
Chelsea marah besar ketika ia tahu bahwa Richard ternyata mengetahuinya apa yang ia rencanakan saat ini.
Bukan hanya itu, Chelsea juga marah besar karena Giovan ternyata juga mendapat teguran dari Richard perihal dirinya. Sehingga pertengkaran sengit pun tak bisa Chelsea hindari.
"Papi jangan termakan oleh hasutan putra bodoh papi itu. Dia sudah dibutakan cinta, makanya bertingkah seperti kerbau bodoh yang di cucuk hidungnya," jawab Chelsea kesal mana kalau suaminya menegur and memintanya untuk tidak bersikap bodoh sebagai orang tua.
"Aku sangat tahu bagaimana kamu, Mi. Kamu jangan coba-coba mengelabuhi ku. Richard tak akan mau bicara jika mami tidak keterlaluan, Mi," Jawab Giovan tak mau kalah.
"Mami nggak tahu apa-apa, Pi. Sebaiknya papi diam dan jangan ikut campur urusan Mami. paham!" ucap Chelsea emosi.
"Kau gila, Mi Sangat gila. Ingat Richard adalah putra kita. Putra semata wayang kita. Tumpuan hidup kita kalo kita udah nggak bisa apa-apa nanti. Kalo kita sakiti dia terus, siapa yang bakalan urus kita nanti, Mi. Ayolah pikirkanlah itu, janganlah termakan oleh hasutan egomu Mi. Ini nggak lucu. Kita udah tua, harusnya kita kasih kesempatan Richard berkembang. Baik dari segi ekonomi maupun perasaan. Astaga! Papi nggak tahu lagi gimana mesti ngadepin kamu, Mi Kamu terlalu egois untuk memahami perasaan orang lain!" ucap Pak Giovan marah.
"Bagaimana Mami bisa mengerti? Richard itu bodoh. Bisa-bisanya dia menikah tanpa restu kita. Bisa-bisanya dia menikah dengan wanita kampungan seperti itu!" Wajah Chelsea memerah marah.
"Bagaimana dia mau minta restu ke kita? Kalo kedatangannya malah membuat Mami marah. Coba Mami pikir, seandainya kita bisa lebih legowo, lebih longgar memperlakukannya, Papi rasa Richard juga nggak akan berani mendahului kehendak kita, Mi. Mami saja yang terlalu egois dan suka menang sendiri. Apa lagi maksa-maksq Richard buat balikan sama jal*ng itu. Tentu saja dia nggak mau Mi? Bagaimana dia mau, jal*ng itu terlalu murahan. Wanita kok mau ditiduri gratis sama semua pria!" jawab Giovan kesal.
Dasar Chelsea, wanita tak punya hati itu malah mencebikkan bibir meremehkan nasehat sang suami. Baginya, tak ada yang benar selain pemikirannya, pilihannya dan segala tentang apa yang menjadi keputusannya.
Kesal dengan sikap egois sang istri, Giovan pun memutuskan keluar rumah untuk menemui putra semata wayangnya.
***
Di lain pihak...
Yunda sedang merapikan baju-baju sang suami. Menyetrika sendiri baju pria yang telah menikahinya itu.
Sebenarnya Richard sudah sering melarangnya. Ia tak ingin sang istri kelelahan lalu sakit.
Tapi Yunda selalu punya seribu cara untuk membuat sang suami mengalah padanya.
"Ayolah bundanya Xavi, kenapa sekarang kamu jadi suka bekerja dari pada memanjakanku, hemm?" tanya Richard manja. Gemas melihat sang istri hanya tersenyum, Richard pun langsung menyerang bibir itu dengan kecupan bertubi-tubi hingga Yunda kewalahan.
"Astaga, Sayang ... kenapa kamu jadi mirip Xavi gini. Suka memaksaku. Biarkanlah dulu aku selesaikan pekerjaan ini. Nanti setelah selesai barulah kita ngobrol Oke!" ucap Yunda sembari mengelus pipi suaminya.
"Aku memang manja, Xavi adalah duplikat ku. Itu sebabnya dia juga manja," ucap Richard.
"Ya, kalian sama. Sama-sama Menggemaskan!" jawab Yunda seraya melingkarkan kedua tangannya ke leher sang suami.
Jika sudah ditantang begini tak ada alasan bagi Richard untuk tidak melanjutkan keinginannya untuk bercinta.
Kecupan demi kecupan langsung ia lancarkan. Sehingga membuat seorang Yunda kewalahan.
Sayangnya, ketika permainan mereka semakin panas. Ponsel Richard berdering.
"Papi, Yang!" ucap Richard.
"Ya udah di angkat, siapa tahu ada yang penting!" jawab Yunda. Menuruti keinginan sang istri, Richard pun menyambut panggilan itu.
"Iya, Pi!" sambut Richard.
"Bisa kamu menemui, Papi?" tanya Pak Giovan.
"Bisa, Pi. Tapi tanpa mami!" pinta Richard memberikan syarat.
"Ya, Papi hanya sendiri. Kamu tenang saja!"
"Baik, di mana papi mau ketemu."
"Di kantor kamu."
"Tapi, Pi, Richard sudah mengundurkan diri!"
"Siapa yang mengizinkanmu mengundurkan diri. Pemilik sekaligus pemegang saham tertinggi adalah aku. Dan aku belum Terima surat pengunduran diri kamu. Bagaimana kamu bisa bilang kalo itu bukan kantor kamu. Dasar bodoh!" jawab Pak Giovan tegas.
"Maafkan Richard, Pi!"
"Heemmm, bersiaplah... Papi sebentar lagi sampai."
"Baik, Pi!" jawab Richard.
Di detik berikutnya, panggilan pun berakhir. Richard menatap sang istri yang saat ini sedang menunggunya dengan tatapan mengandung cinta. Dan Richard bisa merasakan itu sekarang.
"Aku ke kantor dulu ya, Yang. Papi marah beberapa hari ini aku nggak masuk kerja," ucap Richard, terdengar memelas. Dan Yunda paham, mengapa suaminya bersikap seperti itu.
"Iya, kamu hati-hati ya. Ingat jangan biarkan dirimu termakan oleh emosi. Pikirkan dulu apa yang akan kamu katakan. Apa lagi di depan orang tuamu. Jangan sakiti hatinya. Ingat, saat ini kita berdua sedang berjuang untuk dapet restu mereka. Oke!" ucap Yunda mengingatkan.
"Iya, Sayang. Aku tahu itu. Percayalah, aku akan jaga sikap. Sekarang ada kamu, aku nggak mau bikin kamu kecewa. Aku nggak mau bikin kamu berasa tertekan hidup bersamaku. Aku mencintaimu Yunda," ucap Richard dengan tatapan mesra yang ia punya.
"Aku percaya itu, Sayang. Itu sebabnya aku nggak mau kamu menderita dalam penyesalan. Aku ingin kamu bahagia."
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih kamu udah sabar ngadepin aku," ucap Richard Terdengar memelas. Namun begitulah dia. Terlalu mencintai Yunda, hingga dia takut kehilangan.
Bersambung...