
"Gimana? Kamu mau nggak? enak loh, tiap hari kamu bisa ketemu Xavi. Kamu tinggal di tempat ku. Rumahmu bisa kamu sewakan semua. Baik yang atas, mau pun yang di bawah. Jadi pemasukan bulanan kamu bertambah. Katanya mau sekolahin adik sampai sarjana," bujuk Richard, mencoba menularkan jiwa bisnisnya pada Yunda.
"Mau sih, Om. Saya tertarik juga. Tapi gimana warung ibu? Masak tutup?" tanya Yunda, ragu.
"Ya nggak lah! Kamu bisa sewain warung kamu ke orang. Atau nggak kamu cari orang aja buat jaga warung kamu."
"Emang bisa Om begitu?" tanya Yunda lugu.
"Bisa lah, jadi gini... nanti kan Xavi sekolahnya pagi. Pas pangeranmu itu ada di sekolah, kamu pergi ke warung. Kontrol bisnis kamu. Nanti jam Xavi pulang sekolah kamu kembali kerja lagi, jaga Xavi. Soal kontrakan, nanti aku bantu kamu ngembangin. Jadi semua bisa seimbang. Aku bantu ngembangin bisnis kamu. Kamu bantu aku jaga Xavi ku, gimana?" tawar Richard.
"Emang bisa ya Om begitu?" tanya Yunda, Lagi-lagi dengan wajah lugunya. Membuat Richard ingin tertawa.
"Bisa, kenapa enggak. Sekarang kamu lagi belajar sama masternya. Sini bayar! Biaya les bisnis mahal loh," canda Richard.
"Ahhh... Om, saya kan serius."
"Aku juga serius."
"Emmm, coba saya diskusi sama ibu dulu ya, Om. Kalo soal jaga Xavi, saya pasti mau Om. Tapi untuk kerja sama Om, saya pikir-pikir dulu deh," jawab Yunda.
"Emang kenapa kerja sama aku? Kau lihat tiga pria itu, mereka ikut denganku sebelum ada Xavi. Sebelum aku nikah malah. Nyatanya awet. Berarti apa? Berarti aku baik," ucap Richard membela diri.
"Hilih, baik konon. Om kalo marah, dari ujung Gang ampek ujung Gang lagi, suaranya kedengeran. Serem Om. Merinding nih bulu kuduk Yunda," jawab gadis itu asal.
"Enak aja, ya nggak lah. Kamu ini."
"Seriusan Om, saya saja takut sama Om. Eh nggak sih, nggak takut, cuma... ahhh... entahlah!" jawab Dini, lagi-lagi dengan keluguan yang manis.
"Ya, terserahmu saja lah. Yang penting kamu mau jaga Xavi. Itu saja."
"Saya tanya ibu dulu ya Om."
"Iya, nggak pa-pa. Kamu tanya dulu sama ibumu sama adekmu juga. Tapi aku berharap kamu dan aku bisa kerja sama. Toh kerja sama kita saling menguntungkan."
Yunda menganggukkan kepala. Sepertinya tidak buruk juga jika bekerja sama dengan ayah sahabat kecilnya ini. Namun tetap saja. Ia harus meminta persetujuan ibunya.
Tepat pukul sebelas siang, pemeriksaan Xavi pun selesai. Kini bocah tampan itu sudah kembali ke ruang rawatnya.
Senyum mengembang di bibir Yunda dan juga Xavi. Membuat Richard ikut merasa senang melihat keduanya.
"Xavi makan ya, Papi suapin!" ucap Richard, mencoba menjadi ayah yang baik untuk putra semata wayangnya.
Xavi menggeleng. Sepertinya dia belum lapar. "Eh, kok nggak mau. Nanti kalo Xavi nggak mau makan, Kak Yunda nya Papi suruh pulang loh!"
Bukannya Xavi merajuk. Kini malah Yunda yang merajuk. Astaga, Richard berasa memiliki dua anak.
"Salah lagi aku?" ucap Richard.
"Ya iya lah Om. Bujuk bocah jangan begitu. Kalo nggak mau makan jangan diancam. Diajak main, atau apa gitu Om."
"Ahh, ya sudah lah... kamu saja yang ngerjain. Bujuk dia supaya mau makan. Sebaiknya aku kerja saja. Pusing aku ngurus kalian," ucap Richard seraya kebali ke sofa dan memulai pekerjaannya yang tertunda. Sedangkan Xavi dan Yunda hanya tersenyum melihatnya.
Yunda mengambil ponsel barunya dari tas. Ingin menyampaikan pesan untuk para pelanggannya, bahwa hari ini warung tutup.
"Wahhh... ponsel Kakak baru?" tanya Xavi dengan candaan khasnya.
"Kredit? Apa itu kredit?" tanya Xavi polos.
"Kredit... apa ya... ngutang. Hahahah... iya boleh ngutang," jawab Yunda. Lalu keduanya pun tertawa. Sedangkan Richard yang penasaran dengan candaan mereka, langsung meletakkan laptop dan menghampiri mereka.
"Apa yang lucu?" tanya Richard. "Bukankah kau ku suruh nyuapin putraku, kenapa malah main handphone?" tambahnya.
"Duhhh... sebentar atuh Om. Kan Yunda mesti kasih tau pelanggan Yunda kalo hari ini warung libur. Kasihan yang biasa makan di sana, kalo nggak tahu," jawab Yunda.
"Oh, oke.. cepat kasih tau mereka. Jangan sampai pelangganmu kecewa," balas Richard.
"Baik, Om!" Yunda pun mulai mengetik pesan untuk pelanggannya.
Richard memerhatikan gadis itu. Yunda mulai serius mengetik pesan untuk para pelanggannya yang sering makan di warung miliknya.
Richard sedikit kesal melihat ponsel Yunda.
"Kenapa ponselmu jelek sekali?" tanya Richard.
"Ehhh... enak aja, ini baru Om. Boleh kredit," jawab Yunda penuh percaya diri.
"Baru.. astaga, sini aku lihat," ucap Richard seraya merebut ponsel Yunda dan memperhatikannya.
"Kalo beli ponsel itu yang mahal dikit tapi bagus. Awet dipakeknya. Cari fiturnya yang mengikuti perkembangan jaman. Kalo ini apaan ini? nggak lengkap sama sekali," ucap Richard sembari membolak balikkan ponsel itu.
"Ya Om, ini aja boleh kredit. Mana saya mampu beli yang kek Om bilang. Nggak pa-pa lah Om. Yang penting kan bisa halo. Bisa kirim pesan. Gitu aja sudah. Dari pada yang kemarin ya, Vi... baru juga saya bilang, Halloo Om.. ini Xavi ada di sini.... Ehhh... tiba-tiba mati. Hahahha, kesel banget rasanya," jawab Yunda seraya melepaskan tawanya. Sedangkan Xavi dan ayahnya hanya tersenyum. Diam-diam mereka miris dengan kehidupan Yunda.
"Kalo kamu mau jaga Xavi, nanti kamu ku kasih ponsel yang bagus. Mau?" bujuk Richard. Bujukan maut. Yunda tertawa.
"Ah Om, itu lagi dibahas. Om nggak perlu begitu ke saya. Saya mau jaga pangeran tampan ini. Cuma saya mesti izin dulu sama ibunda ratu di rumah. Oke!" jawab Yunda, sedikit bercanda agar suasana tidak sekaku biasa.
"Oke." Richard tersenyum.
"Kakak nggak usah takut soal ponsel, Papi punya banyak di pabrik, ya kan Pi?" ucap Richard.
Richard tersenyum.
"Benarkah? Om punya pabrik henpon? Wahhh... berarti Om kaya dong?" tanya Yunda, terkesima.
"Nggak juga, biasa aja." Richard mengusap rambut sang putra, memberikan kecupan di kening sang putra. Setelah itu ia pun kembali ke sofa untuk bekerja.
"Wahhh... Xavi, apakah papi kau sekaya itu?" bisik Yunda.
"Entah, tanya saja."
"Issh... mana aku berani. Kamu nggak lihat mata biru papimu. Kakak takut. Merinding tau," ucap Yunda. Tawa Xavi kembali menggema. Menertawakan kelucuan kedua orang yang ia sayangi ini.
***
Di sisi lain, orang tua Richard sudah sampai di kediaman pria itu. Namun, seseorang yang mereka cari tidak ada di sana, tapi ada di rumah sakit.
Tanpa memunda waktu lagi, kedua orang tua itu pun segera menyusul mereka ke rumah sakit.
Bersambung....