
Semalam suntuk Yunda begadang menjaga sahabat kecilnya. Sedangkan Richard memilih melepaskan penat yang ada. Membaringkan tubuh lelahnya di sofa. Yunda tidak keberatan dengan itu. Ia memaklumi itu. Ia tahu jika Richard pasti lelah. Mau bagaimanapun Richard juga manusia biasa. Ia butuh istirahat, bukankah begitu?
Untuk Richard sendiri, awalnya ia hanya ingin memejamkan mata sebentar. Tetapi kantuk malah menyerang. Tanpa sengaja ia pun tertidur hingga pagi menjelang.
Suara alarm di ponselnya, membangunkan Richard. Pria ini sedikit terkejut dengan adanya seorang perempuan di kamar sang putra. Terlebih saat ini, perempuan itu sedang bercanda gurau dengan putra semata wayangnya.
Sedetik kemudian, ia pun teringat bahwa gadis itu memang sengaja ia panggil untuk menemani Xavi.
Richard beranjak dari sofa, lalu mendekati sang putra yang saat ini sedang disuapi bubur oleh Yunda.
"Good morning, Honey," sapa Richard, sembari melirik Yunda sekilas. Pun dengan Yunda, gadis itu juga membalas lirikan itu. Sekilas, sama seperti Richard.
"Morning too, Papi," jawab Xavi.
Richard mencium pipi sang putra. Richard terkejut karena suhu tubuh Xavi sudah kembali normal. Bukan hanya itu, aroma Xavi juga harum. Lebih harum dari biasanya.
"Hemmm, kamu harum sekali, Sayang. Apa kamu mandi?" tanya Richard.
"Tidak, Pi... hanya lap-lap dan gosok gigi," jawab Xavi jujur.
Richard mencium kembali pipi Xavi. Sepertinya ia sangat menyukai aroma itu.
"Apa kau pakai parfum?" tanya Richard, penasaran dengan aroma wangi yang keluar dari tubuh Xavi.
"No, Papi. Ini minyak telon. Apakah baunya enak?"
"Ya, enak. Papi menyukainya," jawab Richard, kembali ia menciumi pipi Xavi. Sampai Yunda menghentikan aktivitasnya menyuapi bocah itu.
"Oiya, gimana perasaanmu hari ini? Apa senang? Badannya masih ada yang sakit nggak? Kepalanya masih pusing hemm? Tenggorokannya gimana?" tanya Richard beruntung.
"Xavi oke, Papi. Hanya sedikit sakit di sini," ucap bocah tampan ini sembari menunjukkan tenggorokannya.
"Baiklah, makan yang banyak ya. Biar cepet sembuh," ucap Richard.
"Oke, Papi. Tapi... " Xavi menarik lengan sang ayah. Lalu membisikkan sesuatu, "Sebaiknya Papi mandi and gosok gigi, Papi bau sekali. Malu sama pacar Xavi, Pi."
Richard langsung menjauhkan tubuhnya. Menatap Xavi dengan tatapan aneh.
"Pacar? Siapa pacarmu?" tanya Richard, bingung.
"Hah? Kok bisa. Kau masih kecil. Kenapa bahas pacar-pacar. Memang pacar apaan?"
"Pacar itu, boy and girl temenan Papi, seperti ini," jawab Xavi sembari menarik tangan Yunda dan memeluknya.
Richard mengangguk-anggukkan kepala. Namun dalam hati, ia berencana menghakimi Yunda setelah ini. Karena ia menganggap, Yunda mengajarkan hal yang tidak baik untuk sang putra.
"Sebaiknya selesaikan makanmu dan jangan pikirkan soal pacaran. Ingat, kamu masih kecil, belum boleh mikir begituan. Mengerti!" ucap Richard.
"Kenapa, Papi. Apa Papi cemburu?"
"No... apa lagi itu cemburu. Ahh.. sebaiknya kamu jangan bikin Papi pusing. Cepat makan dan minum obat supaya cepat sembuh. Dan kamu, jangan ajari putraku macam-macam, atau ku getok kepalamu. Paham!" ucap Richard sembari mempraktikkan ingin memukul kepala Yunda.
Spontan, Yunda menghindar. Merapikan hijabnya dan memilih diam. Namun, bohong kalo dalam hati dia tidak ngedumel. Ya, Yunda ngedumel. Menggerutu kesal. Bagaimana tidak? Richard asal tuduh.
"Aku mandi dulu. Jagain putraku. Awas kalo dia kenapa-napa?" ancam Richard.
Lagi-lagi Yunda hanya diam. Bukan tak bisa membalas ancaman itu. Hanya saja, ia menjaga sikap. Agar tidak kelewatan melawan Richard. Bukan hanya itu, ia juga tak ingin pertengkaran mereka dilihat langsung oleh Xavi. Yang artinya ia tidak akan memberikan contoh buruk untuk bocah itu.
Namun tidak dengan Richard, pria dewasa ini malah tertawa di kamar mandi melihat kediaman Yunda. Entahlah, ia hanya merasa bahwa Yunda menggemaskan dan wajib ia tindas. Richard juga senang, akhirnya bisa menemukan seseorang yang bisa ia andalkan untuk menjaga sang putra.
***
Di lain pihak...
Atas permintaan Veronica, kedua orang Richard langsung mencari tiket untuk menemui sang putra. Mereka ingin membujuk Richard. Agar mau membagi waktu dengan Veronica soal putra semata wayang mereka. Mereka juga ingin, Richard memaafkan Vero dan kembali memperbaiki pernikahan mereka.
"Mami yakin, Richard mau dengerin kita?" tanya Giovan, ayah Richard.
"Mau, pasti mau. Nanti mami yang ngomong. Dia pasti mau," jawab Chelsea, ibu Richard.
"Sebenarnya Papi kurang setuju jika Richard kembali dengan wanita itu. Kita sama-sama tau Mi. Kalo Vero bukan wanita baik-baik. Apa nggak sebaiknya kita carikan wanita yang lebih baik dari Vero, Mi!" usul Giovan.
"Ya nggak lah, Pi. Mami bukan hanya berpikir baiknya untuk Richard, tapi untuk Xavi. Mami nggak mau Xavi punya ibu tiri. Kebaikan ibu kandung tidak akan bisa menandingi kebaikan ibu kandung. Asal Papi tau itu," jawab Chelsea penuh percaya diri.
Bersambung....