
Yunda sedang merapikan peralatan masaknya. Di bantu oleh satu asisten rumah tangga yang ada di rumah tersebut.
Tiba-tiba saja ponsel miliknya berdering. panggilan tersebut ternyata dari wali kelas Xavi.
Tak ingin membuat Sang guru menunggu, Yunda pun segera mengangkat panggilan telepon itu.
"Siang, Miss. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Yunda.
"Oh begini, Mommy. Xavi bertengkar dengan temannya. Lalu dia memukul hingga temannya berdarah kepalanya. Mohon maaf, bisakah Mommy ke sekolah sekarang?"
"Astaga! Baik Misa, saya akan segera ke sana!"
Tanpa berpikir panjang, Yunda pun segera menganti pakaiannya dan segera pergi ke sekolah Xavi dengan di antar oleh Pak Sam.
Di perjalanan menuju sekolah Xavi, Tiba-tiba saja mobil yang ditumpangi Yunda di hentikan oleh seseorang.
Ternyata orang tersebut adalah Chelsea dan Vero.
"Heh, kamu wanita jal*ng... turun kamu. Enak saja naik mobil putraku. Memangnya siapa kamu?" ucap Chelsea sembari menarik tangan Yunda dan memaksa wanita itu keluar dari mobil yang ia claim sebagai milik keluarganya itu.
Bukan hanya Yunda, Pak Sam juga menjadi sasaran mereka.
"Kau juga keluar, jangan harap kalian bisa menikmati apa yang keluargaku miliki. Dasar orang miskin yak berguna!" ucap Chelsea kesal.
Pak Sam hendak melawan, namun dengan cepat Yunda melarang. Percuma melawan mereka, yang ada pasti keributan yang lebih parah yang akan mereka dapatkan.
"Vero, kamu bawa mobil itu. Aku nggak sudi mobilku di naiki orang-orang kotor seperti mereka. Enak saja!" Pinta Chelsea seraya mendorong Yunda sehingga wanita itu hampir jatuh.
Dengan cepat, Pak Sam pun menangkap tubuh Yunda yang hampir jatuh itu.
"Lihat, Mi... mereka serasi sekali. Harusnya wanita kampung ini menikah dengan sopir ini saja. Buka dengan Richard, ayah dari putraku!" ucap Vero sembari terkekeh.
Pak Sam kembali ingin melawan, tapi Yunda tetap melarangnya. Bukannya takut, tapi Yunda punya cara lain untuk menumbangkan mereka.
Yunda hanya menatap tanpa menjawab sepatah katapun. Ia membiarkan kedua wanita berhati iblis itu menguasai apa yang mereka inginkan.
"Kenapa nona diam saja sih? Saya sudah gatal ingin menghajar wajah mereka berdua!" ucap Pak Sam kesal.
"Tidak, jangan. Mau seburuk apapun dia, wanita itu tetap ibu suamiku. Dan yang satunya adalah ibu darin putraku. Tidak masalah mereka mau apa, nanti biar urusan ini kita diskusi kan dengan Richard. Dia lebih punya hak memutuskanana yang boleh dan tidak untuk masalah kita. Paham kan!" ucap Yunda seraya mencari ponselnya hendak menghubungi Sang suami dan menceritakan apa yang kini sedang ia alami.
Beruntung Richard cepat mengangkat telpon darinya. "Ya, Sayang, ada apa? Kangen ya!" rayu pria tampan itu.
"Iya lah, aku selalu kangen sama kamu. Tapi kita ada masalah sedikit, Yang. Tadi wali kelas Xavi telpon, katanya putra kita ada masalah di sekolah. Bunda lagi mau otewe ke sana sama pak Sam. Tapi di tengah jalan kami dihadang sama mami sama mantanmu. Mereka ambil mobil kita," Jawab Yunda jujur.
"Astaga! Kenapa sih, Mami selalu aja bikin ulah. itu lagi wanita ulat bulu itu. Ya udah tunggu sebentar, aku ke sana. Aku jemput kamu ya," jawab Richard, kesal.
Tanpa menunggu waktu lagi, Richard pun segera meluncur ke lokasi. Sebelum itu, pria tamoan dengan segala kekuasaannya ini pun segera mengirim pesan teks pada ibunya. Richard meminta wanita itu agar mau menemuinya dan meminta wanita patuh baya itu untuk menjelaskan masalah yang sedang terjadi saat ini. Richard ingin meminta penjelasan, mengapa mereka bisa bertingkah seperti anak kecil ini.
Mengambil mobil yang sedang di pakai seperti merebut mainan saja.
Di seberang sana, agaknya Chelsea enggan menghiraukan apa yang putranya inginkan. Bagi wanita paruh baya ini, selama Richard belum mau melepaskan Yunda, sampai kapanpun dia tak akan membiarkan hartanya dinikmati oleh wanita itu.
Melihat jawaban anarkis Sang ibu, tentu saja darah Richard mendidih sempurna. Apa lagi Vero juga ikut-ikutan menekannya. Ingin rasanya ia mendatangi kedua wanita bodoh itu. Memarahi mereka dengan kata-kata pedas. Agar mereka sadar, bahwa apa yang mereka lakukan ini adalah tidak benar. Richard tidak bisa terima ini.
"Kau tak perlu marahkan mami, Richard. memang istri kampunganmu itu tak pantas duduk di mobil keluarga kita," ucap Chelsea di tengah-tengah panggilan telpon mereka.
"Mi, bagaimana bisa mami mengclaim mobil tersebut adalah mobil keluarga. Sedangkan itu Richard beli dengan hasil kerja keras Ricard sendiri. Jadi wajar dong kalo Richard mau kalah fasilitasi buat anak istri Richard. Kenapa mami jadi sewot!" jawab Richard berani.
"Enak saja, selama kamu jadi anak mami, maka harta kamu adalah milik mami. Mami berhak mengatur apapun perihal hartamu. Ingat Richard, omongan mami adalah surga untukmu. Maka jangan macam-macam kamu," ucap Wanita itu lagi.
"Serah Mami aja, yang jelas Richard nggak akan pernah ngebiarin mami mengacau rumah tangga Richard lagi. Apa lagi wanita ulat bulu yang sekarang sedang nempel di badan mami itu. Aku nggak akan ngebiarin dia lolos kalau sampai bermain nyakitin Yunda ku. Akan ku patahlan tulang-tulangnya bila perlu. Lalu ku lempar dia ke kandang buaya, biar di makan sekalian sama buaya!" Ucap Richard kesal.
Chelsea tak meladeni ucapan Sang putra. Karena ia tahu, saat ini Richard sedang marah sungguhan terhadapnya. Chelsea takut jika Richard bertindak anarkis. Baik dengannya atau dengan Vero. Mantu kesayangannya.