
Di dalam kamar pribadi Richard...
Yunda terlihat kaku dan tak tahu harus berbuat apa untuk melayani suaminya. Terlebih, pria yang menikahinya terlihat susah berumur. Sedangkan Richard malah sering tersenyum melihat kerikuhan sang istri.
"Kenapa kau hanya diamdiam begitu? Memangnya ada yang aneh?" tanya Richard.
"Nggak, Sayang. Yunda nggak tahu harus ngapain?" jawab Yunda jujur.
"Nggak tahu harus ngapain? Oke.. sini aku kasih kerjaan," jawab Richard seraya menarik tangan Yunda dan mengajaknya duduk di sofa.
Yunda tak menolak. Sebagai istri yang baik, Yunda hanya mengikuti apa yang suaminya inginkan.
"Duduk sini, pijitin saja kepalaku. Sepertinya pekerjaan itu cocok untukmu," jawab Richard sembari merebahkan tubuhnya dan memakai paha Yunda sebagai bantalnya.
Yunda tersenyum, lalu mulai memijat kepala pria yang menikahinya itu.
"Duh, enak sekali punya istri penurut begini. Capek ku langsung ilang jadinya," ucap Richard bercanda.
"Semoga Yunda bisa menjadi istri sholehah, seperti yang kamu mau, Sayang," balas Yunda.
"Menjadi istri yang baik atau tidak, rasaku tergantung pribadi masing-masing, Yang. Aku pernah bertemu dengan wanita yang memang tidak berniat jadi istri. Meskipun aku sudah berusaha menerima baik buruknya dia. Tapi sudahlah, kita nggak usah bahas dia. Yang penting bagiku sekarang adalah kamu. Kamu dan Xavi," ucap Richard serius.
Yunda tersenyum. Entah mengapa? Ia yakin jika pilihannya menikah dengan Richard bukanlah keputusan yang salah.
Di samping usia Richard yang matang, ia yakin Richard adalah pria dewasa yang memiliki sifat orang dewasa pada umumnya.
"Sayang, kapan kamu mau lepas hijabmu. Aku pengen melihatmu tanpa penutup kepala itu," pinta Richard, lembut.
Yunda tersenyum malu. Ini adalah permintaan wajar, tapi entah mengapa? Yunda merasa sangat malu.
"Kok cuma senyum, salah ya aku mintanya?" tanya Richard.
"Tidak. Kamu tak salah meminta itu. Ini adalah hakmu. Tapi jangan diketawain ya. Aku jelek kalo nggak pakek hijab," pinta Yunda, malu-malu.
"Kamu cantik, mana mungkin aku bakalan ketawain kamu. Aku janji nggak akan ketawain kamu. Serius!" jawab Richard sembari tersenyum senang.
Yunda menganggukkan kepala. Lalu ia pun meminta waktu sebentar untuk mempersiapkan diri.
Di lain pihak, Richard dengan setia menunggu sang istri mempersiapkan diri hendak memberikan persembahan terbaik untuknya.
Di dalam kamar mandi, Yunda langsung membersihkan diri. Mencuci rambut dan mempersiapkan diri sebaik mungkin. Karena ia telah berniat untuk membuat sang suami tidak menyesal menikahinya.
Tiga puluh menit menunggu, akhirnya Yunda keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju tidur berwana merah hati. Dengan rambut diurai hampir sepinggang. Kulitnya yang putiih, hidungnya yang mancung dengan bibir merah terlihat sangat manis dan menggemaskan bagi siapapun laki-laki yang melihatnya.
Awalnya, Richard berpikir, bahwa Yunda pasti akan terlihat biasa-biasa saja saat melepas hijabnya.
Namun, Richard salah. Yunda terlihat sangat cantik. Bahkan lebih cantik dari banyaknya wanita yang pernah ia temui selama ini.
Richard melongo sambil beberapa kali ia meneguk salivanya.
Seakan tak sabar ingin menikmati pasangan halalny.
"Kok diam, nggak cantik ya?" tanya Yunda lembut.
"Ah, nggak kok... nggak.. nggak... duduk sini, Yang. Duduk sini," ajak Richard sembari menarik Yunda dan mengajaknya duduk di sofa.
Yunda tak menolak, langsung mengikuti apa yang suaminya inginkan.
"Wow... kamu cantik sekali, Sayang. Sungguh!" ucap Richard terpesona.
"Terima kasih. Maaf, aku pakai baju yang ada di kamar mandi," ucap Yunda.
"Tidak, itu memang bajumu. Kamu boleh pilih, terserah mau pakek yang mana. Tapi sungguh, saat ini kamu terlihat sangat cantik, Sayang," ucap Richard, tak henti-hentinya ia memuji dan menatap kekasih hatinya ini.
"Makasih atas pujiannya." Yunda tersenyum.
Richard tak ingin kehilangan momen indah ini. Tanpa menunggu waktu lagi, pria dewasa ini pun langsung memberikan kecupan di bibir manis Yunda.
Tak hanya sekali ia memberikan kecupan. Berkali-kali. Bahkan Yunda sampai kewalahan mengimbanginya. Maklum ini adalah pengalaman pertama baginya. Wajah jika Yunda masih kaku.
Suasana menjadi berubah panas dan menggairahkan. Bahkan Richard mulai menjamah dada istrinya. Sayangnya, ketika kecupan Richard sampai di dada, Tiba-tiba saja pintu kamar mereka terbuka. Ternyata itu adalah Xavi. Xavi menginginkan ibunya. Sehingga mau tak mau, Richard pun menghentikan aksinya. Membuat Yunda tertawa dibuatnya.
"Iya, Sayang. Kemarilah!" ucap Yunda sesaat setelah merapikan gaun dan rambutnya yang mulai acak-acakan oleh tingkah suaminya itu.
"Kak, kenapa kakak tidak ke kamar Xavi? Xavi nungguin kakak. Kenapa sekarang Kakak lebih suka di kamar papi? Apakah kamar papi lebih besar dan bersih? Astaga, ayo lah kak sebaiknya kita tingalkan papi. Papi sudah biasa tidur sendiri!" ajak Xavi marah. Sepertinya Xavi belum menyadari jika saat ini pengasuhnya ini telah menjadi ibu sambung untuknya. Membuat Richard langsung tepuk jidat karena protes sang anak yang menurutnya masuk akal ini.
Bersambung...