
Richard tak pernah setengah-setengah ketika ia memiliki tujuan.
Kini ia telah berada di depan penghulu dan sak si. Bersiap mengikrarkan ijab qobul nya untuk Yunda.
Di lain pihak, keluarga Yunda terlihat kurang nyaman dengan ini. Namun begitu, mereka juga tak punya pilihan lain. Hutang keluarga mereka pada orang tya Rahman juga sudah dibayar lunas oleh Richard. Bukan hanya itu, kini mereka juga di selamatkan oleh Richard dari niat jahat keluarga rentenir tersebut.
Maka tak ada alasan bagi mereka untuk menolak permintaan Richard. Orang miskin memang sering tak memiliki jalan untuk memilih. Bukankah begitu?
Tepuk tangan meriah dan teriakan kata dah menjadi bukti bahwa mulai hari ini, Richard dan Yunda telah sah menjadi suami istri.
Senyum malu-malu mengembang di antara keduanya. Richard terlihat bahagia, begitupun Yunda.
"Terima kasih, Terima kasih untuk semuanya, Sayang," ucap Richard ketika menciun kening sang istri.
"Sama-sama, semoga aku bisa menjadi istri yang sholehah untukmu. Patuh dan bisa membuatmu tenang," jawab Yunda, lembut.
Richard tersenyum, lalu tanpa izin ia pun memeluk sang istri. Memeluk gadis yang telah sah menjadi istrinya itu dengan cinta. Dengan kasih sayang yang ia memiliki tentunya.
"Yang, sebaiknya ibu sama adikmu jangan balik ke rumah itu dulu. Karena sangat berbahaya buat mereka kalo nggak ada aku dan anak buahku. Aku takut, rentenir dan anak buahnya akan menyakiti mereka. Aku tak percaya pada mereka," ucap Richard mengingatkan.
"Aku juga berpikir sama, Yang. Terus aku mesti gimana? Rumah yang di dadap penuh sama orang ngontrak. Apa aku harus minta salah satu dari mereka pindah? Aku nggak tega, Yang!" jawab Yunda.
"Tidak, ya jangan suruh mereka pindah. Kalo kamu setuju, aku udah siapin tempat buat mereka. Semoga mereka suka. Tempatnya nyaman kok," jawab Richard sok polos. Padahal sebenarnya ia sudah menyediakan tempat yang lumayan mewah untuk keluarga istrinya.
"Apa sewanya mahal?" tanya Yunda.
"Tidak sewa. Ini rumah kita sendiri," jawab Richard.
"Rumah kita sendiri? Emang rumah kita ada berapa?" tanya Yunda lugu. Sepertinya Yunda lupa jika suaminya ini seorang miliarder.
"Ya udah, terserah kamu aja, Yang, gimana baiknya? Cuma aku sedikit nggak nyaman dengan mami papimu. Aku takut mereka nggak terima kamu baik begitu baik pada keluargaku," jawab Yunda.
"Masalah orang tuaku, biar aku yang selesaikan. Mami orangnya memang pemaksa. Tidak mau mendengar pendapat orang lain. Kamu nggak perlu khawatir soal itu. Apapun usaha mami untuk misahin kita, aku jamin nggak akan pernah berhasil. Mami orangnya ambisius, tapi jarang mikir kalo apa yang dia paksakan untuk orang lain sebenarnya juga menyakiti banyak pihak," jawab Richard kesal.
"Sabar ya, apapun yang ibumu lakukan, jangan terlalu keras melawan. Mau bagaimanapun, beliau adalah ibumu. Yang harus kamu hormati sampai kapanpun," ucap Yunda mengingatkan.
"Ya, Sayang. Aku tau itu," jawab Richard lembut.
Selepas berdiskusi dengan istrinya, Richard pun meminta ajudannya untuk mengantar Ibu Nining dan juga Leha ke rumah di mana Richard sudah menyiapkan tempat tinggal tersebut untuk mereka.
Awalnya mereka menolak karena tak ingin merepotkan menantunya. Namun Richard memaksa. Dengan alasan, keselamatan mereka jauh lebih penting dari apapun.
***
Berita pernikahan Richard dengan Yunda akhirnya sampai di telinga Chelsea dan Giovan.
Untuk Chelsea, tentu saja wanita paruh baya itu langsung marah besar dan menuduh Yunda merayu sang putra untuk menikahinya.
Pemikiran kotor itu pun membuat Chelsea terbakar emosi. Sehingga menuntun wanita ini untuk pergi melabrak Yunda.
"Mi... sebaiknya mami tahan emosi mami. Jangan mempermalukan diri mami. Richard ingin bahagia, Mi. Tolonglah jangan bikin Richard nggak respect ama kita," pinta Pak Giovan berusaha menjadi penengah antara sang putra dengan istrinya ini.
"Terserah Papi, Pokoknya sampai kapanpun Mami nggak akan merestui mereka. Gadis kampung itu tidak akan pernah mami biarkan memiliki Richard. Lihat saja nanti," ancam Chelsea emosi.
Giovan tak sanggup lagi mendebat istri keras kepalanya itu. Ingin rasanya ia mengingatkan wanita yang sudah mendampinginya hampir 36 tahun itu, tapi apa mau di kata, Chelsea sangatlah keras kepala dan tak mau menerima pendapat orang lain lain.
Bersambung...