Om Duda I Love You

Om Duda I Love You
Jalani Saja



Berbeda dengan Yunda yang kini selalu salah tingkah di depan Richard. Justru pria dewasa itu malah senang berdekat-dekatan dengan dirinya.


Bercengkrama dengannya.


Sesuai pesan Yunda, kalau ingin menemukan seseorang yang pas, maka ia harus mencari seseorang yang bisa membuatnya nyaman dan baginya, hanya Yunda lah yang bisa membuatnya sangat tenang.


Seperti malam ini...


Yunda sedang menyiapkan seragam dan peralatan sekolah untuk Xavi besok. Tiba-tiba, tanpa diduga, Richard sudah ada di belakangnya. Spontan, Yunda pun terkejut. Bahkan sangat terkejut. Hingga napasnya tersegal.


"Ada apa denganmu? Kenapa kamu gugup? Emangnya ada setan di sini?" tanya Richard.


"Tidak Om, anu.. maafkan saya," jawab Yunda seraya melangkah hendak meninggalkan Richard.


Namun, dengan cepat Richard meraih tangan gadis itu dan melarangnya pergi.


"Mau ke mana?" tanya Richard.


"Itu Om, saya mau ke... itu mau ke dapur. Iya ke dapur. Mau menyiapkan minum dan bekal untuk adek besok," jawab Yunda terbata.


"Itu bisa kamu kerjakan nanti. Sekarang ikut denganku. Temeni aku," pinta Richard seraya menarik tangan Yunda dan membawa gadis itu keluar rumah. Atau lebih tepatnya mengajak gadis itu berjalan keliling komplek.


"Kita mau ke mana Om?" tanya Yunda lugu.


"Enaknya mau ke mana?"


"Lah, dia malah balik nanya. Mana saya tau anda mau ke mana?" Yunda memanyunkan bibirnya. Kesal dengan pria aneh ini.


"Habis kamu cerewet. Cuma di suruh nemenin jalan saja tanya. Pokoknya aku mau jalan, ya udah kita jalan," jawab Richard, pedas. Sama seperti kata yang selalu terlontar dari bibir seksi itu.


"Ya kan aneh Om. Masak babysitter jalan sama bosnya. Nanti disangka orang kita pacaran."


"Kamu ini, selalu saja berpikiran negatif. Lagian siapa yang mau pacaran dengan gadis pendek sepertimu," jawab Richard.


"Tu kan, menghina. Tapi Om jangan salah. Biar pendek begini juga banyak yang ngantri."


"Ngantri ngapain?"


"Mau jadiin mantu. Mau dijadiin istri. Enak aja. Om aja yang nggak tau." Yunda tersenyum bangga.


"Enak saja, kamu milikku tau. Lihat saja kalo ada yang berani mendekatimu, akan ku patahkan tangannya. Paham!"


"Dihhh... posesif nya. Ingat Om, Yunda cuma pengasuh Xavi. Bukan pacar Om. Jadi suka-suka Yunda mau dekat sama siapa pun. Dasar om-om aneh," jawab Yunda tak kalah ketus.


"Om om om om... kamu pikir aku Om kamu apa?" Richard terlihat kesal.


"Habis, Yunda harus panggil apa dong. Paman? Oppa, Honey, Tuan kek Pak Sam atau papi kek Xavi?" canda Yunda sembari terkekeh. Sedangkan Richard hanya tersenyum mendengar itu.


"Yun... "


"Ya Om. Eh tumben panggil nama. Biasanya gini... heh Kamu! gitu... " Yunda tertawa. Dan Tawa itu terdengar indah di telinga Richard. Richard menyukainya.


"Aku serius, Bodoh!" ucap Richard sembari tersenyum.


"Iya, iya, Om mau ngomong apa? Om serius mau tanya apa?" ucap Yunda tanpa curiga sama sekali.


"Jika Tuhan memang menjodohkan kita, kamu malu nggak nikah sama aku?" tanya Richard tiba-tiba.


Sungguh pertanyaan yang tidak bisa Yunda bayangankan. Apa lagi menjawabnya. Ini seperti mimpi. Ya, ini pasti hanya mimpi. Pertanyaan yang tidak ingin ia dengar.


Menikah?


Di usianya yang sekarang?


Oh, no... rasanya tidak mungkin.


Lalu jika menikah, Yunda takut belum bisa menjadi istri yang diidamkan oleh suami. Karena usia dan pola pikirnya yang masih muda.


"Kenapa diam? Kan aku nanya, Yun!"


"Eh, sebentar... tanya apa tadi?" jawab Yunda.


"Bagaimana jika Tuhan memang menjodohkan kita, kamu malu nggak punya suami aku?"


Yunda menatap Richard. Menatap mata pria itu, berani. "Seharusnya yang bertanya seperti itu saya, Om. Kan di sini yang jelek dekil saya, pendek pula. Sedangkan Omnya, tampan, tinggi, kekar, bermata biru, tajir pula. Gadis mana yang sanggup menolak pesonamu, Om. Astaga!"


Richard tersenyum. Rasanya ucapan Yunda seperti sebuah rayuan baginya. Membuat Richard tersipu dibuatnya.


"Kamu mau nggak?" tanya Richard lagi.


"Jodoh itu tak bisa diminta maupun ditolak Om. itu semua rahasia Illahi. Kalo memang Tuhan menghendaki kita berjodoh, Yunda bisa apa. Yang penting Om dan keluarga Om tau, bahwa beginilah Yunda. Yunda nggak punya apa-apa untuk dibanggakan," jawab Yunda jujur.


"Siapa bilang nggak ada yang dibanggakan dari kamu. Kamu cantik, kamu baik, kamu pintar, kamu tulus. Itu yang aku butuhkan dari seorang istri, Yun," jawab Richard.


Yunda melirik pria yang ada di sampingnya. Entahlah, andai tidak malu dan harus menjaga batasan yang ada, mungkin Yunda sudah memeluk pria bermata biru ini. Sangking bahagianya.


Mereka kembali melangkahkan kaki. Dengan hati berbunga seakan sedang diranjau dengan virus asmara.


"Yun."


"Ya!"


"Mulai hari ini, tolong jaga hatimu ya."


"Untuk?"


"Untukku dan Xavi." Richard menatap gadis manis di sampingnya. Ingin rasanya ia mencium kekasih hatinya ini. Hanya saja, Richard tak ingin merusak miliknya ini dengan hal-hal yang tak baik. Ia tetap ingin menjaga Yunda sampai hubungan mereka benar-benar disahkan oleh agama dan hukum.


"Om ini... "


"Kenapa?"


"Hubungan kita nggak dapat restu dari orang tuamu, Om. Bagaimana kita bisa lanjut? Sudahlah... jangan memaksakan. Yunda nggak ingin menyakiti perasaan siapa pun. Yunda siap kok jagain Xavi sampai pangeran kita dapet pengasuh yang baik dan tulus sama dia. Om tak usah khawatirkan itu. Dan untuk Om sendiri, carilah seseorang yang direstui oleh orang tuamu. Agar Om bahagia," ucap Yunda. Terdengar dewasa. Namun menyesakkan untuk Richard.


"Sebenarnya aku malas bahas ini. Tapi kita sudah terlanjur membukanya. Jadi mau nggak mau kita harus perjelas ini."


"Gimana baiknya menurut Om saja. Kalo Yunda pribadi, nggak mau mempermasalahkan itu sih. Apapun yang terjadi pada kita nanti, mari kita hadapi bersama. Yang penting, yang harus Om tau, seburuk apapun kondisi kita nanti. Aku harap kita tetap konsisten menjalani. Karena Yunda tidak bisa mentoleransi sebuah penghianatan," jawab Yunda jujur.


Richard tersenyum. Setidaknya dia dan gadis ini sudah memiliki satu misi. Tidak boleh ada penghianatan dalam sebuah hubungan. Yang artinya, mereka akan tetap setia satu sama lain.


***


Di lain pihak...


Veronica memukul stir mobilnya marah. Dirinya di larang masuk oleh satpam yang menjaga rumah milik mantan suaminya. Bukan hanya itu, wanita ini juga emosi ketika melihat Richard tersenyum dan terlihat sangat bahagia dengan wanita lain.


"Sialan... brengsek kamu Richard!" teriak Vero saat melihat Richard merangkul Yunda.


Hati Veronica tak terima, tak terima dengan itu. Karena ia merasa sudah berubah. Lalu kenapa Richard tak bisa menerima.


"Apa salahnya memaafkan? Dasar egois!" ucap Vero lagi. Tak bisa menerima kenyataan yang saat ini sedang ia hadapi.


Bersambung....


Sambil nunggu Richard and Yunda Update, kalian bisa kepoin karya bestie emak😍😍😍 Stay Tune🥳🥳🥳