
Yunda mondar-mandir di dalam warung miliknya. Membuat sang adik, jadi gerah melihatnya.
"Kakak kenapa sih? mondar-mandir macam gosokkan saja?" tanya Leha, adik kandung Yunda.
"Itu, temen Kakak, katanya mau datang. Kami udah janjian tiga hari yang lalu, katanya hari ini dia mau datang. Tapi kok nggak nyampek-nyampek ya," jawab Yunda.
"Ya nggak tau, coba kakak telpon!"
"Aku nggak punya nomer telponnya. Eh punya sih, tapi hape Kakak... heeemm, nasib!" jawab Yunda melemah, sebab ponsel miliknya sudah tak bisa menyala alias rusak.
"Astaga, Kak... Kakak kan kerja, masak beli ponsel aja nggak mampu."
"Bukan nggak mampu, Beib. Tapi uang sekolah kamu sana obat ibuk jauh lebih penting. Kalo kakak prioritas kan ponsel, mana kakak bisa kasih kamu uang jajan tiap hari," jawab Yunda, lembut.
Bukan bermaksud mengungkit, tapi itulah kenyataannya.
"Maafkan Leha ya, Kak. Do'ain Leha cepat lulus. Nanti Leha bantu kerja deh," ucap Leha, sedih.
"Pasti, Ha. Kakak selalu do'ain kamu. Kamu juga do'ain Kakak, supaya dagangannya laris terus. Biar biasa kasih kamu uang jajan." Yunda tersenyum. Begitu pun Leha.
"Ibu gimana kabarnya? Sorry ya, Kakak belum bisa pulang. Habis belum nemu orang yang mau dibayar harian. Nanti deh kalo ada yang mau bantu-bantu lagi kek dulu, Kakak pasti pulang," ucap Yunda.
"Soal ibu, Kakak nggak usah terlalu pikirin. Ibu suka kok tinggal di rumah nenek. Katanya lebih adem dari rumah kita yang di Jakarta. Leha juga suka sisih tinggal di kampung. Lebih adem. Lebih sejuk." Leha tersenyum.
"Iya, kakak kesepian, Ha! Tapi yaudahlah. Ibu kan maunya tinggal di rumah nenek. Oiya, Ha... nanti kakak titip sedikit ya buat ibu. Suruh ibu beli makanan apa yang dia suka. Pokoknya ibu harus sembuh. Jangan sakit-sakit terus."
"Siap Kak, Leha pasti kasih tahu. Oiya, Leha nggak bisa lama-lama. Leha cuma mampir bentar. Takut ketinggalan kereta nanti," ucap Leha.
"He em, maaf kakak nggak bisa anter ke stasiun. Tapi kakak udah pesenin ojek. Udah kakak bayar juga. Tu udah ditungguin. Ingat, jaga diri baik-baik ya. Jangan pacaran dulu, oke!" ucap Yunda, mengingatkan.
"Siap, Bosq... Kakak rela nggak nerusin sekolah gara-gara biayain aku. Masak, giliran aku bisa sekolah masak pacaran. Kakak ini, ada-ada saja," jawab Leha, sedikit bercanda.
"Makasih sudah mengerti. Ati-ati, semoga selamat sampai tujuan. Kabari nanti kalo udah sampai," ucap Leha.
"Gimana mau ngabarin bestie? ponsel saja kau tak punya." Leha menatap sedih.
"Emmm, iya juga ya... ya udah, nanti kakka kredit deh sama temen kakak. Bingung juga jika begini? Yaudah, sore nanti kakak temuin dia, kali aja dia mau ngutangin kakak henpon," ucap Yunda.
"Semoga ya kak. Emmm, nanti kakak kurangin aja uang jajan Leha, buat bantu bayar cicilan handphone."
"Ih jangan, masak uang jajan cuma 20 rebu masih mau disunat. Nanti kamu jajan apa, Best?" Yunda terkekeh.
"Nggak pa-pa kak. Kalo pagi sekarang Yunda kerja, nganterin dagangan wak Ijah ke pasar."
"Hah? Serius kamu?"
"Iya, Leha nekat belajar mobil sama temen Leha, biar bisa nyupirin wak Ijah. Mayan pulang balik dikasih 25 rebu. Buat bayar sekolah Leha kan? Sisanya bisa buat pegangan ibu, ye kan?" jawab Leha semangat.
"Astaga! Maafin kakak ya, Sayang. Kakak masih belum bisa nyukupin kamu." Yunda memeluk sang adik, kasihan
"Tak apa, kita sama-sama berjuang kak. Kakak gedein warung ibu, Leha yang jaga ibu. Semoga kita berdua sama-sama bisa bikin bangga ibu. Biar bapak nyahok nggak ada yang nemenin tua nanti," ucap Leha, terdengar mendendam.
"Hussst, jangan gitu. Mau bagaimanapun kita anaknya. Kita nggak boleh ngejudge bapak kek gitu. Udah... kok malah jadi ghibah. Ntar ketinggalan kereta. Hati-hati ya, ingat pesan kakak tadi. Jangan pacaran dulu. Fokus fokus fokus sekolah, oke!" ucap Yunda semangat.
"Siap, bestie... pokoknya kakak nggak usah khawatir soal itu. Nanti kalo kakak udah naik pelaminan, Leha baru maju ke start buat cari gandengan," jawab Leha, sembari bercanda.
"Iya, serahmu lah, yang panting hati-hati."
"Iya, Hati-hati... waalaikumsalam... "
Obrolan pun berakhir, Leha naik ke atas motor dan Yunda melambaikan tangan. Sembari berdoa untuk keselamatan adiknya.
Selepas kepergian sang adik, Yunda pun memutuskan kembali ke warung. Namun langkahnya terhenti ketika Pak Sama, ajudan yang menjaga Xavi memanggilnya.
"Non penculik.... Ehhh!" panggil Pak Sam. Yunda membalikkan tubuh. Sebab ia tahu, panggilan itu ditujukan kepadanya.
"Eh, maaf... maaf, maksud saya Non Yunda. Maafkan saya bapak-bapak. Itu panggilan kesayangan kami untuk nona ini. Soalnya dia tukang menculik hati anak-anak," ucap Pak Sam seraya menarik tangan Yunda dan membawa gadis itu menjauh dari orang-orang di sana.
Spontan, semua orang yang ada di depan warung Yunda pun menatap ke arah pria bertubuh kekar itu. Merasa aneh dengan tingkah mereka berdua.
"Ada apaan, Pak Sam? Kayaknya penting sekali?" tanya Yunda.
"Iya, Non.... ini gawat," jawab Pak Sam gugup.
"Gawat? Gawat kenapa?"
"Itu, Tuan Muda sakit."
"Hah? Kok bisa? Pantas saja beberapa hari ini dia tak datang. Sakit apa, Pak?"
"Mungkin tekanan batin, jadi sakit!" jawab Pak Sam, asal.
"Hah? Tekanan batin, penyakit apa itu? Dia kan masih kecil, Pak. Masak tekanan batin?" jawab Yunda heran.
"Aduh, saya jadi bingung gimana nyebutnya. Pokoknya Tuan Muda sakit, Non. Gara-gara dihukum sama Tuan besar, nggak boleh ketemu Non. Gitu!" jawab Pak Sam. Dasar ajudan, kerajaannya cuma pasang badan. Sampek ngomong pun belepotan.
"Ya Tuhan, kasihan sekali dia. Pantesan Pak Sam bilang dia tekanan batin. Ya udah, aku tutup warung dulu ya. Aku ikut Pak Sam," jawab Yunda.
"Eeehhhh... tunggu dulu. Ini saya bisa kena pecat kalo begini!"
"Jadi?"
"Saya keluar rumah karena disuruh ngantar dokumen ke tempat partner kerja Tuan. Segaja saya lewat sini, supaya bisa kasih info ke Nona. Tapi saya minta tolong juga, jangan bilang-bilang kalo saya ke sini. Takutnya Tuan marah, terus pecat saya," ucap Pak Sam, takut.
"Oalah, begitu... ya udah Pak Sam, Emmm.... Sekarang Tuan Muda dirawat di mana? Di rumah sakit atau di mana?" tanya Yunda.
"Di rumah Sakit Harapan Kita, sini saya tuliskan alamat plus nomer kamarnya, biar Non nggak kesusahan nanti kalo ke sana. Di sana ada Sapri sama Pindu. Mereka yang jaga, pasti bakalan kasih Non masuk nanti. Asalkan nggak ada Tuan. Ah, pokoknya nanti kita Kong kali Kong lah di sana ya!"
"Oke deh Pak Sam, makasih banyak infonya ya," ucap Yunda.
"Siap, Non. Pokoknya kabar-kabar kalo mau ke sana. Nanti saya jemput deh di lobi. Oke!"
"Siap, Pak Sam. Makasih banyak. Selepas tutup warung nanti aku otewe deh!"
"Siap Non, saya permisi deh. Assalamu'alaikum!"
"Baik, Pak... waalaikumsalam... "
Yunda mengelus dada, ternyata adalah jawaban atas rasa kurang nyaman yang ia rasakan hari ini. Ternyata bocah yang selalu bilang bahwa dirinya adalah kekasihnya sedang sakit. Dan mirisnya, bocah tampat itu sakit karena memendam rindu padanya. Membuat hati Yunda terasa teriris.
Bersambung...