
Tak sabar melihat kemesraan itu, Vero pun langsung turun dari mobil dan menghampiri dua sejoli yang kini sedang mabuk asmara itu.
"Hay, kamu... berani sekali deketin ayah anakku!" ucap Vero, emosi. Tak kuasa menahan amarah, Vero pun langsung melayangkan tamparannya tepat di pipi Yunda. Membuat Yunda terkejut setengah mati.
"Vero.... apa-apaan kamu! Berani sekali kamu menamparnya!" bentak Richard marah. Richard langsung mendekap Yunda, agar Vero tak kembali menyerangnya.
"Heh, belain terus wanita ****** ini. Dia udah kurang ajar Richard. Dia tak tau diri, karena berani mendekatimu," jawab Vero, marah.
"Apa hakmu melarang seseorang untuk dekat denganku, ha?" tanya Richard.
"Aku ibunya Xavi, aku lebih berhak mendekatimu dari pada dia. Jangan lupa Richard, ada Xavi di antara kita," jawab Vero berani.
"Sebaiknya kamu kompres keningmu itu. Lalu kau berkaca. Kita sudah tidak ada hubungan apapun Vero. Sejak kamu meninggalkan kami. Ingat itu. Dan aku sarankan, sebelum kami berbicara, sebaiknya pikirkan dulu. Xavi tidak membutuhkan ibu sepertimu. Tapi seperti dia. Karena dia yang selalu ada di saat Xavi membutuhkan. Paham!" balas Richard marah.
"Aku juga mau ada untuk dia, Richard. Tapi kamu nggak pernah mengizinkannya. Kamu selalu menghalangi langkahku untuk menemui putraku. Lalu salahku di mana?" tanya Vero.
"Salahmu? Kamu ingin tahu salahmu? Oke. akan aku tunjukkan salahmu. Salahmu adalah terlalu murah jadi wanita. Dan aku muak dengan itu. Paham kan sekarang! Jadi sebaiknya kamu pergi, atau aku panggilkan security untuk menyeretmu keluar dari komplek ini. Ingat Vero, perceraian kita terjadi karena penghianatanmu. Jadi jangan menghakimi orang lain atas kesalahan yang kamu lakukan. Ingat itu," jawab Richard lantang.
"Kamu... kamu... kamu selalu seperti itu Richard. Kamu tak pernah memberiku kesempatan untuk berubah. Kamu nggak pernah memberiku kesempatan untuk jadi ibu yang baik untuk Xian. Kamu keterlaluan Richard," ucap Veronica seraya meninggalkan kedua sejoli itu dengan isak tangisnya.
Sedangkan Richard malah memeluk penuh cinta kekasihnya. Agar Yunda bisa meredakan rasa shock yang saat ini menderanya.
"Saya Oke, Om. Om tenang saja," ucap Yunda seraya menjauhkan tubuhnya dari dekapan Richard.
"Maafkan aku. Maaf aku lalai menjagamu," ucap Richard lembut.
"Nggak pa-pa Om. Yunda baik-baik saja kok. Sebaiknya Om tak usah terlalu emosi kalo ngadepin dia. Takutnya dia makin barbar. Sebaiknya diamkan saja. Yang pnting kita sudah sama-sama tahu, bahwa dia dan Om tak lagi bisa sama-sama. Oke."
"Kamu benar, sebaiknya aku memang tak boleh terlalu menghiraukan dia. Rasanya aku makin tertekan jika melihat wajahnya. Apa lagi harus beradu argumen dengannya. Rasanya lelah sekali," jawab Richard jujur.
Yunda tersenyum. Tak ingin membuat Richard kembali tertekan dan akhirnya stres, Yunda pun mengajak kekasihnya itu untuk pulang. Agar Richard bisa mengistirahatkan jiwa dan raganya.
"Jangan pikirkan apapun. Tenangkan dirimu. Apapun yang terjadi pada kita, sebaiknya kita anggap sebagai hiasan dalam hubungan kita. Om paham kan maksud Yunda?" tanya Yunda ketika Richard mengantarkannya ke kamar pribadi gadis itu.
"Tentu saja, asal ada kamu di sampingku, aku yakin pasti bisa melewati semua ini. Tolong jangan tinggalkan aku," pinta Richard memohon.
"Ya, demi kamu dan Xavi, aku janji nggak akan pernah ninggalin kalian," ucap Yunda, sungguh-sungguh.
"Aku pegang kata-katamu. Di hari ulang tahun Xavi nanti, aku ingin melamar mu. Aku ingin memberikan ibu untuknya. Ibu yang mencintainya. Mau kan kamu jadi ibunya Xavi?" tanya Richard serius.
"Jika Tuhan mengizinkan, kenapa tidak?" jawab Yunda tulus.
Richard tersenyum. Tersenyum bahagia. Ia percaya bahwa apa yang diucapkan kekasihnya itu pasti bukan ucapan biasa. Melainkan sebuah harapan. Harapan yang mengandung doa.
"Apa kamu keberatan kalo besok aku ke tempat orang tuamu?" tanya Richard.
"Ya, aku ingin hubungan kita segera halal."
Yunda tersenyum malu. Namun bahagia, ternyata Richard sangat menghargai cinta suci di antara mereka.
"Boleh, silakan!" jawab Yunda malu-malu.
"Oke, kamu masuk sana."
"Om duluan saja. Nanti kalo Om masuk, Yunda juga masuk."
"Benar ya."
"Iya!"
Sebelum mereka berpisah, terlebih dahulu mereka saling melempar senyum. Saling berucap salam selamat malam. Seperti sepasang kekasih pada umumnya. Dan mereka bahagia dengan gaya pacaran mode dewasa mereka. Cinta yang tulus, setulus-tulusnya. Menekan nafsu sedemikian rupa. Hingga tersisa rasa penasaran yang menggebu. Namun, mereka bahagia. Bahkan sangat bahagia.
***
Di lain pihak, Vero tak terima karena telah dibuat malu oleh Richard di depan rivalnya. Untuk membalas sakit hatinya itu, Vero berniat mencelakai Yunda.
Tak peduli dengan resiko yang akan ia hadapi, bagi Vero, membuat gadis itu cacat selama-lamanya adalah tujuan utamanya. Agar Richard tak lagi mencari Yunda. Kalau bisa, Vero malah ingin gadis itu lenyap dari dunia ini.
"Aku mau wanita itu cacat seumur hidupnya. Jangan biarkan dia mendekati Richard ku lagi. Kalian paham!" ucap Vero.
"Baik, Nyonya. Kami akan segera mengeksekusi perintah anda."
"Usahakan saat melakukan tindakan, jangan sampai dia bersama putraku. Aku tak mau putraku kenapa-napa, paham!" ucap Vero mengingatkan.
"Baik, Nyonya. Kami pastikan tidak akan terjadi apa-apa dengan putra anda. Asalkan anda membayar kami sesuai harga kesepakatan," ucap pria itu.
"Masalah bayaran, kalian tak perlu khawatir. Sm dia susan ku atur. Malam ini aku tranfer. Aku mau besok siang gadis itu sudah tak di rumah itu lagi. Paham!" jawab Vero, semangat.
"Baik, Nyonya. Percayakan semua pada kami," jawab pria itu.
Veronica tertawa senang. Ia tak peduli apakah tindakan ini menyakiti sang putra. Yang jelas ia tak rela jika Richard dimiliki oleh wanita lain, selain dirinya.
Bersambung...
Sambil nunggu Richard update, kalian bisa kepoin karya sahabat emak😍😍