. Yang atas saya jadiin kontrakan. Buat buruh pabrik. La yang bawah saya tempati sendiri. Nggak besar sih Om. Tapi bisalah kalo buat tidur," jawab Yunda, menjelaskan.
"Oh, gitu... enak juga ya hidup kamu. Masih kecil udah jadi juragan kontrakan."
"Ya nggak juga, Om. Tapi saya tetap bersyukur lah. Yang penting sehat, Om. Jadi bisa semangat jalanin hidup," jawab Yunda, santai.
Senang, seperti itulah rasa yang Richard rasakan ketika bercengkrama akrab dengan Yunda. Pantas saja Xavi suka berteman dengan Yunda. Ternyata bercengkrama dengan gadis itu sangat menyenangkan. Apa lagi, untuk ukuran Xavi yang merindukan teman untuk berbagi keluh kesah.
"Kamu sayang sama Xavi?" tanya Richard lagi.
"Sayang. Memangnya kenapa Om?"
"Nggak, aku cuma nanya. Kamu mau tiap hari ketemu Xavi?"
"Mau Om, tentu saja."
"Kamu mau nggak kerja sama aku, jagain Xavi. Soal gaji, aku bakalan kasih kamu gaji, sama seperti omset bulanan kamu. Gimana?" tawar Richard.
Yunda diam. Bukan apa? Ini adalah penawaran super gila yang pernah ia dengar. Ingin rasanya ia mengambil tawaran itu. Tapi bagaimana dengan warungnya. Yunda dilema.
Bersambung...