Om Duda I Love You

Om Duda I Love You
Ketahuan



Richard menerima surat dari kuasa hukum Veronica yang menyatakan bahwa wanita itu ingin mengajukan gugatan hak asuh untuk putra semata wayangnya. Tentu saja, berita ini pun membuat Richard naik darah.


"Katakan pada bosmu itu, sebaiknya jangan habiskan uang percuma hanya untuk sesuatu yang tidak akan pernah dia dapatkan. Selama kau masih hidup, Xavi adalah milikku. MILIKKU! Jadi, jangan pernah bermimpi untuk memiliki putraku. Paham!" jawab Richard ketika kuasa hukum itu menyodorkan berkas yang hendak mereka ajuka ke pengadilan.


"Maaf, Tuan... Ibu Vero adalah ibu kandung dari putra anda dan menurut undang-undang, dia lebih berhak dari anda. Karena anak kalian berjenis kelamin laki-laki," jawab pria botak itu.


Richard tertawa mendengar penjelasan bodoh itu. Andai Richard memiliki waktu, dia pasti akan memakai pria botak ini.


"Sebelum anda bicara demikian, alangkah baiknya jika anda pelajari terlebih dahulu kasus kami. Jika sudah, silakan laporkan hasilnya pada saya. Saya akan menggaji tiga kali lipat dari uang yang wanita jal*ng itu kasih ke anda. Paham!" tantang Richard.


Tak ingin emosinya semakin meledak. Richard pun memutuskan untuk meninggalkan pengacara sialan itu dan meminta sekertarisnya untuk menghubungi kuasa hukumnya untuk mencari cara agar bisa mengantisipasi serangan wanita itu.


***


Richard meminjat kepalanya yang terasa pening. Rasanya malas sekali berpikir. Tapi semua masalah yang terjadi padanya seperti tak pernah usai.


Urusan kantor, urusan Veronica dan sekarang ia harus pergi ke rumah sakit untuk merawat buah hatinya.


Sengaja Richard pulang lebih awal. Karena ia ingin memberikan waktu lebih lama untuk sang putra.


Sebelum sampai di rumah sakit, tak lupa, Richard pun mampir ke toko roti kesukaan Xavi. Tentu saja ini adalah bentuk cintanya untuk sang putra.


"Bagaimana perkembangan Xavi? Apakah panasnya sudah turun?" tanya Richard pada Pak Sam yang ditugasi untuk menjaga Xavi selama dua puluh empat jam.


"Hari ini suhu tubuh Tuan Muda sudah normal, Tuan. Sudah mau makan juga," jawab Pak Sam.


"Oh, baguslah. Semoga dia selalu semangat untuk sembuh," balas Richard.


Gimana nggak semangat Tuan, orang beberapa hari ini dia ditemani cewek cantik. Dibawain makanan, dirawat, disuapin, ditemenin, diajak becanda. Pokoknya dibikin happy lah hatinya, gumam Pak Sam dalam hati.


Sayangnya Pak Sam tak berani menyampaikan itu. Bahkan ia sengaja menyembunyikan fakta itu.


"Sapri sama Pindu masih di sana kan?"


"Masih Tuan, mereka tidak pernah pulang. Mereka setia jagain Tuan Muda, kok," jawab Pak Sam.


"Bagus! Kalo Xavi sembuh kalian pasti ku kasih bonus. Yang penting kalian harus ingat, Xavi tak boleh bertemu dengan wanita manapun. Baik itu ibunya atau gadis penculik itu. Aku tak suka!" ucap Richard memperingatkan.


Matilah... maafkan aku Tuan, maafkan kami. Karena kami sudah banyak berbohong sama anda. Khususnya saya. Tapi mau gimana lagi, saya nggak tega sama Tuan Muda, Tuan. Kasihan, dia masih kecil, butuh perhatian seorang ibu. Gumam Pak Sam lagi.


Sesampainya di rumah sakit, Pak Sam memarkir mobil yang ia kendarai di tempat yang sudah di sediakan.


Dengan sopan, Pak Sam pun membukakan pintu untuk bos besarnya ini. "Silakan, Tuan!"


"Emmm, Oiya Pak Sam, Tolong beli makan dong. Aku lapar. Sekalian buat Pak Sam sama merka yang di atas ya. Ini uangnya," ucap Richard sembari menyerahka beberapa lembar uang pada asistennya itu.


"Ba-baik, Tuan!" jawab Pak Sam. Padahal sebelum pergi menjemput bosnya, Pak Sam dan kedua temannya sudah makan. Makan masakan yang dibawakan Yunda dari warung.


Tapi tak apalah makan lagi, dari pada ketahuan, batin Pak Sam.


Tak ingin membuat sang bos curiga, Pak Sam pun bergegas pergi. Pergi untuk membeli makanan untuk pria itu.


Sedangkan Richard langsung melangkahkan kakinya menuju kamar Xavi di rawat.


***


Di lain pihak, karena kelalaian Pak Sam, ledua sahabatnya, Sapri dan Pindu jadi gelagapan.


Bagaimana tidak?


Di dalam sana, masih ada Yunda.


Gadis yang dilarang keras datang menemui Tuan Muda mereka.


Tak ada pilihan lain, mereka pun pasrah. Pasrah jika kali ini mereka kena pecat.


"Ya Tuhan, matilah kita," bisik Sapri pada Pindu ketika melihat bos mereka keluar dari lift dan berjalan ke arah mereka.


"Dah lah, pasrah. Dasar Samsuri sialan. Bukannya telpon dulu tadi kalo udah otw. Kalo begini, mati bareng lah kita. Termasuk nona yang ada di dalam," balas Pindu.


Gemetar, sudah pasti. Bohong jika mereka tidak takut dengan amukan bos mereka ini.


Namun, sekali lagi, mereka tak punya pilihan lain. Cepat atau lambat, apa yang mereka lakukan ini pasti ketahuan.


Benarkan?


Bersambung...