
Keesokan harinya di kediaman orang tua Yunda...
Richard datang bersama Xavi dan juga Yunda. Bermaksud meminta restu ibunda Yunda.
"Bukan ibu nggak mau merestui kalian. Tapi ibu sudah janji dengan keluarga Rahman, nduk. Kamu tau kan, kalo kalian udah dijodohin sejak kecil," ucap ibunda Yunda.
"Tapi, Bu. Yunda nggak mau nikah sama Rahman. Ibu tau bagaimana keluarga mereka. Mereka rentenir kejam, Bu. Yunda nggak mau," jawab Yunda memelas.
"Sayang, mengertilah posisi ibu. Ibu nggak punya pilihan lain." Ibu Nining menatap sang putri dengan tatapan sendu.
"Sebelumnya saya minta maaf, Bu. Saya dan Yunda, kami saling sayang. Tolong restui kami," pinta Richard serius.
"Bukan ibu nggak mau merestui kalian. Tapi ibu sudah janji dengan keluarga calon suaminya Yunda. Ibu nggak bisa ingkar. Maafkan ibu ya," jawab Bu Nining. Terlihat jelas di sana bahwa dia pun sebenarnya melihat cinta di antara mereka harus kandas gara-gara restu darinya.
"Terserah ibu, tapi Yunda tetap mau nikahnya sama bang Richard. Pokoknya sampai kapanpun Yunda nggak mau nikah sama Rahman, Bu. Nggak... pokoknya nggak!" jawab Yunda, menangis hiteris membuat ibu Nining bingung. Bagaimana harus menghadapi Yunda.
"Sayang... " Ibu Nining berusaha membujuk putrinya.
"Tidak, ibu selalu nggak ngizinin Yunda buat milih. Bahkan untuk jodoh. Ibu jahat. Yunda nggak mau pulang lagi. Terserah. Terserah ibu saja. Pokoknya sampai kapanpun Yunda nggak akan pernah mau nikah sama pria itu. Nggak ibu... " tolak Yunda.
Tak banyak kata, Yunda pun langsung mengajak Richard dan Xavi pergi. Pergi meninggalkan kediaman ibunya.
Sayangnya, saat mereka hendak melangkah hendak kembali ke mobil, beberapa orang suruhan orang tua Rahman datang ingin menghakimi Richard.
"Ada apa ini?" tanya Richard pada segerombolan orang yang tak ia kenal.
"Apa tujuanmu datang ke kampung kami. Kenapa tidak izin terlebih dahulu pada kami?" tanya salah satu dari mereka sok jagoan.
"Untuk apa saya harus izin dulu dengan kalian. Saya datang ke sini tanpa menginap. Bahkan belum ada 24 jam," jawab Richard tegas.
"Kami adalah penguasa daerah sini. Dan apa kau tau, gadis yang saat ini sedang kau gendeng itu, dia adalah calon menantu bos kami. Jadi sebaiknya jauhi dia, atau kau akan menyesal!" ucap pria sok penguasa itu.
Richard tertawa. Menurutnya, ancaman itu hanya sekedar gertakan. Para preman bodoh itu sepertinya tidak tahu, bahwa diam-diam, ternyata Richard juga membawa pasukan.
Richard yakin, sang ibu tidak mau kalah cepat dengan dirinya.
"Kenapa kau tertawa? Brengsek, datang ke daerah orang tanpa izin. meremehkan pula!" ucap preman tersebut.
Benar saja, tak lama kemudian seorang pria berperawakan pendek dengan perut buncit persis ala-ala bos rentenir pada umumnya. Turun dari sebuah mobil jeb yang baru datang.
"Oh, jadi ini bajingan yang mau merebut calon mantuku!" ucap pria pendek itu.
Richard masih berusaha tenang. Karena ia yakin, pria yang saat ini ada di depannya adalah pria yang bersama ibunya di foto yang ia Terima beberapa jam yang lalu. Richard tertawa meremehkan, karena ia telah memegang kartu As yang ada di dalam diri pria sok kuasa itu.
"Sebaiknya ada Berhati-hati, Tuan. Saran saya, sebaiknya anda cari tahu dulu siapa lawan anda," ucap Richard mengingatkan.
"Ahhhh, sebaiknya kau jangan banyak bac*t. Serang dia," ucap pria itu.
"Tunggu... sebaiknya anda jangan gegabah, Tuan. Apakah anda tidak tahu jika.... " ucap Richard sembari memberi kode apada anak buahnya untuk menunjukkan diri.
Beberapa pasukan milik Richard pun keluar dari tempat persembunyiannya. Memakai sragam kesatuan mereka. Membuat pasukan milik pria itu langsung gentar.
"Sial! Ternyata kita salah lawan Bos!" bisik salah satu anak buah pria pendek itu.
"Memangnya dia siapa?" tanya pria pendek itu.
"Bos nggak tau, mereka itu Singa Lentera, Bos. Persatuan mereka paling ditakuti di seluruh kenjuru negeri, Bos. Aku rasa, pria yang ada di depan kita ini, pasti bosnya, Bos. Sebaiknya kita mundur, jika tidak, yakin... kita pasti pulang tinggal nama," jawab anak buah pria itu lagi.
"Sial... nggak emaknya, nggak anaknya, ternyata mafia. Cepat cabut, aku malas berurusan dengan cecunguk bodoh ini," ajak pria itu tanpa basa-basi lagi. Sebab pasukan yang dibawa Richard, ternyata sangat banyak dan hampir tidak bisa di hitung dengan jari. Membuat pasukan pria pendek itu memilih mundur.
Yunda yang melihat kekuatan Richard, tentu saja langsung mengkidik ngeri. Terlebih ketiga ajudan yang biasa menjaga Xavi juga ada di sana.
Richard sedang bercengkrama dengan mereka. Entah apa yang mereka bicarakan. Yang jelas, saat ini Yunda tau, jika dirinya sedang terlibat asmara dengan seorang bos Mafia.
Bersambung...