
Mendengar tempat usaha kekasihnya di rusak oleh seseorang, Richard pun marah besar dan meminta anak buahnya untuk mengejar para pelaku.
"Jangan biarkan mereka lolos. Berani sekali mereka bermain-main denganku!" Richard menatap tajam ke arah mata memandang. Rahanya mengeras seakan diam menghajar siapapun yang berani mengusik kehidupan orang-orang yang ia sayangi.
"Mereka juga menculik adik dari nona Yunda, Tuan," ucap Pak Sam.
"Hah? kenapa mereka menculiknya?" tanya Richard heran.
"Menurut informasi, wajah adik kandung nona Yunda sangat mirip dengan beliau. Mungkin mereka mengira bahwa gadis yang mereka bawa adalah nona Yunda," jawab Pak Sam lagi.
"Emmmm, aku tau siapa dalang dari semua ini. Siapkan pasukan, kita serang balik mereka!" ucap Richard tak mau kehilangan momen untuk meremukkan pertahanan musuh. Apa lagi dia sudah menduga dalang dari penyerangan ini.
"Baik, Tuan. Laksanakan!" jawab Pak Sam tegas. Setelah itu ia pun langsung keluar dari ruang kerja bosnya dan segera melaksanakan peritah tersebut.
Di luar ruangan, ternyata ada Yunda yang menunggu Richard keluar dari ruangan tersebut.
Selepas ia melihat Pak Sam keluar, Yunda pun melihat Richard keluar.
Tanpa malu, Yunda langsung menghambur kepelukan kekasihnya. Menangis menjadi-jadi si sana.
"Tenangkan dirimu. Semua akan baik-baik saja. Biar ini jadi urusanku," ucap Eicu berusaha menenangkan kekasih kecilnya.
"Aku takut, aku takut mereka menyakiti adikku," ucap Yunda.
"Tidak, percayalah. Mereka tak akan berani menyentuh adikmu. Aku pastikan mereka tak akan berani menyakitinya."
"Aku takut."
"Ya, aku tahu. Sekarang pergilah ke kamarmu. Tenangkan dirimu. Aku pergi dulu. Nanti kalo ada apa-apa aku pasti ngabarin kamu."
"Bolehkah aku ikut?"
"Tidak, jangan. Ini berbahaya!"
"Tapi bagaikan dengan Leha, dia dalam bahaya."
"Aku tahu, Sayang. Percayakan ini padaku. Wanita brengsek itu harus kita kasih pelajaran.
" Hati-hati, aku mohon!"
"Terima kasih banyak."
"Em, masuklah!" pinta Richard.
Tak ingin membuat kekasihnya kecewa, Yunda pun akhirnya masuk ke dalam kamarnya. Dan menunggu kabar yang akan di bawa oleh kekasihnya. Serta menunggu kekasih hatinya datang.
Richard tak mengizinkan dirinya pergi ke mana-mana. Sebab ia takut, kedua orang tuanya sekaligus wanita ular itu menyakitinya.
***
Leha diikat di sebuah kursi kayu dan dilakban mulutnya.
Diminta diam dan menunggu seseorang.
Leha tak melawan. Karena ia sengaja ingin tahu, siapa dalang dari penculikan ini dan apa masalahnya.
Selama orang-orang itu tidak menyakitinya maka dia berjanji dalam akan diam. Namun jika apa yang dikhawatirin oleh semua orang terjadi. Maka terpaksa Leha akan menjawab mereka dengan ilmu bela diri yang ia miliki.
Kelelahan, Leha pun tertidur...
Entah berapa jam ia tertidur. Namun ketika bangun, ia malah terkejut.
Lucunya ia masih di tempat yang sama. Di tempat di mana dia di sekap untuk pertama kali.
"Aku masih di sini toh. Kirain udah dilepasin!" gumam Leha.
Sesaat setelah ia bangun, terdengar beberapa orang ribut. Seperti meributkan kakaknya.
"Di mana gadis itu?" tanya Richard baik-baik pada anak buah Vero, yang nyatanya adalah preman-preman bodoh yang bernaung di dalam geng yang di ketuai oleh Richard itu sendiri.
"Maafkan saya, Tuan. Maaf kami tidak tahu bahwa target kami adalah saudara anda," jawab alah satu dari mereka.
"Hemm, aku maafkan kalian tapi suruh bos kalian datang ke sini. Aku ingin lihat, sejauh apa dia berani menantang ku," ucap Richard marah.
Tak punya pilihan lain, mereka pun segera menghubungi Vero dan meminta wanita itu ke markas. Karena nyatanya mereka lebih takut pada ketua yang menaungi persatuan mereka. Dari pada wanita yang membayar mereka.
Bersambung...