Om Duda I Love You

Om Duda I Love You
Sidang



Siang itu, entah mengapa Richard merasa tubuhnya sangat lelah. Rasanya tak sanggup lagi ia bekerja.


Keringat dingin mengucur begitu saja dari keningnya. Bukan hanya itu, ia juga merasakan mual yang tak tertahankan.


Tak tahan dengan kondisi tersebut, Richard pun memutuskan untuk pulang.


Sayangnya, sesampainya di rumah, Richard mendapati rumah sepi.


Xavi dan ketiga ajudannya tidak ada di rumah. Tentu saja kondisi ini membuat Richard naik pitam.


Menurutnya Xavi nakal. Berani pergi tanpa seizinnya.


Kesal, ia pun segera memanggil seluruh orang rumah dan menyidang mereka detik itu juga. Jujur ia takut, Xavi dibawa oleh pergi Veronica.


"Di mana putraku?" tanya Richard dengan tatapan tajam ke arah seluruh orang yang kini ada di depan matanya.


"Maaf, Tuan... kami tidak tahu!" ucap kepala pelayanan di sana.


"Kamu adalah kepala pelayan di sini. Yang artinya aku menggajimu untuk meng-handle apapun yang ada di rumah ini Termasuk keberadaan putraku. Aku tidak mau tau, pokoknya aku mau, lima menit dari sekarang, Xavi harus ada di depan mataku. Kerjakan!" bentak Richard.


Spontan, hampir lima orang yang ada di depan Richard langsung kocar-kacir entah ke mana.


Ada yang langsung menghubungi ajudan Xavi. Ada juga yang berdoa sambil gemetaran. Yang jelas mereka harus segera pergi dari hadapan Richard. Jika tidak, kepala mereka yang akan jadi taruhannya.


Lima menit berlalu, Xavi tak kunjung ada di depan matanya. Tak ayal, Richard pun kembali menunjukkan taringnya.


"Ke sini kalian!" teriak Richard.


Para pekerjanya itu pun langsung lari mendekatinya.


"Mana putraku?" tanya Richard.


"Maaf, Tuan... Pak Sam bilang, mereka sedang dalam perjalanan pulang. Sayangnya terjebak macet," jawab Pak Kepala Pelayanan.


Richard menghentikan pijatan kepalanya. Lalu membuka mata dan kembali menatap para pegawainya itu dengan tatapan tajam.


"Aku tidak mau tau. Aku mau dia ada di depanku sekarang juga. Bukan bagaimana dia sekarang! Paham!" jawab Richard, masih dengan emosi yang tak terkendali.


Tak satupun di antara mereka berani menjawab. Sebab tatapan yang ditunjukkan oleh Richard bukan tatapan bisa. Tetapi tatapan penuh napsu. Napsu untuk membunuh.


Saat ini, detik ini, tak ada satupun di antara mereka diizinkan pergi dari ruang tamu itu sebelum Xavi datang.


Richard sengaja ingin menghukum mereka. Karena lalai menjalankan tugas.


Satu jam berlalu, akhirnya Xavi dan ketiga ajudannya pun sampai di rumah. Dengan langkah gemetar, mereka pun mendekati Richard.


"Papi, i am sorry," ucap Xavi ketika melihat sang ayah menatapnya dengan tatapan marah.


"Dari mana kamu?" tanya Richard, masih dengan nada rendah.


"Xavi main ke tempat kak Yunda, Papi!" jawab bocah tampan itu, jujur.


Jujur ada kelegaan di dalam hati Richard. Sang putra main di tempat gadis itu. Bukan bertemu dengan mantan istrinya.


Namun begitu, dengan tidak meminta izin darinya, ini juga membuat seorang Richard tersulut emosi.


"Kenapa tidak izin?" tanya Richard.


"Sorry, Papi. Xavi takut. Takut Papi tidak izin," jawab bocah itu lagi.


"Xavi buka penipu, Papi. Xavi hanya main Papi, tapi tak izin!" Xavi menatap papinya sekilas. Lalu kembali menundukkan kepala karena takut.


"Lalu apa sebutan dari seseorang yang pergi tanpa meminta izin terlebih dahulu? Apakah bisa disamakan dengan pencuri?"


"Tidak, Papi. Xavi juga buka pencuri. Xavi hanya main tak izin!"


"Oke, kenakalanmu memang tidak bisa Papi sebut dengan dua sebutan itu. Tapi Papi marah, karena Xavi tidak menghargai Papi sebagai orang tua," jawab Richard, serius.


"Xavi sorry, Papi. Sorry... Xavi janji tidak akan mengulanginya lagi," jawab Xavi takut.


" Papi tidak percaya."


"Xavi serius, Papi!"


Richard menatap sekilas pada sang putra. Lalu ia menghentikan aksinya menghakimi sang putra. Namun tatapan tajam tidak mereda di situ. Dengan emosi yang memuncak, Richard pun mendekati ketiga ajudan itu.


"Kemasi barang kalian, dan jangan pernah tunjukkan wajahnya kalian di hadapanku lagi. Kalian dipecat!" ucap Richard, tegas.


"Maafkan kami, Tuan. Kami hanya ingin membuat Tuan Muda senang," jawab Salah satu satu mereka.


"Senang kalian bilang! tapi tidak memikirkan kesehatan dan keselamatan putraku. Hanya kesenangan saja, astaga! Tanpa kalian ikut memikirkan itu, aku juga sudah berpikir seribu kali untuk membuat putraku senang. Kalian tidak perlu risaukan itu," jawab Richard emosi.


"Maafkan kami, Tuan! Bukan kami membela Tuan Muda Xavi dan gadis penculik itu. Tetapi persahabatan mereka sungguh tulus, Tuan. Demi Tuhan, kami bertiga adalah saksianya," jawab Pak Sam, salah satu ajudan yang dipercaya untuk menjaga Xavi selama ini.


"Aku tidak peduli... paham! Yang aku inginkan, dia pergi dengan seizin ku. Siapa di sini orang tuanya, aku kan! Jadi jangan membantah ku. Aku yang berhak mengambil keputusan. Jangan kalian bermain menggurui ku. Aku tak butuh itu. Sekarang kemasi barang kalian. Silakan kalian keluar dari rumah ini. Kalian dipecat!"jawab Richard lagi. Emosi, enggan memberi toleransi.


Tentu saja keputusan ini membuat Xavi sedih. Dengan cepat, bocah tampan ini pun segera bersujud di kaki sangat ayah dan meminta pria itu memaafkan ajudannya.


"Papi, Xavi mohon. Jangan pecat mereka. Hukumlah Xavi, Pi. Xavi yang ajak mereka. Xavi yang rayu mereka. Xavi yang ancam mereka, Pi. Xavi Sorry, Pi!" ucap bocah tampan ini dalam tangisnya.


Richard menghentikan langkahnya. Lalu ia pun menatap tubuh mungil yang kini sedang bersimpuh di hadapannya itu. Richard menatapnya dengan tatapan memelas. Keadaan ini pun langsung di manfaat oleh Richard untuk memberikan peringatan pada sang putra.


"Kamu serius dengan ucapanmu? Kamu ingin menerima hukuman atas kesalahan mereka?" tanya Richard cerdas.


"Yes, Papi. Asal jangan pecat mereka. Mereka baik, Papi. Please!" ucap Xavi memohon.


"Oke! Papi memaafkan mereka. Asal Xavi berjanji tidak akan keluar dari rumah tanpa izin dari Papi!" punya Richard.


"Oke, Papi... Xavi siap!"


"Tidak boleh pergi menemui gadis itu lagi Papi tidak suka!"


"Oke, Papi!"


"Selama seminggu ini, jangan keluar kamar tanpa izin dari Papi! "


"Oke, Papi! "


"Bagus! Ini adalah konsekuensi yang harus kamu Terima. Jika kamu merani melanggarnya maka jangan pernah berharap bisa bertemu lagi dengan mereka, paham!" ucap Richard lagi.


Xavi hanya menunduk. Mengiyakan apa yang papinya katakan. Xavi tak punya pilihan lain. Ini adalah jalan terbaik agar ketiga pria yang selama ini ada di sampingnya tidak pergi meninggalkannya. Meninggalkannya seperti ibu yang ia rindukan selama ini.


Xavi masuk ke dalam kamarnya dengan langkah gontai. Bagaimana tidak? Sejak detik ini berjalan, artinya ia sudah tidak boleh bertemu dengan sahabatnya itu, tanpa izin dari sang ayah. Sedangkan Xavi tau, meminta izin dari sang ayah tidak semudah itu. Xavi merinding sedih.


Bersambung...


Maafkan jika masih ada Typo... sambil nunggu up kalian bisa baca karya emak yang lain 🥰Makasih😍