
Yunda mengurungkan diri untuk masuk ke dalam ruang rawat mertuanya. Wanita cantik ini lebih memilih balik kanan.
Namun sebelum itu, tak lupa ia menitipkan makanan yang ia bawa untuk bapak mertuanya. Yunda sangat yakin jika pria itu pasti belum makan.
"Makasih banyak suster! Tolong bilang sama beliau kalo saya ada urusan. Saya buru-buru, makanya saya nggak masuk." Yunda tersenyum dalam sedihnya.
Suster pun mengiyakan apa yang ia suruh. Setelah itu Yunda pun memilih pergi ke kantor suaminya untuk menyampaikan kabar gila ini.
Di dalam mobil yang membawanya ke kantor sang suami...
Perasaan cemas kini hadir merengkuh sanubari Yunda. Ia takut sang suami murka kepada ibu Chelsea lalu melalukan hal yang tidak Yunda duga. Sebab Yunda sangat tahu bagaimana perangai suaminya.
Untuk memastikan sang suami tidak pergi, terlebih dahulu, Yunda mengirim pesan pada Richard. Bertanya, apakah pria itu ada di kantor apa tidak.
Semenit kemudian, Yunda mendapat balasan dari pria yang ia cintai itu.
"Aku bawa di kantor, Bun. Bunda mau ke sini?" balas Richard ramah.
"Iya, Sayang. Ada sesuatu yang aku mesti sampaikan sama kamu. Aku harap, apapun kabar yang aku bawa, tolong sikapi dengan bijaksana."
"Iya, Yang. Tapi ada apa sih?"
"Lima menit lagi aku sampai kantor. Tunggu ya!"
"Oke!"
Chat mereka berakhir. Namun ini bukan akhir dari kegugupan yang dirasakan oleh Yunda. Justru ini adalah awal dari ketakutan wanita itu. Yunda takut suaminya akan bertindak anarkis.
Benar, lima menit kemudian Yunda pun sampai di kawasan perkantoran sang suami.
Tak menunggu waktu lagi, Yunda pun segera melapor ke resepsionis bawasannya ia mau bertemu owner di sini.
Tanpa banyak bicara, salah satu satpam di tempat itu pun segera mengantarkan istri bos mereka ke ruangan bos mereka.
Kini Yunda sudah berada di dalam ruangan Richard. Namun Richard masih sibuk dengan laptop dan ponselnya. Membuat Yunda memutuskan untuk menunggu.
Lima menit kemudian, Richard mengakhiri panggilannya dan menyambut sang istri.
Seperti biasa, Yunda mencium tangan sang suami. Richard sendiri langsung mencium kening sang istri.
"Tumben Bunda ke kantor! Ada, Honey?" tanya Richard. Pertanyaan standar sih sebenarnya. Namun pernyataan itu sukses membuat seorang Yunda deg-degan.
"Tadi Bunda ke rumah sakit, bawain makan buat papi. Tapi... emmmm!" Yunda menatap mata sang suami. Jujur ada keraguan di sana untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Dih, kebiasaan deh, Bunda. Selalu saja ragu kalo mau cerita. Kalo mau cerita ngomong aja, Sayang. Kenapa, ada apa?"
"Apakah kamu akan marah kalo aku cerita sesuatu? Maaf tadi aku nggak sengaja denger pembicaraan mami sama papi. Tapi demi Tuhan, aku tidak berniat menguping!" ucap Yunda menegaskan.
"Ya, aku percaya itu. Terus!"
"Em, sepertinya mami ditipu sama Vero, Yang. Wanita itu mengambil alih semua saham mami di perusahaan ini," ucap Yunda sesuai apa yang ia dengar pagi ini.
Richard tercengang. Lalu ia teringat bahwa pagi ini para dewa direksi hendak meminta meeting dadakan. Apakah ini masalah yang akan mereka bahas? Mungkinkah Vero sudah menyebar berita ini?
"Kok Ayang malah ketawa. Kenapa? Ada yang lucu?" tanya Yunda heran.
"Nggak, nggak ada. Kamu tadi denger apa aja? Apa papi marah sama mami?" tanya Richard penasaran.
"Tentu saja, Bunda sampai merinding. Ternyata bapak-bapak kalo ngamuk serem ya." Yunda terlihat mengkidik ngeri. Richard kembali tertawa. Menurutnya sang istri sangat menggemaskan.
"Tentu saja papi marah. Aku sudah bisa membaca itu."
"Kenapa kamu sesantai ini? Saham mami di ambil semua loh, Yang. Kasihan papi, kasihan mami!" ucap Yunda memelas.
"Udan, kamu tenang aja. Nggak usah terlalu mikirin mereka. Soal makan mereka nggak akan kekurangan. Tugas kita cuma bikin mami sadar aja. Selebihnya serahin semua padaku. Insya Allah aman," jawab Richard santai.
"Maksudnya?"
"Menurut Bunda, perusahaan ini milik mami atau papi?"
"Emm, papi!"
"Benar! Menurut Bunda, yang punya kuasa siapa?"
"Papi!"
"Betul... terus, Kira-kira yang berhak tanda tangan soal saham itu, papi atau mami?" tanya Richard lagi.
"Papi!"
"Benar lagi, so... siapa di sini yang tertipu. Dia atau kita?" Richard menatap sang istri.
Seketika Yunda pun paham. Yunda langsung tersenyum senang. Ternyata suaminya ini sudah punya jalan keluar atas masalah yang mereka hadapi.
"Syukurlah, Aku ikut senang. Tapi kenapa papi tadi marah besar sama mami?"
"Karena papi mau kasih pelajaran ke mami, Bunda. Kalo nggak gitu, Mami bakalan dikibulin terus sama wanita ular rawa itu," jawab Richard sedikit kesal.
"Syukurlah jika begitu ceritanya. Bunda tenang. Hufff... tadi pas jalan ke sini, Bunda gugup. Takut. Bunda takut kalo kamu gusar, Yang. Makasih kamu sudah mengantisipasi semuanya. Makasih banyak kamu udah jaga dirimu baik-baik," ucap Yunda sembari memeluk suaminya.
Richard menerima pelukan itu dengan hati bahagia. Richard senang, meskipun istrinya terhitung wanita lugu. Tapi dia sangat peduli padanya. Pada keluarganya.
"Makasih Sayang. Kamu udah peduli sama keluargaku."
"Keluargamu adalah keluargaku, Sayang. Bagaimana bisa aku nggak peduli!"
"Aku tahu itu. Makasih banyak, Sayang."
"Sama-sama, Honey!"
Mereka saling melempar senyum. Yunda memberanikan diri memberikan kecupan penuh cinta di bibir suaminya. Sedangkan Richard menerima itu sebagai amunisi untuknya. Amunisi untuk menghadapi wanita licik itu.
Bersambung...