
Richard belum menyadari bahwa saat ini posisi Vero di kantor lebih tinggi darinya.
Saham yang dimiliki oleh Chelsea telah berpindah semua atas namanya.
Berkat kecerdikan dan tipu muslihat nya, akhirnya wanita licik ini pun berhasil mengambil seluruh saham tersebut.
"Kamu sangat hebat, Sayang. Aku bangga padamu!" ucap Albert, yang tak lain adalah kekasih Veronica sekaligus rival Richard. Pria ini mendendam karena Richard selalu menang tander di banding dirinya. Itu sebabnya ia mendekati Veronica agar bisa ia gunakan sebagai alat untuk menghancurkan Richard.
Sayangnya, Veronica yang telanjur tergila-gila dengan ketampanan dan kelembutan Albert, membuat wanita ini tak peduli dengan tujuan pria tersebut mendekatinya.
"Tentu saja, Sayang, ini semua berkat doamu. Ini semua beekat dukunganmu. Andai nggak ada kamu, aku mana mungkin berani melangkah sejauh ini, Sayang!" ucap Veronica sembari memberikan kecupan mesra di bibir kekasihnya.
"Aku salut padamu, Honey. Lihatlah, meskipun kamu babak belur begini, kamu tetap semangat buat numbangin musuh-musuh kita Termasuk keluarga pria bodoh itu!" sanjung Albert. Sengaja agar Veronica semakin besar kepala dan bersemangat untuk membuat keluarga Richard terpecah belah.
"Pokoknya selama aku masih hidup. Aku nggak akan buat merek tenang, Sayang. Apa lagi wanita tua bodoh itu. Gara-gara dia aku jadi babak belur begini!" ucap Veronica kesal.
"Tak apa lah Sayang. Toh kita kan udah dapat rewardnya. Saham 50% dari perusahaan milik keluarga mereka. Bukankah ini amazing!" bisik Albert, sengaja mengeluarkan ******* agar Veronica terpancing dan mengajaknya bercinta.
"Ah, Sayang. Ayolah. Aku sedang sakit, kenapa kamu tega menggodaku!" ucap Veronica manja.
"Aku sengaja, Honey. Biar kamu cepat sembuh. Aku rindu bercinta denganmu, Sayang!" ucap Albert lirih and manja
"Jangan sekarang, Honey. Lihatlah, tubuhku banyak luka begini. Bagaimana jika aku memuaskanmu dengan cara lain?" tanya Veronica.
"Tentu saja, Sayang. Kenapa tidak. Aku selalu menginginkan dirimu!" Jawab Albert. Kemudian dengan keterbatasan tempat dan waktu mereka pun bercinta di atas ranjang rumah sakit.
***
Yunda tak sengaja mendengarkan percakapan ibu mertua dan bapak mertuanya.
"Papi sudah menduga, bahwa mami cuma di manfaatin sama wanita berhati busuk itu. Berkali-kali papi kasih tahu mami. Tapi mami tak mau dengar!" ucap Pak Giovan marah.
"Mami tidak tahu jika surat yang mami tanda tangani ternyata adalah surat pemindahan saham, Pi. Dia bilang itu kontrak kerja kami, soal butik. Bukan perusahaan!" Jawab Chelsea di sela-sela isak tangisnya.
"Harus berapa kali papi bilang, jika wanita itu pasti punya tujuan deketin mami. Untung Richard sama sekali tidak terpengaruh. Coba bayangin jika putra kita ikutan terjerumus, Mi. Pasti habis semua harta pensiunan kita," ucap Pak Giovan kesal.
Di luar ruangan, Yunda menutup mulutnya. Tak percaya dengan apa yang ia dengar. Tak ingin menganggu perdebatan mereka. Yunda pun memutuskan untuk menunggu mereka selesai berdebat.
"Mami harus gimana, Pi? Mami takut sama Richard!" ucap Ibu Chelsea sungguh-sungguh.
"Jangan tanyakan itu pada Papi. Papi pun tak tahu harus jawab apa. Kalo Richard sampai marah, bukanlah itu wajar. Karena Mami terlalu gegabah. Tidak mau mendengarkan pendapat orang lain. Selalu menganggap diri mami adalah wanita kaya yang sempurna. Lalu menggunakan kecongkakan mami untuk menghina orang-orang yang mami rasa adalah orang miskin. Termasuk mantu kita. Sekarang lihatlah, Mi. Mantu kita jauh lebih baik dibanding wanita yang mami bangga-banggakan itu. Mantu kita sangat cintai dan menyayangi putra kita. Meskipun usia mereka jauh berbeda. Dia juga sempurna untuk ukuran seorang ibu. Lihatlah, Xavi sekarang lebih gemuk. Lebih sehat. Tak mudah sakit. Itu berkat kasih sayang siapa, Mi? Kasih sayang mantu kita. Bukan wanita jahat itu," Ucap Pak Giovan kesal.
"Cukup, Pi... aku memang sedang bermasalah dengan Veronica, tapi jangan paksa aku untuk menyukai wanita gombel itu. Sampai kapanpun aku nggak akan pernah nganggep dia mantu. Dia itu benan, Papi. Dia itu wanita miskin. Wanita miskin yang nggak tahu apa-apa. Sebab dia miskin, dia bodoh, paham!" jawab Veronica menggebu.
Giovan hanya menggelengkan kepala. Tak habis pikir dengan kekolotan sang istri. Padahal bukti jelas di depan mata. Namun ia malah bersikeras mengingkarinya.
Di luar ruangan...
Yunda menghapus air matanya, bohong jika ia tak sedih. Bohong jika hatinya tidak merasa terkoyak. Tapi mau apa dikata, mertuanya memang tidak menyukainya. Bukankah Rasa itu tidak bisa dipaksa.
"Ya Tuhan, kuatkan aku. Tolong bukalah pintu hati mertua hamba untuk hamba Tuhan. Hamba janji akan menjaga dan merawatnya jika seandainya beliau mau menerima hamba sebagai menantunya," gumam Yunda sembari menyetting hatinya untuk kuat dan menganggap ia tidak pernah mendengar ucapan menyakitkan itu.
Bersambung...