
Yunda merapikan selimut Xavi. Setelah itu ia merapikan barang-barangnya sendiri. Bersiap untuk pulang.
"Om, Yunda pulang dulu ya. Soalnya Yunda mesti ke apotik buat nyari obat untuk ibu," jawab Yunda seraya memakai tas punggungnya.
Richard berdiri lalu mengeluarkan beberapa lembar uang untuk Yunda.
"Ini kamu pakai buat beli obat untuk ibumu. Sekalian buat gantiin uang kamu yang kamu pakek buat beli barang-barang Xavi. Makasih banyak kamu udah mau bantu aku buat jaga Xavi. Makasih kamu udah meluangkan waktumu buat kami," ucap Richard seraya menyodorkan lembaran uang itu.
"Aduh Om. Nggak usah. Lagian ini kebanyakan. Tadi saya belanja cuma habis berapa ya, pokoknya nggak nyampek seratus ribu. Udah gitu obat ibu cuma enam puluh ribu. Yunda masih ada kok. Serius," ucap Yunda sambil mendorong tangan kekar Richard.
"Ih... kamu berani sama aku, ha? Berani melawan? Berani menolak?" ancam Richard.
"Astaga, Om. Kenapa sih Om selalu mengancam. Selalu aja. Ckkkk! Ayolah Om, kan kita berteman," ucap Yunda, sedikit manja. Manja ala-ala anak muda pada umumnya. Membuat Richard merasa gemas.
"Berteman kepalamu, usiamu berapa mau berteman denganku. Anak kecil mau berteman orang dewasa. Mana boleh. Cepat ambil, kalo nggak ku lempar kau dari atas sini!" ancam Richard, dengan tatapan serius tentunya.
"Ya Tuhan... kenapa anda selalu kasar pada saya. Saya lelah dikasarin terus, Om! Bolehkah saya pulang saja!" pinta Yunda memelas.
"Kamu boleh pulang, asalkan mau menerima uang ini dulu. Lalu bilang sama Sam, minta padanya untuk mengantarkanmu pulang. Mampir ke apotek buat beli obat ibu mu. Pokoknya mengantarmu ke mana pun kamu pergi. Setelah itu kembali ke sini. Mengerti!" jawab Richard, seakan lupa bahwa Yunda belum menyetujui perjanjian mereka.
"Astaga, Om? Kenapa Om jadi perintah-perintah saya. Saya kan belum menyetujui tawaran kerja sama kita," jawab Yunda, lagi-lagi memelas.
"Kau pikir aku peduli. Cepat laksanakan perintahku atau kau tak boleh bertemu dengan Xavi!" ancam pria itu lagi.
"Ahhh... selalu deh. Dasar Om bule menyebalkan.
Dah lah! mari," jawab Yunda seraya mengambil lembaran uang itu dan memasukkannya ke dalam tas punggungnya. Kemudian ia pun mengulurkan tangan. Meminta restu pada pria yang selalu ia panggil Om itu.
"Mau ngapain ini?" tanya Richard.
"Salim Om, mau pamit pulang," jawab Yunda sembari merajuk.
"Oh, oke... nah!" jawab Richard seraya mengulurkan tangannya. Sungguh Richard ingin tertawa. Ternyata mempermainkan Yunda sangat menyenangkan. Pantas saja Xavi menyukainya.
"Hati-hati... cepat kembali!" ucap Richard memperingatkan.
"Baik, Om! Assalamualaikum!"
Sayangnya, belum sempat Yunda melepaskan pegangan tangan mereka, kedua orang tua Richard masuk tanpa mengetuk pintu.
Kedua orang tua Richard tercengang. Tak menyangka bahwa anaknya bisa bermain hati dengan bocah ingusan. Dan sekarang lihatlah, mereka sedang bermain cium-cium tangan segala.
"Apa yang kalian lakukan?" hardik Chelsea tak suka.
"Tidak, kami tidak melakukan apapun!" jawab Richard malas. Seakan tidak suka dengan kedatangan kedua orang tuanya.
"Mami tidak percaya kalo kalian tidak melakukan apapun. Apa lagi di sini hanya ada kalian berdua, orang dewasa. Jujurlah kalian, apa yang kalian lakukan?" ucap Chelsea lagi, sangat jelas bahwa saat ini ia tak suka dengan apa yang sedang dilakukan oleh Yunda dan Richard.
"Kenapa Mami, bukankah ini wajar untuk orang dewasa. Kami hanya berpegangan tangan," jawab Richard santai. Karena pada kenyataannya mereka hanya berpegangan tangan.
Di pihak Yunda, ia ingin sekali menarik tangannya, sayangnya Richard malah lebih erat menggenggamnya. Bukan hanya itu, Richard juga menarik pinggang Yunda agar gadis itu lebih dekat dengannya.
"Mami tidak suka ini Richard!" teriak wanita paruh baya itu.
"Richard nggak butuh persetujuan dari siapapun untuk menjalin hubungan, Mi. Cukup sudah Mami atur kehidupanku. Aku lelah. Aku mau menentukan sendiri jalan hidupku. Baik pekerjaan, Xavi atau pasangan hidupku. Richard sudah dewasa Mi. Please jangan perlakukan Richard seperti anak kecil terus," jawab Richard tegas. Karena ia yakin kedatangan kedua orang tuanya pasti ada sangkut pautnya dengan mantan istrinya. Richard sangat paham dengan perangai orang tuanya. Mereka berdua tak akan datang tiba-tiba menemuinya jika tidak ada kepentingan atau keuntungan untuk mereka.
"Orang dewasa kau bilang? Ingat Richard sampai kapanpun Mami sama papi nggak akan setuju kamu menikah dengan siapapun selain kembali pada ibu kandung Xavi. Mengerti!" jawab Chelsea tegas.
"Mi... inilah yang aku nggak suka dari kalian. Kalian selalu memaksakan kehendak. Tidak cukupkah perceraian ku dengan Vero menimbulkan luka yang membekas di sini? Haruskah aku belah dadaku dan ku tunjukkan luka itu," jawab Richard tak kalah tegas.
Meski bingung, Yunda berusaha memahami posisi Richard. Itu sebabnya ia tak protes sekalipun saat ini dijadikan tameng oleh pria itu.
"Katakan sama Mami, siapa gadis ini?" tanya Chelsea marah.
"Dia... " Richard menatap Yunda. Begitu pun Yunda. Yunda tahu Richard dilema dan sedang meminta persetujuan darinya. Seakan mengerti, Yunda pun mengedipkan mata. Seperti menyetujui apa yang ada dipikiran Richard saat ini.
"Kenapa kalian saling menatap? Katakan pada Mami, siapa gadis jelek ini?" betak Chelsea kesal.
"Dia tidak jelek, Mami. Dia calon istriku. Calon ibu sambung untuk Xavi," jawab Richard sambil menatap mata Yunda. Begitupun dengan Yunda. Sungguh gadis muda ini tak menyangka bahwa pertengkaran Richard dengan orang tuanya nyatanya menyeretnya pada lubang masalah yang mungkin dia sendiri sulit untuk keluar dari sana.
Bersambung...
Thanks yang masih setia... nantikan crazy up nya😍😍😍