
Yunda menyiapkan makan untuk pria yang kini sering menganggu hatinya itu. Jujur Yunda gugup saat melayani pria itu makan. Ia takut, rasa masakan yang ia masak tidak cocok dengan lidah pria itu. Maklum, Richard biasa dilayani oleh chef ternama. Baik di rumahnya maupun di kantor.
Yunda merasa deg-degan ketika Richard memasukkan makanan itu ke mulutnya. Sungguh, dia sangat takut Richard memuntahkan masakannya itu.
"Gimana Om? Enak tak?" tanya Yunda takut.
Richard tersenyum, tak menjawab pertanyaan itu. Namun ia tetap melanjutkan memakan makanan itu dan mengunyahnya perlahan.
"Om, Yunda deg-degan ni. Enak nggak?" tanya Yunda lagi.
"Dasar cerewet. Sebaiknya kamu duduk dan diam. Aku lapar mau makan," jawab Richard ketus.
Selalu seperti itu, ketus nggak jelas. Orang cuma nanya aja, nggak boleh! gerutu Yunda dalam hati.
Tanpa banyak bicara, Yunda pun duduk di samping Richard. Sebelum itu, tak lupa ia menyiapkan segelas air untuk pria itu minum. Sedangkan Richard terus menikmati makannya tanpa banyak bicara. Karena dia sudah terbiasa makan tanpa berbicara.
Sepiring nasi dan semangkok sob sudah ludes. Namun masih ada satu potong tempe di piringnya. Richard ingin menghabiskan itu, tapi perutnya berasa tak muat.
"Aku kenyang, bagaimana ini? Apa kamu marah kalo aku tidak menghabiskannya?" tanya Richard. Kali ini terdengar sopan.
"Tentu saja tidak Om. Tak apa jika tak habis semua. Yang penting Om udah makan. Itu udah bikin kami senang kok," jawab Yunda sembari menyodorkan segelas air putih untuk tuan besar itu.
"Kami? Kami siapa?" pancing Richard.
"Xavi dan saya," jawab Yunda lugu. Tak menyadari bahwa pria dewasa itu sedang memancingnya. Memancing perasaannya. Atau lebih tepatnya Richard sedang ingin tahu kejelasan perasaan Yunda untuknya.
"Aku sudah makan, jadi sekarang perasaanmu udah tenang?" pancing Yunda lagi.
"Tentu saja, sekarang aku bisa lebih tenang Om!" jawab Yunda lagi, lagi-lagi belum menyadarkan kemodusan Richard.
"Oh gitu ya. Kalo seandainya aku kenapa-kenapa kamu khawatir nggak?"
"Ya khawatir lah Om. Masak enggak?"
"Khawatir ya. Kalo gitu aku kenapa-napa aja deh, biar dikhawatirin sama kamu!"
"Ih ya jangan Om. Masak gitu maunya. Udah ah, malah ngajak becanda. Udah ya, Yunda rapiin ini. Habis itu Yunda mau balik. Nanti pacar Yunda yang di rumah ribut pula. Nanti Yunda dituduh selingkuh. Astaga, anak itu... bisa aja ngomong," ucap Yunda panjang lembar.
"Putraku baru empat tahun, tapi sudah tau istilah- istilah seperti itu. Pasti kamu ya yang ngajarin ha?"
"Tidak Om, mana ada saya begitu. Saya aja nggak pernah mikirin begituan. Justru Yunda kaget pas dia bilang kalo Yunda kekasihnya."
"Ha?"
"Iya, dia bilang mau menikahiku kalo dewasa nanti," ucap Yunda terkekeh.
"Benarkah? Berani sekali dia. Apa dia mau ku patahkan kakinya?" ancam Richard kesal.
"Ehhh... kenapa? Memangnya Om nggak pengen punya menantu semanis aku." Yunda kembali terkekeh.
"Menantu konon. Kamu tu pantesnya jadi ibunya dia. Jadi istriku. Masak istrinya. Ngarang kamu," jawab Richard.
Spontan Yunda terdiam. Sepertinya ucapan Richard sedikit keterlaluan. Sehingga membuatnya Baper.
"Kenapa diam? Tadi ketawa kencang," tanya Richard.
"Tidak Om. Sebaiknya saya pulang. Om udah enakan kan? Nggak butuh apa-apa lagi kan?" tanya Yunda.
"Kenapa diam Om? Yunda pulang ya!" ucap Yunda.
"Ya, tapi aku masih malas pulang. Bilang Xavi aku mau tidur di kantor saja."
"Kok gitu? Kenapa? Om masih pening? Mau Yunda kerik, mau Yunda pijat kepalanya?" tanya Yunda, lagi-lagi penawaran lugu. Entah bodoh atau memang tidak memiliki rasa curiga pada pria dewasa ini.
"Oke!" jawab Richard senang. Sedangkan Yunda, sepertinya ia tidak tahu, jika pria dewasa itu memiliki sisi menyeramkan jika disentuh oleh wanita yang dia inginkan. Atau lebih tepatnya pria dewasa memiliki hasrat tersembunyi yang harus disalurkan jika menghadapi situasi seperti itu.
"Kalo kamu nggak keberatan, kerik saja punggungku," ucap Richard.
"Baiklah.. mari. Silakan Om duduk menghadap ke sana. Sini Yunda kerik," ucap Yunda sembari mengeluarkan peralatan kerik yang ada di tas punggungnya. Membuat Richard tersenyum geli.
"Tunggu.. tunggu... aku ketawa dulu!" ucap Richard.
"Ketawa kenapa Om? Ada yang lucu?" tanya Yunda bingung.
"Kamu ini sebenarnya babysitter atau tukang pijat keliling. Kenapa isi tasmu ada aneka minyak dan balsem begitu?" tanya Richard, sembari tersenyum aneh.
"Yeee.. ya bukan Om. Masak Yunda dikatain tukang pijat keliling. Ini sajen Yunda kalo di angkot Om. Kalo pas cium aroma-aroma aneh, Yunda langsung ciumin ini. Oles-olesin ini di kening. Biar nggak mual Om," jawab gadis itu lugu.
Spontan Richard pun tertawa. Meskipun jujur, dia sama sekali tak mengerti dengan arah pembicaraan gadis itu. Tapi ya sudahlah... dia sudah mau berbaik hati merawatnya.
"Ayo Om, buka kancing bajunya, tiga aja tiga," pinta Yunda, agar bisa membuka punggung Richard bagian atas.
"Iya, tapi jangan sakit-sakit ya!" pinta Richard yang sebenarnya tidak pernah diperlakukan seperti ini. Tapi demi menahan Yunda agar tak pergi, dia pun rela diperlakukan seperti ini.
"Siap, Om," jawab Yunda sembari mengoleskan balsem di pundak Richard. Lalu mulai mengerikannya.
"Gimana Om? Sakit tidak?" tanya Yunda.
"Tidak," jawab Richard berbohong. Padahal ia merasakan pundaknya seperti disayat-sayat. Maklum Richard tidak pernah dikerik (Bule mana ada yang kerik, Yunda Yunda, kamu ini bisa aja)
Yunda terus mengerik punggung Richard. Setelah itu ia memijatnya perlahan. Nah, pas part dipijat inilah Richard merasakan kenyamanan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan, mantan istrinya saja tak pernah mau memijatnya. Tetapi gadis ini, dia bukan siapa-siapa tapi peduli padanya. Menyiapkan makan untuknya. Memberikan perhatian-perhatian kecil. Meskipun kecil namun perhatian Yunda sangat berharga baginya. Memberi kesan yang indah di hatinya.
"Hay, kamu...."
"Ya Om!"
"Selain sama aku, siapa lagi pria yang pernah kamu pijat?"
"Emmm... siapa ya? nggak ada sih Om. Paling bapak," jawab Yunda jujur.
"Boleh aku minta sesuatu?"
"Minta sesuatu? Apa tu Om?"
"Jangan pernah kamu memijat laki-laki lain selain aku, mengerti!" pinta Richard.
Yunda diam. Seketika ia tersadar bahwa sebenarnya ia tak boleh melakukan ini. Seharusnya ia tak boleh menyentuh pria dewasa yang bukan muhrimnya.
Pelan namun pasti, Yunda pun menjauhkan tubuhnya. Lalu merapikan peralatan miliknya. Tanpa berpamitan Yunda segera keluar dari ruangan Richard.
Saat itu juga ia menyadari kecerobohannya. Kebodohannya. Yang bisa saja menjerumuskannya pada hal-hal yang tidak diinginkan.
Bersambung....