
Vero tak berani menemui Richard. Wanita keras kepala ini sangat tahu bagaimana perangai mantan suaminya itu.
Jika dia berani mendekati Richard dalam keadaan seperti ini, maka tak menutup kemungkinan bahwa kepalanya pasti akan meledak detik itu juga.
"Tidak, sebaiknya aku pergi. Sebelum anak buah pria jahanam itu menyeretku kepadanya. Tidak, aku tidak ingin mati Sekaran," ucap Vero sembari memasukkan beberapa potong baju untuknua melariman diri.
Tak menunggu waktu lagi, Vero pu segera memesan tiket. Tiket untuknya melarikan diri keluar Negeri.
***
Setali tiga uang dengan Vero, Richard sendiri juga curiga bawa wanita itu pasti tidak akan bermain menemuinya.
Richard yakin, jika Vero saat ini sedang besiap melarikan diri.
"Cepat cari tau, ke mana wanita itu akan melarikan diri. Jangan biarkan dia lolos. Aku ingin sekali meremukkan tulang-tulangnya. Supaya dia jera dengan sikapnya yang pemaksa itu," ucap Richard memerintahkan.
"Baik Tuan, kami akan segera ke sana!" jawab salah satu anak buah Richard.
Tak menunggu waktu lagi, anak buah Richard oin segera berpencar. Tentu saja untuk mencari tahu, ke mana Vero akan melarikan diri.
Richard tak ingin di angap lemah oleh Vero.
Dengan kekuasaannya, Richard ingin mengubah pandangan Vero dan kedua orang tuanya, bahwa dia bukanlah Richard yang dulu. Yang mereka kenal selalu lemah lembut dan pasrah ketika mereka memaksakan kehendak.
"Aku tak akan membiarkan mu lolos. Cukup sudah kamu mempermainkan ku selama ini," ancam Richard marah.
"Antarkan gadis itu kemabali ke tempatnya. Kembalikan kondisi warung yang kalian rusak seperti sedia kala. Jika tidak, kepala kalian pun akan ikut ku ledakkan. Paham!" ucap Richard seraya menatap ketiga preman itu.
"Baik, Bos. Maafkan kami," jawab salah satu dari mereka.
Tak ingin kehilangan jejak Vero, Richard pun segera melangkah meninggalkan tempat itu. Sedangkan di sini lain, Leha yakin bahwa pria tinggi besar dan bermata biru itulah dalang dibalik penculikannya.
Ketiga preman itu datang mendekatinya, lalu melepaskan ikatan mulut dan tangannya. Setelah itu segera menarik Leha. Berniat mengantarkan gadis itu kembali ke tempat asalnya.
"Tak usah buru-buru, Nona, kami yang akan mengantarmu."
"Aku tau itu. Tapi bos kalian tadi kan yang nyuruh. Pasti dia malu anak buahnya nggak becus kerja. Salah tangkap kan kalian," ledek Leha.
"Sebaiknya kau diam, atau kamu robek mulutmu!" ancam salah satu dari mereka.
"Astaga, galak amat. Kan saya cuma nanya, Bang. Aelah, gitu aja!" jawab Leha seraya naik ke dalam mobil yang akan mengantarkannya pulang.
"Duduk diam, awas cerewet. Kami turunin kau ke jalan. Paham!" ancam salah satu dari mereka setelah mobil mulai melaju pelan.
"Iya, Om. Saya paham. Saya bakalan diam kok. Lagian kan saya aman ini. Saya akan diam, Om. Ampun ya, ampun!" ucap Leha.
"Makanya diam. Gara-gara kamu, kami jadi rugi semua-semua. Bayaran baru dapet separo, sekarang suruh benerin warungmu pula. Apa nggak pengen nangis kita," ucap preman yang ada di samping Leha.
Ingin Leha tertawa dengan sikap cengeng pria bertato itu. Ternyata, penampilan sangar tak menjamin seseorang bisa tegar menghadapi masalah. Apa lagi menyangkut uang.
"Sabar, Om. Ini kan ujian. Nanti Om juga bakalan dapat. Tenang aja," ucap Leha menenangkan.
"Benarkah?"
"Ya Om, kalian pasti dapat," jawab Leha asal. Padahal dalam hatinya ia tertawa. Ternyata preman pun bisa semelo itu.
***
Vero berteriak meminta tolong ketika anak buah Richard menyerat dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Wanita ini meronta marah. Beberapa kali terdengar ia mengucapkan sumpah serapah nya. Namun sayang, teriakan dan ucapan sumpah serapah itu seakan tak berpengaruh buat anak buah Richard yang kini menahannya.
Bagi mereka mau bagaimanapun, tugas adalah tugas. Tak ada yang bisa menghalangi itu. Apa lagi, ini adalah printah dari Richard. Tak ada alasan yang bisa menolak itu.
Bersambung