
Kegagalan yang ditanggung oleh Chelsea dan juga Vero, nyatanya tidak membuat mereka kapok. Bahkan saat ini dengan berani mereka pun mengikuti mobil Yunda. Ingin kembali perhitungan dengan pasangan pasutri itu.
"Sayang, lihatlah mobil belakang. Sepertinya itu mobil mami!" ucap Yunda mengingatkan.
"Mana?"
"Tuuuu, mobil mami kan?" tanya Yunda.
Richard menilik mobil spion. Lalu memastikan apa yang di katakan sang istri.
"Bener, Yang. Itu mobil mami. Astaga! sebenarnya mereka mau apa sih?" balas Richard.
Tak ingin membuat masalah dengan wanita yang melahirkannya itu, Richard pun menginjak pedal gasnya lebih cepat. Tentu saja untuk menghindari peperangan dengan ibu kandungnya.
Richard mulai tak sabar menghadapi kegilaan ibunya. Di tambah ular rawa yang jadi kompor antara hubungannya dengan sang ibu, terus saja menempel saja seperti lintah. Membuat Richard kesal sekesal-kesalnya.
"Sabar, Yang. Sabar... sudahlah nggak perlu di ambil hati. Ehhh Yang... " pekik Yunda.
"Apaan, Honey?" tanya Richard.
"Lihat mobil mami. Tabrakan, Yang. Ditabrak dari belakang, Yang! Yang berhenti, Yang!" pekik Yunda gugup.
Spontan Richard pun menghentikan laju kendaraannya.
Memarkirkan kendaraan itu di pinggir jalan. Lalu ia dan Yunda segera berlari. Berlari mendatangi mobil yang dikendarai Vero. Sebab di dalam mobil itu ada ibunya.
"Astaga, Yang!" pekik Yunda ketika melihat mobil itu terbalik.
Dengan cepat Richard pun berusaha membuka pintu mobil di aman ibunya berada. Sayangnya Richard gagal.
Sedangkan Yunda langsung mencari bantuan. Menyetop beberapa mobil yang lewat.
Bersyukur banyak pengendara yang mau menolong mereka.
Membuka pintu mobil itu dengan peralatan seadanya. Peralatan yang tersedia di mobil mereka masing-masing.
Hampir lima belas menit merek beruang, akhirnya mereka pun berhasil mengeluarkan Chelsea Sedangkan Vero, Richard menyerahkan wanita itu pada pihak polisi yang baru datang.
"Sayang, cepat buka pintu!" pinta Richard ketika sampai di mobil mereka.
Yunda yang tanggap tentu saja langsung membukakan pintu untuk ibu mertuanya.
Tak menunggu waktu lagi, Richard langsung melanjukan kendaraannta. Melajukan kendaraan tersebut dengan kecepatan tinggi. Tentu saja agar mereka secara sampai di rumah sakit.
Kini mereka pun sampai di rumah sakit. Richard sungguh tak habis pikir, kenapa Vero tidak hati-hati membawa mobil. Hingga mencelakai ibunya.
Dengan geram, Richard pun bersumpah akan membuat perhitungan dengan wanita itu.
"Sabar, Sayang. Kendalikan dirimu. Percayalah, nggak akan terjadi apapun sama mami. Kan kata dokter mami cuma luka ringan," ucap Yunda sembari mengelus lengan suaminya.
"Ini bukan hanya luka fisik yang kita bicarakan, Yang. Kamu lihat mami diam saja. Aku takut dia trauma, Yang!" jawab Richard takut.
"Kalo trauma, pasti ita, Sayang. Yunda tahu itu. Di sinilah peran kita dipertanyakan. Sebagai keluarga dan orang terdekat, kota punya tugas untuk membuat mami sembuh. Baik fisik maupun mentalnya, Sayang!" jawab Yunda, lembut.
"Aku khawatir jika trauma nya ini malah di manfaatkan oleh wanita tua itu untuk menjauhkan kita, Yang. Kamu kayak nggak kenal mami aja!" jawab Richard khawatir.
"Dih, Yang. Jangan suudzon begitu. Kita ini manusia biasa. Mari kita ikuti alurnya. Siapa tahu malah sebaiknya, siapa tau nanti mami malah sadar, bahwa wanita yang membawanya masuk ke dalam musibah adalah wanita yang nggak bener. Wanita yang memanfaatkannya saja. Wanita jahat yang hanya mementingkan dirinya sendiri, iya kan?" jawab Yunda serius.
"Kamu bener, Yang. Tapi aku sangsi mami akan bersikap sebaik itu. Kita sama-sama tahu, jika semalam ini mami begitu buta. Dia lebih percaya sama ular rawa itu dari pada aku, anaknya!" jawab Richard penuh penyesalan.
Yunda sangat memahami itu. Tapi mau bagaimana lagi? Bukankah ini adalah resiko yang harus ia terima. Sebab ia menikahi pria kaya dan pernikahan ini tidak di restui oleh keluarga suami. Bukankah Yunda harus bisa menerima setiap peraturan yang ada.
***
Di lain pihak, Vero tertawa senang setelah berhasil membawa wanita tua yang ia anggap bodoh itu. Vero yakin, apa yang ia lakukan hari ini untuk wanita tua itu pasti meninggal kan bekas yang tidak di sangka oleh siapapun.
Nyatanya membodohi wanita tua itu sangatlah mudah. Hanya dengan rayuan gombal yang ia miliki, kini Vero telah berhasil memiliki 50% Saham yang ada di dalam perusahaan yang di pimpin oleh Richard.
"Makanya jadi orang tua jangan tolol, siapa suruh kamu menandatangi sesuatu tanpa dibaca atau di lihat dulu. Rasakan sekarang akibatnya, bodoh. Kau pikir aku tidak punya cara hebat untuk menumbangkan putramu. Sorry, Bestie.. kamu salah. Aku punya banyak cara untuk bikin Ricard memohon ampun padaku dan pada akhirnya dia nggak akan tahan pada kemiskinan. Dan meminta balikan lagi sama aku. Makasih Chelsea, tolol. Akhirnya kamu mati juga!" ucap Vero sambil tertawa puas.
Tertawa sekencang-kencangnya. apa lagi ketika ia melihat wajah shock Chelsea saat wanita itu tahu, bahwa yang ia tanda tangani bukanlah kerja sama perihal butik mereka. Tetapi dokumen tersebut berisi tentang pengambil alihan kekuasaan perusahaan. Atas nama Chelsea dan kini berganti atas nama Veronica Van.
Bersambung..