
Sapri dan Pindu tidak bisa menghalangi langkah pak bos mereka untuk masuk ke dalam ruangan Xavi di rawat.
Namun, mereka tetap berdoa. Semoga setelah melihat itu, hati pak bos mereka terketuk. Terketuk oleh kebaikan nona penculik itu dan tetap mengizinkan mereka bertemu. Toh nona penculik itu baik, tidak memanfaatkan apapun yang dimiliki oleh Xavi.
Jantung keduanya berdetak sangat kecang. Terlebih saat bos mereka melangkahkan kaki ke dalam.
Bukan hanya mereka yang berdebar. Nyatanya jantung sang bos pun ikutan terasa tertampar.
Bagaimana tidak?
Gadis yang ia larang menemui buah hatinya, ternyata ada di dalam. Sedang menyuapi dan bercanda gurau dengan bocah tersebut.
Di sini bukan hanya kedua ajudan dan bos mereka yang tegang.
Melihat kedatangan pria bertubuh tinggi itu, seketika Yunda pun menghentikan suapannya. Sedangkan Xavi, bocah tampan itu juga menghentikan kunyahannya. Mereka berdua sama-sama menunduk. Takut menatap pria yang yang saat ini sedang berjalan ke arahnya.
Richard tahu, pasti mereka berdua sedang tegang. Untuk mencairkan suasana, Richard pun mendekati buah hatinya tersebut. Bertanya selembut mungkin. Agar Xavi tidak stres dan sakit lagi.
"Selamat sore, Sayang. Papi ada bawain roti kesukaan kamu. Kamu mau?" tanya Xavi lembut. Tapi tatapan matanya tak lepas dari seorang gadis berhijab biru tua itu.
"Mau, Pi. Tapi Xavi masih makan," jawab bocah tampan ini. Masih dengan perasaan takut.
"Oke, habiskan makanan kamu. Setelah itu Papi pinjam sahabatmu ini ya. Sepertinya dia perlu Papi meluruskan sesuatu dengannya," ucap Richard, masih dengan nada dingin nan mengancam.
"Tapi, Pi... Xavi yang minta Kak Yunda datang. Harusnya Papi marah sama Xavi. Bukan Kak Yunda," balas bocah tamoan ini.
"Kamu nggak perlu khawatir soal itu, Sayang. Papi nggak akan marah kok sama gadis kurus ini. Papi hanya mau kasih sedikit peringatan. Soal kamu, setelah kamu sembuh nanti, kamu juga bakalan dapat giliran. Kamu paham kan maksud, Papi?"
Xavi diam. Namun air matanyanya meleleh. Sedih rasanya. Bagaimana tidak? Ia sangat tahu arti dari ucapan papinya itu.
Xavi tahu, jika papinya kali ini sangat marah dan kemungkinan memecat ketiga ajudannya itu tak mungkin bisa Xavi hentikan. Ya, Xavi takut... takut kehilangan mereka berempat.
"Kenapa diam? Suapin putraku? Tunggu apa lagi?" ucap Richard, masih dengan tatapan dingin nan mengancam.
Yunda tak menjawab. Ia pun kembali menyuapi Xavi. Melayani bocah. Menghapus air mata sahabatnya ini. Tak lupa ia juga melirik Richy dengan lirikan mengancam. Tentu saja Yunda tak terima. Tekanan batin yang diberikan Richard pada sahabatnya ini ia nilai keterlaluan.
Sepuluh menit berlalu, Yunda sudah selesai merawat Xavi. Bahkan bocah itu sudah meminum obatnya tanpa rewel, ganti baju tanpa drama. Membuat Richard sangat heran dengan itu.
Namun, kebaikan dan kelembutan Yunda pada sangat putra tidaklah berarti untuk Richard. Menurutnya apa yang dilakukan Yunda saat ini, pasti memiliki maksud terselubung. Pasti memiliki niat agar mendapatkan imbalan darinya. Ya, seperti itulah yang dipikirkan Richard atas kebaikan Yunda pada putranya.
Selesai merawat dan merapikan barang-barang Xavi, Yunda pun mendekati Richard. Duduk di sebelah pria itu. Karena Richard memintanya duduk di situ.
Bohong jika dia tidak gemetar. Tapi mau bagaimana lagi? Dia juga salah di sini. Menemui Xavi tanpa meminta izin dari orang tuanya.
"Maafkan saya, Om," ucap Yunda.
Richard tersenyum sinis. Karena kalimat pertama yang terlontar dari bibir Yunda, baginya itu adalah bentuk kekalahan dan penyerahan diri gadis itu.
Tak ingin perdebatan mereka didengar oleh Xavi, Richard pun mengajak Yunda keluar kamar dan berbincang di taman rumah sakit tersebut.
Kini, mereka sudah berada di taman. Duduk di bangku yang sama. Di temani oleh semilir angin yang sejuk.
"Kau tau, kenapa aku mengajakmu ke sini?" tanya Richard, membuka obrolan.
"Maafkan saya, Om. Sungguh saya tidak ada niat melawan anda."
"Kenapa minta maaf? Bukankah kamu merasa ikut memilikinya?"
"Maaf, Om. Tidak seperti itu. Kami hanya bersahabat dan saya ke sini sebagai bentuk kepedulian seorang sahabat. Demi Tuhan, di hati saya tidak ada maksu lain. Tolong jangan hakimi persahabatan kami," punya Yunda, lembut.
Richard tersenyum sinis. Baginya, ucapan Yunda hanya sebuah kata-kata, tak memiliki ketuluso seperti yang ia ucapkan.
"Kalo kamu sayang ama dia, kenapa kamu nggak jauhi dia?" pancing Richard.
"Saya tidak mengerti dengan anda, Om. Namanya sayang masak menjauhi. Apa lagi dalam keadaan sakit seperti ini. Astaga! Anda ini kenapa?" tanya Yunda aneh.
"Kamu pandai sekali berkata-kata, apakah ini cara orang tuamu mendidikmu?"
"Maafkan saya, Om. Yang bermasalah di sini adalah saya. Sebaiknya anda tidak perlu membawa orang tua saya. Saya tidak suka," jawab Yunda.
Richard kembali tersenyum sinis. Baginya, orang rendahan seperti Yunda, mana mungkin punyahargiei. Mana mungkin punya ketulusan tanpa pamrih.
"Oke, sorry... mungkin aku salah berucap. Sekarang katakan padaku. Berapa uang yang kamu inginkan darimu. Untuk membayar waktu dan tenagamu karena sudah merawat putraku. Aku harap setelah ini jangan temui dia lagi. Aku tidak suka. Atau aku akan membawa ini ke jalur hukum?" ucap Richard tegas.
Yunda membalikkan tubuhnya. Kali ini menatap Richard dengan tatapan berani.
"Kenapa kamu menatapku begitu? Kamu menantang ku?"
"Ya, saya menantang anda. Menantang orang Kaku dan tak punya hati seperti anda. Saya benci anda. Asal anda tau itu!" jawab Yunda berani.
"Kamu membenciku atau tidak, aku tidak peduli Yang terpenting bagiku adalah menyelamatkan putraku dari pengaruh buruk gadis-gadis mata duaitan sepertimu. Pahan!" jawab Richard, tegas.
"Astaga Om, kasihan sekali hidup anda. Biarpun saya terlahir dari keluarga miskin, saya tidak pernah menghitung ketulusan dengan uang. Asal anda tahu itu."
"Benarkah? Lalu apa tujuan mu mendekati putraku?"
"Sudah saya bilang, saya dan tuan muda, kami berteman. Kami bersahabat. Itu saja. Tidak ada niat lain. Kalo anda menilai saya hanya memanfaatkan tuan muda, tolong kasih tahu saya, bagian mana saya memanfaatkannya. Anda jangan shock, saya dan tuan muda, kami sudah berjanji akan tetap berteman. Sampai kapanpun. Terserah anda mau kasih kami izin atau tidak. Yang jelas kami akan tetap berteman," jawab Yunda berani.
"Ini yang aku tak suka dari gadis miskin sepertimu. Pandai sekali melawan. Apa jadinya putraku kalo setiap hari berkawan denganmu?"
"Astaga, Om! Aku nggak akan membawa pengaruh buruk untuk Xavi. Percayalah!" ucap Yunda memohon.
Sayangnya Richard tak percaya dengan ucapan gadis itu. Baginya niat Yunda tetap sama. Mendekati putranya hanya ingin imbalan darinya. Tidak lebih dan tidak kurang.
Bersambung....
sambil nunggu update, kalian bisa cus ke karya emak yang lain🥰🥰🥰