
Stres dengan desakan ibunya, Richard akhirnya memilih untuk mengemasi barang-barangnya dan memilih meninggalkan rumah yang ia tinggali.
Meski pun rumah tersebut berdiri atas jerih payahnya. Namun, tanah itu milik kedua orang tuanya. Dan Richard bukalah pria yang bisa diungkit.
Yunda dan Xavi tak bicara, ketika Richard mengajak mereka keluar dari rumah besar ini. Lalu membawa mereka ke rumah yang tidak terlalu besar. Namun, menurut Yunda, ini sudah lumayan.
Yunda mengerti bahwa saat ini kekasihnya sedang di rundung masalah. Baik masalah dengan mantan istrinya, maupun dengan ibunya. Membuat Yunda harus ektra memahami pria itu.
"Om mau makan?" tanya Yunda.
"Kamu dan Xavi makanlah. Aku akan makan nanti," jawab Richard.
"Kita boleh bersedih, Om. Tapi tidak boleh mengabaikan kesehatan. Yunda tau kalo Om saat ini sedang kecewa dengan berbagai pihak. Tapi menyiksa diri sendiri, itu nggak baik, Om. Yunda ambilkan makan ya. Yunda temenin di sini, mau?" tawar gadis ayu ini.
"Baiklah," jawab Richard memelas.
Yunda tersenyum. Lalu mengambilkan sepiring nasi dan lauk seadanya yang ia masak.
"Kamu udah makan?" tanya Richard.
"Tadi sehabis nyuapin pangeran kita, Yunda makan. Sekarang Om makan. Nanti kalo Om kurus kan jelek," canda Yunda. Richard tersenyum.
"Ada sesuatu yang harus aku sampaikan ke kamu, Yun!" ucap Richard.
"Ya, katakanlah. Aku siap mendengarkan apapun yang hendak Om katakan."
"Sekarang aku sudah tak sekaya yang dulu. Seluruh aset ku di minta kembali oleh orang tuaku. Termasuk rumah, apartemen, beberapa mobil dan perusahaan. Kita hanya punya restoran dan beberapa gerai ponsel. Apakah kamu masih mau nemenin aku dengan keadaan seperti ini?" tanya Richard.
"Om... kita hidup tidak melulu tentang harta. Tapi juga pakek ini," ucap Yunda sembari memegang dadanya. "Kalo ininya kita happy, Insya Allah semua pasti akan baik-baik saja. Kita akan jauh lebih tenang hidup bebas dari tekanan Om. Dan Yunda yakin saat ini Om sedang berusaha beras agar terbebas dari tekanan itu. Itu sebabnya Om memilih melepaskan semua harta itu kan?" tambah Yunda bijak.
"Aku nggak habis pikir, Yun. Kenapa orang tuaku begitu tega padaku. Memaksaku membina rumah tangga bersama seseorang yang tak pantas di sebut istri. Mereka mendesak ku kembali pada wanita seperti itu. Aku laki-laki, Yun. Tapi mereka mau menjatuhkan harga diriku hanya karena uang dan strata sosial. Aku nggak bisa terima itu!" ucap Richard sedih.
Richard tersenyum. Lalu mulai melahap hidangan yang disiapkan oleh kekasih hatinya itu.
***
Malam semakin larut, Yunda terlihat gelisah. Sebab tanpa Richard sadari, Yunda diam-diam menyembunyikan sesuatu darinya.
Ibunya memintanya untuk kembali ke kampung halaman. Karena seseorang yang hendak dijodohkan dengannya telah pulang dari perantauan.
Yunda tak bisa memberi tahu perihal ini pada Richard. Mengingat saat ini Richard saat ini sedang menghadapi banyak masalah.
Ingin sekali Yunda menolak perjodohan itu. Tetapi, perjodohan itu sudah di atur bahkan saat mereka masih bayi.
Yunda bingung. Tak tahu harus bagaimana bersikap.
Lima menit berlalu, Leha kembali mengirim pesan padanya bahwa bisa tak bisa Yunda besok harus pulang. Karena keluarga calon suaminya hendak melamar.
"Maafkan aku Leha, aku tidak bisa. Tolong katakan pada ibu, aku tidak bisa menikah dengan pria itu." tulis Yunda dalam pesan teksnya.
"Tapi, Kak... mereka udah berkali-kali datang. Ibu nggak tau gimana caranya nolak." balas Leha.
"Katakan pada mereka bahwa aku sudah punya pria pilihan. Aku mencintai seseorang, Ha. Aku nggak bisa ninggalin dia," tulis Yunda lagi.
"Soal itu, Kakak ngomong langsung aja ke ibu. Leha rasa, ibu bisa mengerti ini. Kasihan ibu, Kak. Di desak terus sama mereka." balas Leha.
"Ya Tuhan... apa yang harus aku lakukan. Aku tak mungkin ninggalin Om Richard dalam keadaan seperti ini. Namun, aku juga nggak bisa mengabaikan ibu. Tuhan, tolong beri aku petunjukMu," gumam Yunda sembari menatap memelas pada ponselnya.
Sungguh dua pilihan yang sangat sulit untuk Yunda. Di sisi lain, ada cintanya. Di sisi lain ada Kehormatan ibunya. Yunda berada di dalam dilema yang tak bisa ia pilih. Sungguh, Yunda tak bisa memilih keduanya.
Bersambung....