
Seperti biasa, setiap pagi, setelah mengantarkan Pengeran Kecilnya ke sekolah, Yunda selalu menyempatkan diri mampir ke warung miliknya. Tentu saja, untuk mengontrol bisnisnya. Sesuai arahan Richard.
Sayangnya, ketika Yunda hendak keluar dari mobil, ada tiga orang berpakaian preman datang mendekati mobil yang ia tumpangi.
Pak Sam yang curiga, tentu saja langsung melarang Yunda untuk turun.
"Jangan turun Non, sepertinya mereka berniat jahat pada kita," larang Pak Sam.
"Dari mana Bapak tau?" tanya Yunda heran.
Pak Sam tak menjawab, ia langsung menyalakan mobil dan melajukan mobil yang ia kendarai.
Pak Sam tak mau ambil resiko. Baginya membawa Yunda sama dengan hal membawa dengan membawa Xavi. Karena mereka berdua adalah orang paling penting dalam hidup bosnya. Bahkan sebelum Richard memberi perintah itu. Pak Sam sudah tahu. Bahwa saat ini mereka sedang menjalin hubungan.
Benar yang dikatakan Pak Sam, ternyata, ketiga orang itu memang berniat jahat pada mereka.
Terlihat jelas dari kaca spion, mereka bertiga mengumpat kesal dan melempar mobil yang di tumpangi Yunda dengan sesuatu.
"Apa itu Pak? Apa yang mereka lempar? Kena mobil tidak?" tanya Yunda khawatir.
"Sepertinya air keras, Non. Tapi ngga sampai kena mobil. Sebaiknya kita cepat, Non. Pegangan. Saya mau tambah kecepatan," jawab Pak Sam.
"Baik, Pak Sam."
"Pindah depan, Non. Pakai sabuk pengaman!" pinta Pak Sam lagi.
Dengan cepat, Yunda pun pindah ke depan. Jantungnya berdetak lebih kencang karena ia tak menyangkan akan melewati masa ini.
"Pak Sam benar, mereka bertiga memang berniat jahat pada Yunda. Lihatlah mereka mengejar kita. Ya Tuhan. Lindungi kami," ucap Yunda ketakutan.
"Ya... menurut saya, itu suruhan ibu nyonya, kalo nggak pasti ibunya tuan muda," tebak Pak Sam.
"Astaga! Benarkah? Apa motif mereka melakukan itu Pak?" tanya Yunda lugu. Seakan ia sudah lupa tentang kejadian semalam.
"Entah, aku rasa karena mereka tidak suka jika nona dekat dengan tuan muda dan sekarang juga dekat dengan tuan besar kan?" jawab Pak Sam jujur.
"Ya Tuhan, apakah seperti itu cara orang kaya kalo tak suka pada kita, Pak. Apakah main kroyokan begitu?"
"Ya, seperti itulah, Non. Makanya kita harus berhati-hati sama mereka."
"Aduh, kenapa mereka nggak mikir dosa. Heran aku!"
Pak Sam tersenyum mendengar keluguan Yunda. Maklum Yunda masih muda, belum banyak makan asam garam di dunia. Tapi Pak Sam tetap salut pada kebaikan hati gadis ini. Pikirannya yang masih murni, mungkin inilah yang membuat bosnya jatuh cinta pada gadis ini.
Beberapa menit berlalu, mobil yang mengejar mereka tak terlihat lagi. Mungkin mereka telah kehilangan jejak.
Keadaan tersebut oun membuat Yunda penasaran.
"Pak, mobil itu ngy ngejar kita lagi," ucap Yunda.
"Iya, Non. Memang nggak ngejar. Tapi saya takut mereka mengubah rencana!"
"Mengubah rencana? maksudnya?" Yunda menatap takut.
Yunda membulatkan mata sempurna. Tersadar degan bahaya lain yang mengancam dirinya. Tempat usahanya, ya Tuhan. Kenapa dia bisa lupa?
"Astaga, Pak? Bagaimana jika mereka memang ke sana? Di sana ada adikku, Pak. Leha... " kawan Yunda takut.
Sebagai ketua ajudan di rumah Richard, Pak Sam tak kehilangan akal. Ia pun segera meminta bantuan pada timnya untuk segera mengirimkan pasukan ke warung Yunda. Ia berharap ini adalah keputusan terbaik.
Jika mereka terlambat sedikit saja, maka masalah yang lebih parah pasti mereka hadapi, yaitu Richard.
***
Apa yang di katakan Pak Sam bukan isapan jempol belaka.
Ketiga preman itu ternyata kembali ke warung itu. Karena mereka berpikir, Yunda pasti sudah masuk ke dalam warung itu. Dan benar saja, setelah mereka masuk, mereka melihat gadis yang mirip di foto yang diberikan oleh bos mereka.
Para preman tertawa senang. Untuk mengekspresikan kebahagiaan itu. Mereka pun merusak segala perabotan yang ada di sana.
Setelah puas merusak barang-barang itu, mereka pun membawa gadis yang mirip dengan gambar yang ada di foto tersebut. Yaitu Leha, adik kandung Yunda. Mereka senang. Akhirnya bisa menyeret target dan menyerahkannya pada wanita yang membayar mereka.
"Lepasin aku.... siapa kalian?" teriak Leha.
Beberapa kali Leha meronta, tapi gagal. Tenanganya kalah kuat dengan para preman itu.
Leha di masukan ke dalam mobil berwana hitam itu. Lalu mereka membawa gadis tersebut meninggalkan area ini.
"Siapa kalian? Kenapa membawaku?" tanya Leha berani.
"Diam... atau kami tembak kepalamu!" ancam salah satu dari mereka.
Leha diam. Tapi pikirannya tak menyerah. Gadis yang memiliki ilmu bela diri ini, tetap berusaha mencari cara agar bisa meloloskan diri dari cengkraman ketiga preman ini.
"Kita bawa ke mana, Bos?" tanya salah satu dari mereka.
"Ke markas saja, nanti Nyonya Vero yang bakal mengeksekusi gadis ini," jawab ketua geng itu.
Nyonya Vero, siapa nyonya Vero? Apa dia yang menyuruh mereka menculikku? batin Leha.
Dengan sikap manis, gadis ini pun bertanya. "Pakkk... bapak preman, bolehkah saya bertanya sesuatu?" rayunya manja.
"Tanya apa? Diam kau!" jawab Pria itu sedikit membentak.
"Emmm, itu... ibu Vero itu siapa? Soalnya saya nggak kenal. Tidakkah ada kemungkinan kalian salah tangkap orang?" tanya Leha, masih dengan nada manja.
"Kita nggak mungkin salah. Sebaiknya kau diam. Atau ku lakban mulutmu. Lakban saja mulut gadis ini. Brisik!" perintah pria itu.
Tak ayal, mulut Leha pun di bekap sempurna. Sehingga gadis ini tak berkutik.
Namun, bodohnya mereka tidak tahu bahwa gadis yang mereka bawa bukan Yunda. Tapi adiknya.
Kira-kira mereka bakal kena amuk Veronica nggak ya?
Bersambung...