
Tanpa berpikir panjang, Richard pun merapikan barang-barangnya dan melangkah meninggalkan kantor yang ia besarkan selama ini.
Baginya, harta yang ia kelola selama ini tidak lebih hanya sebuah titipan. Maka ia harus siap kapanpun sang pemilik akan mengambilnya.
Seperti saat ini, ibu dan ayahnya sudah menjatuhkan titah. Maka mau tidak mau, Richard pun berkemas dan meninggalkan tempat ini.
"Richard, kau gila... kenapa kau lebih memilih wanita ****** itu dari pada semua harta ini, ha?" teriak Chelsea marah.
Richard menghentikan langkah, lalu melawan ucapan ibunya, "Mi.... selama ini Richard sudah cukup diam. Cukup sudah kalian menjadikan Richard sebagai bahan percobaan. Bukan hanya kehidupan pribadi Richard. Bahkan untuk perusahaan ini pun sama. Richard lelah Mi. Richard ingin istirahat. Terserah, Mami mau setuju atau tidak, Richard akan tetap menikah dengan Yunda. Karena dialah wanita yang bisa mengerti Richard. Karena dialah wanita yang bisa menjadi ibu untuk Xavier. Jadi, sekali lagi, tolong jangan ikut campur masalah pribadi Richard lagi. Mami ingin perusahaan ini kembali kan, maka ambil. Richard nggak butuh, Mi!"
Richard tak ingin terus berdebat dengan ibunya dan malah melukai perasaan wanita itu.
Sesak memang. Ingin rasanya ia mengeluarkan segala kegelisahan yang ia pendam selama ini. Namun, sebagai anak, rasanya tak pantas.
Untuk menghindari pertengkaran yang mungkin akan menyakiti hati kedua orang tuanya. Makan Richard pun memilih untuk menghindar.
Sayangnya, ketika Richard keluar dari pintu ruangannya, terlihat Yunda dan Xavier tertegun melihatnya.
"Hay, kapan kalian datang?" tanya Richard lembut.
"Belum lama kok," jawab Yunda, padahal ia dan Xavier mendengar setiap kata dari pertengkaran Richard dan kedua orang tuanya.
"Oke, sebaiknya kita pergi dari sini. Di sini tak aman buat kalian!" ajak Richard.
Tak ingin membuat sang kekasih bertambah Tertekan, Yunda pun mengikuti apa yang Ricu katakan.
Sembari menggandeng Xavi, Yunda juga menerima uluran tangan kekasihnya. Lalu mereka sama-sama masuk ke dalam lift untuk meninggalkan gedung ini.
Di dalam ruang kerja Richard...
Chelsea marah besar karena putra semata wayangnya lebih memilih wanita yang tak ia restui itu dari pada semua harta yang ia miliki.
Kini, wanita paruh baya ini tampak kesal. Dan ingin sekali memberi pelajaran Yunda. Agar gadis itu tau diri..
"Cepat suruh orang untuk menyeret gadis itu ke hadapanku, Pi. Aku ingin memberinya pelajaran!" pinta Chelsea dengan nada marah.
"Astaga, Mi... sebenarnya yang toxic ni, Mami loh. Apa nggak cukup dengan kepergian Richard, sekarang Mami mau tambah masalah lagi. Ayolah, Mi. Sampai kapan Mami akan egois seperti ini ha?" tanya Pak Giovan.
"Papi ini gimana sih? Sebenarnya Papi ini ada di pihak Mami atau di pihak gadis jal*ng itu?" cecar Ibu Chelsea marah.
"Mi.. kita ini sudah tua. Harusnya kita bisa menekan sedikit ambisi. Sekarang Papi tanya, apa istimewanya Vero? Dia itu wanita kotor tukang selingkuh, Mi. Masak ita kita paksa anak kita buat berumah tangga sama jal*ng, yang bener saja mami ini," ucap Pak Giovan kesal.
"Terserah apa kata, Papi. Yang jelas Mami nggak setuju kalo Ricu sampai menikah dengan gadis kampung itu. Lihat saja penampilannya, nggak banget dengan kasta kita, Pi. Ngerti nggak sih. Kita ini orang terpandang, masa iya nanti Mami kenalin ke temen-temen Mami kalo mantu kita model begitu. Ihhh.... nggak banget, Pi!" jawab Chelsea egois.
"Terserah, Mami... yang jelas, Papi nggak setuju dengan keegoisan, Mami. Mami keterlaluan. Sudah, urus saja sendiri. Papi mau balik ke Australia. Papi muak dengan sandiwara nggak guna ini. Ingat ya, Mi... kalo sampai Richard dan Xavi kenapa-napa, Maka Mami adalah orang pertama yang akan Papi mintai pertanggungjawaban. Paham!" jawab Pak Giovan tegas.
Terang saja, ucapan itu sukses membuat seorang Chelsea naik darah. Baginya sang suami sangat tidak mendukungnya. Justru pria itu malah mendukung pilihan putranya, yang menurutnya Nggak banget itu.
"Terserah, Papi.. yang penting, Mami mau, Richard tetap sama Vero. Wanita berkelas pilihan Mami!" balas Chelsea tak mau kalah.
Pak Giovan diam, ia pun memilih meminta sopirnya untuk datang dan menjemputnya. Ia malah berdebat dengan wanita keras kepala seperti istrinya ini.
Bersambung...