Om Duda I Love You

Om Duda I Love You
Gagal Memfitnah



Tak terima dengan kegagalan mempengaruhi sang putra, Chelsea pun berniat menyakiti istri dari putranya itu.


Kali ini bukan merebut mobil lagi. Tapi sengaja ingin membuat Yunda malu.


Chelsea dan Vero sengaja mengikuti ke mana Yunda pergi.


Mereka berdua tersenyum karena mereka melihat Yunda masuk ke dalam super market. Ini adalah kesempatan mereka untuk mengerjai Yunda.


Setelah memarkirkan mobilnya, Chelsea dan Vero segera masuk ke dalam super market tersebut dan langsung meneriaki Yunda.


"Haaayyy... pelakor... sini kamu!" teriak Chelsea dan Vero.


Yunda yang tak tahu apa-apa tentu saja melongo melihat kedatangan mereka berdua.


"Maaf, kalian bicara pada saya?" tanya Yunda


"Iya pada siapa lagi? Dasar pelakor, berani sekali kalian kamu menunjukkan wajahmu di hadapan kami, ha?" serang Veronica.


"Siapa yang pelakor, anda jangan asal tuduh ya. Buktikan pada saya kalo saya pelakor. Wanita ini sudah bercerai dengan suami saya bahwa saat anaknya baru lahir. Lalu di mana salah saya kalo saya menikah dengan duda?" bantah Yunda tan mau kalah. Karena banyak orang yang memperhatikan pertengkaran mereka.


"Huuuu... pelakor mana ada yang ngaku!" teriak Chelsea sengaja menyulut susana.


"Sebaiknya ibu jangan asal bicara, saya tantang anda.. buktikan kalo saya pelakor. Jika bukti itu ada, saya siap mempertanggung jawaban perbuatan saya. Mari kita ke kantor polisi!" ajak Yunda tak mau kalah. Sebab ia mulai lelah menghadapi sikap semena-mena mertuanya ini.


Jangan sebut dia Chelsea kalo tak mempersiapkan stategi apa yang hendak ia jalankan. Dengan penuh percaya diri, Chelsea pun menyerahkan bukti foto pernikahan Vero dan Richard.


"Oke, ini adalah foto mereka pas menikah, saya juga tau ini! Lalu sekarang mana buku nikah mereka?" tantang Yunda, masih berusaha tegar.


"Ini, ini buku itu... mau ngomong apa lagi kamu?" tanya Chelsea.


"Tunjukkan pada satu satu foto saja, kalo dia ibu yang baik dan tidak menelantarkan putranya. Agar saya percaya bahwa perceraian antara nyonya ini dan suami saya tidak pernah terjadi. Sehingga tuduhan kalian tentang pelakor itu benar!" tantang Yunda, tak mau kalah.


Vero dan Chelsea diam.. Namun kediaman mereka mengandung emosi yang siap meledak. Dengan penuh amarah, Chelsea pun mendekati Yunda dan siap menghajar anak mantunya itu.


Beruntung sebelum wanita itu menyerang Yunda, Richard menghadang ibunya.


"Sayang, kenapa kamu selalu belain pelakor ini? dia pelakor sayang!" ucap Vero, berakting seolah-olah mereka masih suami istri dan dirinya terdzolimi.


"Diam kamu! Kita udah cerai. Jangan ngaku-ngaku kamu. Hah, mumpung kalian berkumpul di sini. Aku mau peringatkan sekali lagi, jangan ganggu keluargaku Terutama istriku. Aku akan menghancurkan kalian jika kalian berani menyentuh wanitaku. Ingat itu baik-baik. Dan buat mami, tolong jangan buat Richard jadi anak durhaka, Mi. Mengertilah, tolong hargai pilihan Richard. Mami jangan mengusik kami lagi. Richard sudah muak dengan kalian, paham!" ucap Richard seraya menggandeng tangan Yunda dan mengajak istrinya itu keluar dari super market tersebut.


Di dalam mobil, Richard hanya diam sembari membawa mobil yang ia kendarai. Rasa sakit yang ia rasakan di hatinya membuat pria ini tak mampu lagi menahan amarahnya. Dan Yunda paham itu. Yunda paham jika saat ini suaminya sangat butuh dukungan dan pengertiannya.


"Sudah, Sayang. Jangan terlalu kamu pikirin mereka. Aku bisa bela diri kok. Aku nggak pa-pa. Bener deh!" ucap Yunda sembari mengelus lengan suaminya.


"Aku heran sama mereka, Yang. Sampai kapan mereka bakalan berhenti ganggu hubungan kita. Apa lagi si ular rawa itu. Pengen rasanya ku lempar di ke dasar laut. Biar di mangsa sama hiu di sana!" ucap Richard geram.


"Emang hiu doyan ular rawa ya?" balas Yunda.


"Heh... entah... aku nggak ada nomer telpon nya!" Richard tersenyum. Tak menyangka istrinya akan bertanya demikian.


"Nomer telpon? nomer telpon siapa?" tanya Yunda lugu.


"Nomer telpon nya si hiu! mau tanya, dia doyan nggak ama ular rawa!" balas Richard.


Spontan Yunda pun tertawa. Menertawakan kegilaan suaminya. Ternyata sang suami di samping garang, pria itu juga doyan bercanda.


"Dih ketawa! apa nya yang lucu?" tanya Richard.


"Ah, tidak. Nggak ada. Yunda hanya nggak nyangka, muka garang itu bisa juga bercanda!"


Richard tersenyum. Jiwa kocaknya ini lahir juga buka tanpa sebab. Jiwa kocaknya ini bisa lahir karena adanya Yunda. Yunda adalah satu-satunya wanita yang bisa membuatnya tenang. Satu-satunya wanita yang bisa membuatnya menerima apa yang harus di terima tanpa emosi.


"Pokoknya kita jangan terlalu ambil hati apa yang mereka lakukan ke kita, Sayang. Kita slow saja. Toh nanti mereka juga bakalan capek sendiri. Iya kan?" ucap Yunda.


"Kamu bener, Sayang. Aku pun berpikir demikian!"


Yunda dan Richard saling melempar senyum. Mereka sepakat akan menghadapi kedua wanita aneh itu dengan kepala dingin. Mereka berjanji tidak akan terpancing oleh apa yang mereka perbuat.


Bersambung...