
Richard menatap sang putra yang telah berani menganggu pelepasan hasratnya. Wajahnya memerah karena kesal.
Yunda tersenyum menyadari hal itu. Untuk meredam rasa kesal itu, Yunda langsung mengelus pipi sang suami memberanikan diri mengecup bibir pria yang dicintainya itu.
Richard tidak menolak, namun ia berucap lirih.
"Aku kesal," ucap Richard lirih.
"He em, aku tau. Sabar ya. Kasihan dia, lihatlah dia mengantuk," jawab Yunda sembari mengelus rambut Xavi, yang saat ini ada di pangkuananya.
"Kamu selalu membelanya. Kamu memang lebih menyayanginya di bandingkan denganku," jawab Richard merajuk.
"Kami sepasang kekasih, bahkan sebelum aku mengenalmu. Ingat itu!" canda Yunda.
"Tapi kau sekarang istriku, tidak ada satu orang pun yang boleh menganggu jika kita sedang bersama. Aku kesal!" bantah Richard.
"Astaga! Arogan sekali. Lihatlah bulu matamu ketika marah. Mereka memanjang sempurna tanpa diminta," balas Yunda. Richard tersenyum bahagia.
"Jangan merayuku. Aku malas. Lebih baik segera nina bobo kan kekasihmu itu. Setelah itu, cepat pijat aku. Aku pun mengantuk," ucap Richard, masih dalam mode yang sama.
"Baiklah raja ku, apapun titahmu akan hamba laksanakan. Astaga! tapi pangeran kita ini berat sekali. Aku tak sanggup menggendongnya," ucap Yunda ketika berusaha berdiri sembari mengangkat tubuh putra kecilnya.
Richard kembali tersenyum senang melihat kewalahan Yunda menggendong putra mereka. Tubuh kurus Yunda Terlihat menggemaskan saat berusaha bangkit sambil membopong Xavi yang kini terlelap dalam pangkuannya.
"Kok malah tersenyum sih, Suamiku. Bantuin dong, Sayang. Lihatlah tubuh pangeran mu ini. Semakin hari semakin gembul saja," pinta Yunda.
"Salahmu, kau selalu memberinya makan. Apapun yang ingin ia makan kau berikan. Ya resiko kalo dia sekarang jadi melar begini," jawab Richard sembari membopong tubuh sang putra dan membawanya ke kamar.
Sedangkan Yunda mengikutinya dari belakang sembari tersenyum. Ternyata setelah hubungan mereka berubah menjadi suami istri, rasanya jauh lebih indah saat bercanda.
Yunda membantu Richard menyiapkan tempat tidur untuk putra mereka. Lalu Richard pun merebahkan tubuh sang putra di sana. Sedangkan Yunda langsung berbaring di samping kekasih kecilnya ini. Membuat hati Richard merasa hangat di buatnya.
"Apa kamu suka dengan dia?" tanya Richard sembari duduk di sebelah tubuh sang istri.
"Ya, aku menyayanginya. Aku kasihan padanya. Dia masih kecil, tapi harus merasakan getirnya hidup. Kamu sibuk kerja. Kadang masih galak kalo bicara sama dia. Sedangkan ibunya entah ke mana. Anak segini masih butuh cinta kita orang dewasa untuknya bersandar. Dia juga butuh perhatian kita untuk tumbuh. Bohong jika hatiku tidak sakit saat melihat dia meringkuk seperti ini," jawab Yunda jujur. Beberapa kali ia juga mengelus dan mencium harum pipi Xavi. Memperlakukan Xavi seperti putranya sendiri.
"Kami benar, terkadang aku juga sadar, kalo selama ini aku kasar padanya. Kurang sabar menghadapinya. Maafkan papi, Sayang!" ucap Richard seraya ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri. Lalu memeluk istrinya itu dengan gemas.
"Di sini sesak, Sayang. Nanti tubuhmu sakit semua," ucap Yunda.
"Sekarang ada kamu yang bakalan ngerawat aku. Aku nggak takut sakit lagi sekarang," jawab Richard, lembut.
"Aku yang nggak rela kamu sakit. Kamu harus sehat terus. Banyak orang yang nasibnya berdandar di pundakmu. Jangan kecewakan mereka dengan kamu membiarkan tubuhmu sakit. Oke!" jawab Yunda.
Suami mana yang tidak bahagia, ketika istri tercintanya bisa dengan mudah memberinya ketenangan batin.
Yunda begitu lembut memperlakukannya. Merajakan dirinya seolah hanya dirinyalah pria paling berharga di dunia ini.
Richard tak pernah merasakan ada wanita sesayang ini padanya. Selain Yunda.
Richard berharap, Yunda akan terus menemaninya hingga akhir hayat nanti.
"Tolong jangan berubah. Tetaplah menjadi bidadari dunia dan surgaku, Honey!" pinta Richard, kali ini ia meminta hal itu dengan sungguh-sungguh.
"Selama aku masih bernapas, aku bakalan terus dampingim kamu, Suamiku. Aku nggak akan ninggalin kamu, walau sejangkah pun!" ucap Yunda tak kalah serius.
"Izinkan aku menunaikan kewajibanku sebagai suami, Honey," pinta Richard, suaranya terdengar serak sebab ia memang sedang menahan hasrat.
"Tentu saja, kenapa tidak? Aku milikmu, Suamiku," jawab Yunda.
Kini tak ada lagi yang bisa menghalangi mereka untuk mewujudkan rasa yang telah terpatri di dalam hati.
Richard dan Yunda, mereka saling mencintai. Hubungan mereka juga telah terikat dalam ikatan suci pernikahan. Halal bagi mereka untuk mewujudkan rasa itu. Lalu apa lagi yang mereka tunggu. Selain merealisasikan apa yang mereka inginkan.
Sayangnya kebahagiaan Richard menjadi kemurkaan untuk seorang Chelsea. Apa lagi ia mendengar orang suruhannya tidak mempan menggertak Richard. Bahkan mereka kalah dan sekarang tunduk dengan geng yang dibentuk oleh putranya itu.
"Sial! Berani sekali dia melawanku!" ucap Chelsea kesal.
Tanpa suaminya tahu, ternyata Chelsea telah memesan racun untuk memisahkan putra dan menantu yang tak ia inginkan kebersamaan mereka itu.
Chelsea sudah berjanji, selama ia masih hidup, maka haram baginya menganggap Yunda sebagai menantu.
Orang miskin seperti Yunda dan keluarganya harus ia hanguskan. Jika tidak, maka setiap tujuannya tidak akan berjalan sesuai apa yang dia inginkan.
"Ini barang yang Anda inginkan, Nyonya," ucap seorang pria berjaket hitam.
Chelsea cepat-cepat memasukkan barang tersebut ke dalam tasnya. Lalu menyerahkan segepok uang yang ia masukkan ke dalam amplop kepada pria tersebut.
"Senang bekerja sama dengan anda, Nyonya!" ucap pria itu seraya melangkah meninggalkan Chelsea sendiri.
"Hemmmm... " jawab Chelsea. Tak ingin transaksi ini di baca oleh orang-orang di sekitarnya, Chelsea pun langsung melangkah meninggalkan restoran tersebut.
Dengan hati senang, wanita paruh baya ini pun langsung berniat meluncur ke rumah Richard.
Bersambung...