Om Duda I Love You

Om Duda I Love You
Suhu Tubuh Xavi



Pak Sam sampai di rumah Yunda tepat pukul satu tengah malam. Beruntung Yunda masih mau membuka pintu untuknya.


"Ada apa, Pak?" tanya Yunda masih setengah sadar. Karena ia baru saja terbangun oleh ketukkan pintu Pak Sam.


"Maaf, Non, menganggu. Saya datang ke sini bawa kabar yang kurang baik, Non," ucap Pak Sam.


"Kabar kurang baik? Apa itu Pak Sam?" tanya Yunda.


"Tuan muda, Non. Tuan Muda ngedrop lagi. Suhu tubuhnya naik. Badannya mengigil. Muntah terus. Tuan besar panik, Non. Kita nggak tahu mesti gimana?"


"Astaghfirullah... tunggu sebentar, Pak. Saya ambil jaket sama tas dulu. Sebentar ya... " ucap Yunda sembari membalikkan tubuh hendak mengambil barang-barang yang ja sebutkan tadi. Namun langkahnya terhenti ketika ia teringat oleh ucapan Richard tadi siang.


"Eh sebentar, Pak Sam. Nanti kalo Tuan besar marah gimana?" tanya Yunda. Pertanyaan wajar menurut Pak Sam. Tapi mau bagaimana? Toh ini memang wajib mereka jelaskan.


"Tenang Non, Tuan Besar yang minta juga kok. Mari.. kasihan tuan muda udah nungguin," ucap Pak Sam.


"Oke, sebentar, lima menit oke!" jawab Yunda seraya berlari ke kamarnya. Tentu saja untuk mengganti baju dan mengambil jaket serta tasnya. Tak lupa dalam setiap gerakannya itu, ia memanjatkan doa untuk keselamatan dan kesembuhan sahabat kecilnya.


Sungguh Yunda sangat khawatir dengan keselamatan bocah tampan itu.


Andai dia tidak punya tanggung jawab dengan para pelanggannya di warung dan tak ribet dengan izin Richard menemui sahabatnya itu, mungkin Yunda akan lebih sering ke rumah sakit untuk merawat bocah itu.


"Semoga saja setelah ini, si om mau suka rela kasih aku izin buat ketemu kamu ya dek," gumam Yunda penuh harap.


Lima menit berselang, Yunda pun siap.


"Pak Sam, yuk! Yunda bawa motor sendiri apa gimana?" tanya Yunda.


"Nggak usah Non, kita bawa mobil kok," jawab Pak Sam.


Yunda melongokkan kepalanya. Melihat mobil hitam yang di pakai Pak Sam. Buka mobil biasa yang dia pakai untuk mengantar Xavi ke rumahnya.


"Mobilnya ganti, Pak?" tanya Yunda.


"Iya Non, ini mobil Pak bos sebenarnya. Tapi bawanya pas ini, ya udah pakek yang ini," jawab Pak Sam sembari tersenyum.


"Ohhh, tapi nggak pa-pa, Pak, aku naik mobil om galak. Nanti dia marah. Saya bawa motor aja deh Pak!"..


" Nggak usah Non. Non tenang aja. Orang ini yang nyuruh juga dia. lagian bahaya cewek naik motor malam-malam."


"I.. iya deh!" jawab Yunda seraya mengikuti langkah Pak Sam.


Dalam perjalanan ke rumah sakit, beberapa kali Yunda menggosok-gosokkan keduanya tangannya. Di samping untuk mengusir rasa dingin ia juga ingin mengusir kegugupannya. Kegugupan karena bertemu hendak dengan om galak itu.


"Napa, Non?" tanya Pak Sam.


"Santai aja, Non. Sebenarnya tuan besar nggak galak kok. Hanya saja dia pernah dikhianati, makanya dia agak jaga jarak dengan perempuan. Yang sabar ya, Non," jawab Pak Sam.


"Ohhh... begitu. Tapi serah dia lah Pak. Yang penting niat kita kan baik. Nggak ada niat aneh-aneh!" balas Yunda.


Tak lama berselang, keduanya mengakhiri obrolan.


Tiga puluh menit berlalu, mobil yang dikendarai oleh Pak Sam sampai di rumah sakit.


Yunda tak sabar. Ia pun langsung turun dan berlari ke ruang di mana Xavi di rawat.


Di depan ada Pak Pindu yang sedang berjaga. Sedangkan Pak Sapri tidak ada. Mungkin beliau sedang istirahat.


Melihat kedatangan Yunda, Pak Pindu langsung membukakan pintu.


Yunda masuk... Pelan namun pasti, Yunda terus melangkah mendekati ranjang Xavi. Terlihat di sana Richard sedang mengelus punggung sang putra. Kesedihan tampan jelas terlihat dari tatapan duda tampan itu pada buah hatinya.


Yunda ingin menyapa Richard, tapi takut. Ia pun mengurungkan niatnya untuk bercengkrama dengan pria angkuh itu. Yunda langsung memfokuskan perhatiannya pada sahabat kecilnya ini.


Tak banyak bicara, Yunda langsung meletakkan tas punggungnya, mencuci tangan, melepaskan jaket, setelah merasa bersih, Yunda langsung menyentuh kening Xavi. Memeriksa sahabat kecilnya itu.


"Ya Tuhan, panas sekali!" ucap Yunda. Tanpa berpikir panjang, Yunda pun bertindak mengambil baskom dan mengisinya dengan air hangat. Mencari beberapa handuk keci.


"Astaga hanya ada satu," ucap Yunda.


Yunda tak ingin telat menangani Xavi. Dengan cepat ia pun mengambil uang di dompetnya dan meminta Pak Pindu untuk membelikan handuk kecil di mini market bawah. Yunda yakin di sana pasti ada. Yunda tahu minimarket di rumah sakit ini pasti lengkap.


Penasaran dengan aksi Yunda, Richard pun bertanya. "Kamu mau ngapain? Dia udah di kasih obat loh?"


"Saya tau, Om. Tapi kalo di bantu kompres pakek air hangat, nanti suhu tubuhnya cepat turun!" jawab Yunda.


"Benarkah? Kamu tidak ngarang. Ah sebenarnya aku tau itu, tapi belum pernah melakukannya," jawab Richard, salah tingkah.


"Tenang saja Om, ada saya. Semua pasti aman," jawab Yunda. Kemudian ia pun mulai bekerja. Sedang Richard hanya memerhatikan. Richard sengaja tak mau menganggu Yunda. Ia yakin Yunda punya pengalaman merawat orang sakit.


Richard hanya mau putranya segera sembuh, tetapi dia tak tahu harus berbuat apa.


"Apa perlu ku bantu?" tanya Richard.


"Tidak, Om. Om santai saja. Saya bisa kok meng-handle sendiri. Nanti kalo saya butuh bantuan pasti saya ngomong," jawab Yunda sembari terus mengompres sekaligus mengontrol suhu tubuh Xavi. Berharap, tindakannya ini bisa membantu Xavi menurunkan suhu tubuhnya.


Bersambung...