Om Duda I Love You

Om Duda I Love You
Suruh Papi Nikah Lagi



"Tidak! Sampai kapanpun Mami tak akan pernah menyetujui hubungan kalian. Apa lagi mama lihat gadis jelek ini sama sekali tak pantas masuk ke keluarga kita, Richard. Kamu jangan asal pilih pendamping. Mau ditaroh di mana muka Mami sama papi kalo kamu menikah sama gadis kampung ini ha?" ucap Chelsea menggebu.


"Mi... please... jangan menilai orang dari penampilan. Terserah Mami mau menilai dia seperti apa. Tapi bagi Richard, dia gadis baik, Mi. Dia sangat mengerti Richard. Sangat sayang pada Xavi. Kalo standart Mami tinggi, suruh saja papi nikah lagi," jawab Richard tak kalah kesal.


Tentu saja jawaban itu semakin membuat Chelsea naik darah. "Kau gila suruh bapakmu kawin lagi. Jangan asal ngomong kamu!"


"Habis, Mami selalu mengukur apapun dari materi. Dan lihatlah dari penilaian Mami itu, nyatanya wanita pilihan Mami juga nggak becus jadi istri. Nggak becus jadi ibu. Lalu apa yang hendak Mami banggakan dari wanita seperti itu. Karena dia kaya? Atau karena dia wanita karir. Please Mi... berhentilah menghalu! Izinkan Richard memilih jalan hidup Richard sendiri," pinta Richard kesal.


"Kau.... lihat Pi putramu, gara-gara kenal dengan gadis dekil ini, dia jadi berani melawan Mami!" Chelsea menatap kesal pada Yunda yang saat ini ada dalam dekapan Richard.


"Sudah, Mi... jangan keras-keras ngomongnya. Malu didengar orang. Apa lagi nanti kalo sampai cucu kita bangun. Ya sudah, kalo Richard maunya sama gadis itu ya biarkan. Biarkan ia coba. Kalo nggak coba kan nggak tau!" jawab Pak Giovan mencoba menjadi penengah.


"Nggak, pokoknya nggak. Mau sampai kapanpun Richard nggak boleh berhubungan sama gadis kampung ini. Dia harus rujuk sama mantan istrinya, ibu kandung dari cucu kita, Pi. Percayalah sama Mami, nggak ada ibu tiri yang baik di dunia ini. Apa lagi bocah ingusan ini. Lihatlah dia, sepertinya mata duitan sekali," tudueh Chelsea kesal. Rasanya ingin sekali dia meremas wajah lugu Yunda yang menurutnya menipu itu.


"Sebaiknya Papi bawa Mami pulang. Sebelum Richard hilang kendali!" pinta Richard mulai kesulitan mengatur emosinya. Terlihat dari napasnya yang mulai naik turun.


Yunda yang paham dengan itu, tentu saja langsung berinisiatif mengajak Richard keluar dari ruangan ini.


"Om, sebaiknya kita saja yang keluar. Tidak baik kita mengusir orang tua," ucap Yunda lirih. Berharap suaranya bisa membuat tenang Richard.


Richard menatap sekilas pada gadis yang saat ini diam dalam dekapan nya. Sepertinya ide Yunda tak buruk juga.


"Baiklah, ayo," ucap Richard seraya menggandeng tangan Yunda dan memililih keluar dari ruangan sang putra.


Sedangkan Chelsea masih sibuk memaki. "Mau ke mana kamu Richard... Mami belum selesai ngomong!" ucap Chelsea, hendak berlari mengejar putra semata wayangnya itu. Beruntung Giovan langsung bergerak cepat mencegah sang istri.


"Sudah, Mi... tenangkan dirimu. Malu di lihat orang!"


"Dia sudah berani kurang ajar sama Mami, Pi. Gara-gara gadis jelek itu. Ini pasti karena pengaruh buruk yang dibawa gadis dekil itu. Lihatlah dia kabur!"


"Astaga Mi... jangan begitu! Biar begitu, itu sudah pilihan anakmu. Sudah sudah!" ucap Pak Giovan bingung. Sampai tak tahu harus berbuat apa.


***


Di lain pihak...


Richard keluar ruangan sang putra dengan wajah memerah marah. Sebelum ia dan Yunda melangkah lebih jauh, dari kamar yang putra, tak lupa ia memberikan pesan terlebih dahulu ke pada ketiga ajudannya.


"Jangan biarkan mantan istriku masuk. Apapun yang terjadi. Kalian paham!" pinta Richard.


"Baik Tuan. Laksanakan!" jawab ketiga ajudan itu.


"Baik Tuan!" jawab Mereka kembali, namun jika boleh jujur mereka mana berani mengusir orang tua bos mereka. Meskipun itu perintah. Bukankah ada etika yang harus mereka jaga. Sayangnya itu tidak berlaku untuk Richard. Pria bermata biru ini sudah lelah dengan aturan-aturan yang selama ini menjeratnya.


Di kantin rumah sakit...


Yunda membelikan segelas teh manis untuk Richard. Berharap minuman itu bisa meredakan sedikit rasa marah yang kini sedang menyerang pria bermata biru itu.


"Apa ini? Bir?" tanya Richard heran.


"Bir apa? Bukanlah Om. Itu es teh manis. Cobalah, pasti bisa meredakan sedikit emosimu," bujuk Yunda dengan senyum manisnya. Membuat Richard diam-diam berdebar.


"Es teh, baiklah!" jawab Richard seraya meneguk es aneh itu menurutnya. Sedangkan Yunda hanya tersenyum dan menggerutu lucu dalam hati.


Dasar orang kaya, es teh saja tak tau. Taunya malah minuman laknat.


"Bagaimana? Seger tak?" tanya Yunda.


"Emmm, not bad. Lumayan," jawab Richard sembari menyecap es itu kembali. Sedangkan Yunda malah asik memerhatikan wajah tampan pria berperawakan tinggi besar itu.


"Maafkan aku sudah melibatkanmu dalam masalah keluargaku!" ucap Eicu lembut.


"Tak apa, Om. Santai saja. Cuma saya salut dengan keberanian Om," jawab Yunda, tentu saja dengan senyum dan kelingan mata yang menurut Richard sangat menggemaskan.


"Keberanian apa? Aku sudah lelah ditidas oleh mereka. Sebenarnya aku tak ingin melawan mereka. Tapi mereka keterlaluan. Membuatku kesal," jawab Richard jujur.


"Ya, saya tau. Saya bisa merasakan betapa kecewanya Om pada mereka. Tapi nyuruh papinya Om nikan lagi, aku rasa itu permintaan buruk," jawab Yunda.


Spontan Richard pun tertawa. Dia saja yang mengucapkannya lupa.Ternyata Yunda begitu memerhatikan setiap ucapannya. Bahkan sampai sedetail itu.


"Sudah Om, jangan ketawa terus. Di sini Om ketawa, di atas sana kedua orang tua Om pasti masih memaki kesal!" ucap Yunda mengingatkan.


"Ya, ya, oke oke.. Aku diam!" Richard kembali tertawa. Richard sadar kalau jawaban ringan yang ia berikan untuk maminya, nyatanya sanggup membuat emosi maminya itu meledak. Membuat Richard sangat senang dibuatnya. Apa lagi ucapan itu diingatkan oleh seseorang yang manis seperti Yunda. Tentu saja ini membuat Richard semakin geli.


"Dasar wanita," gumam Richard dalam hati.


Bersambung...


Jangan lupa kepoin karya emak yang lain yes😍😍😍