
Richard menatap tajam jalanan yang ada di depan matanya. Sengaja ia membawa mobilnya sendirinya karena ia ingin menghabiskan waktu bersama anak dan calon istrinya.
Tak ada perbincangan di sana. Yunda tak berani mengajak Richard untuk bercengkrama. Richard terlihat sangat menyeramkan baginya.
Entahlah, sejak ia tahu bagaimana kehidupan sesungguhnya seorang Richard, terus terang, ini membuat Yunda sedikit kurang nyaman.
Namun, Yunda tak bisa mundur. pada kenyataannya, ia tak bisa mengecewakan pria itu.
Bukankah arti dari membuat Richard kecewa adalah mati. Yunda tidak ingin mati begitu saja. Setidaknya dia bisa tetap bertahan untuk Xavi. Untuk sahabat kecilnya itu.
Suasana di mobil saat ini bisa di katakan cukup mencekam. Yunda sendiri masih belum berani mengeluarkan satu kata pun untuk mengajak Richard bercengkrama.
Suasana terasa sepi, apa lagi ketika menengok ke belakang, Xavi telah terlelap sembari memeluk guling panda kesayangannya.
Sepertinya Richard paham dengan kondisi hati kekasihnya. Tak ingin membuat smga kekasih merasa tertekan, Richard pun bertanya. "Kamu mau makan apa? Kenapa wajahmu tegang begitu?" tanya Richard tiba-tiba memecah keheningan di antara mereka.
"Tidak, aku belum lapar. Sebaiknya kita pulang, biar aku memasak untukmu dan Xavi. Gimana?" balas Yunda.
"Tidak, aku mau makan di luar saja. Kita juga harus pergi suatu tempat," jawab Richard santai.
"Pergi ke suatu tempat? Ke mana?"
"Satu jam lagi kita harus ke sampai di KUA. Kita sudah ditunggu di sana." Richard masih terlihat fokus dengan jalanan yang ada di depannya.
”KUA, ngapain? Ngapain kita ke KUA?" tanya Yunda bingung.
"Kita menikah. Kita menikah hari ini," jawab Richard, lagi-lagi dengan nada suara super santai. Membuat Yunda bingung di buatnya.
"Sebentar? Ini kita seriusan mau menikah sekarang? Ibuku belum merestui hubungan kita loh. Sayang, kamu jangan ngarang deh. Jangan bikin aku bingung. Oke!" pinta Yunda memohon.
"Tidak, siapa bilang aku ngarang. Kita memang mau nikah kok. Ibu, adek sama paman bibimu udah nungguin kita di sana. Kita memang mau nikah sekarang," jawab Richard lagi, membuat Yunda semakin bingung.
"Sayang, please... menikah nggak semudah itu. Kita harus menyiapkan segala keperluan. Harus ngurus surat ini itu. Iya sih aku memang belum pernah punya pengalaman menikah, tapi setahuku begitu. Butuh waktu berbulan-bulan untuk mengurus itu semua," jawab Yunda, sesuai pengalamannya selama ini.
Richard malah tersenyum mendengar jawab super lugu calon istrinya.
"Jangan senyum-senyum gitu ah. Aku serius, Sayang!" ucap Yunda kesal.
"Nggak sih, mana mungkin aku berani meremehkanmu. Tapi biasanya kalo orang menikah itu ya begitu, Yang. Nggak semudah membalikkan telapak tangan," jawab Yunda lagi.
"Siapa bilang? Kamu lihat ya, habis ini kita pasti nikah. Awas kalo kamu mundur. Kamu sudah janji kan mau nikah sama aku. Mau jadi ibu dari Xavi," ucap Richard mengingatkan.
"Iya, aku memang menyetujui itu. Tapi sekilat ini, rasanya impossible," balas Yunda masih tak percaya dengan ucapan Richard.
"Aku nggak ngarang, Yunda. Aku serius. Keluargamu sudah ada di sana semua. Bahkan Pak Sam juga udah urus semuanya buat kita. Nanti awas aja kalo kamu sampai nolak. Aku hukum kamu," ucap Richard lagi-lagi mengancam.
Yunda tak kuasa menjawab apapun. Sebab ia kau, sesuatu yang tidak mungkin baginya, bisa saja mungkin untuk seorang Richard.
Pria itu memiliki uang. Memiliki kekuasaan. Bukankah untuk mewujudkan pernikahan impian yang ia inginkan sangat mudah. Bukankah begitu?
Sungguh, di detik ini Yunda sama sekali tidak menyangka, bahwa Richard akan membawanya masuk dalam kehidupan baru. Kehidupan baru yang diimpikan setiap gadis sepertinya. Tetapi, apakah bisa secepat ini. Hanya Richard yang tau.
***
Di kantor Urusan Agama...
Benar yang dikatakan Richard, bahwa saat ini keluarga besar Yunda sedang menunggu kedatangan dirinya dan juga sang calon suami.
Mereka sengaja di bawa ke sana terlebih dahulu oleh Pak Sam dan para ajudan Richard. Tentu saja atas permintaan beliau.
Richard tidak ingin, Yunda akan kembali di paksa menikah dengan anak rentenir itu.
Demi menyelamatkannya hubungannya dengan Yunda, Richard pun memutuskan untuk menikah segera dengan kekasihnya itu.
Ibunda Yunda sendiri tak punya pilihan. Nyatanya ancaman Richard dengan ancaman calon besannya itu, lebih menakutkan ancaman Richard.
Ancaman Richard dinilai lebih memiliki power di banding ancaman rentenir itu.
Hutang keluarga Yunda sudah di bayar lunas oleh Richard. Kemudian, pria itu juga meminta pada rentenir tersebut agar jangan sampai mengusik ketenangan keluarga Yunda. Jika tidak maka Richard tak akan segan-segan memenggal kepala mereka.
Tak ada pilihan lain, keluarga rentenir tersebut pun kalang kabut. Dan akhirnya menyerah tanpa perlawanan pada anak buah Richard.
Bersambung...