Om Duda I Love You

Om Duda I Love You
Serangan Mental



Richard menatap sinis pada mantan istrinya. Kebencian itu nampak jelas terpancar dari sorot mata Richard maupun Vero. Api permusuhan begitu membara di antara keduanya.


"Kau tak perlu menatapku seperti itu. Aku sudah tahu bahwa kau hendak mencelakai calon ibu untuk Xavi!" ucap Richard.


"Kau pikir aku terima. Aku masih hidup, Richard. Aku tak rela jika aku digantikan oleh wanita kampungan seperti dia!" jawab Vero tak terima.


"Sayangnya aku tak peduli dengan rengekanmu itu. Apa kau tahu? bagiku, bagi Xavi, kamu sudah mati. Jadi... jangan coba-coba merasa ada untuk kami. Paham!" jawab Richard tegas. Sengaja mempermainkan mental Vero, agar wanita itu tertekan dan depresi.


Depresi seperti dirinya dulu. Ketika Vero meninggalkannya pergi bersama pria lain. Meninggalkan dirinya dengan bayi mungil yang ia sendiri tak tahu harus bagaimana merawat bayi itu.


"Kau jahat, Richard. Xavi pasti marah jika tau ibunya kau perlakukan seperti ini!" teriak Vero.


"Oh ya, benarkah? apa kamu ingin mendengar pendapat Xavi, hemm. Baiklah... mari kita dengarkan pendapat pangeranku. Apakah dia akan membelamu, atau justru memintaku untuk menyakitimu?" jawab Richard lagi. Tentu saja dengan nada santai seperti biasa.


"Tutup mulut wanita biadab ini!" pinta Richard pada anak buahnya.


Seketika, mereka pun bergerak cepat. Menutup mulut Vero dengan lakban. Lalu segera menghubungi Yunda, karena ia ingin berbicara dengan Xavi.


"Assalamualaikum... " sambut Yunda.


"Waalaikumsalam, Sayang. Kamu lagi ngapain?" tanya Richard mesra, lalu ia menatap Vero. Terlihat Vero emosi dan meronta, mantap marah pada Richard.


"Yunda lagi nyiapin makan siang adek, Sayang. Kamu udah makan belum, hemmm. Ngomong-ngomong makasih banyak ya udah nolongin adikku. Barusan dia telpon, kata dia, dia cuma korban salah sasaran ya?" jawab Yunda, mesra.


"Iya, Sayang. Tak masalah. Aku udah makan kok. Kamu tenang aja. Sekarang aku udah di kantor. Oiya, Xavi mana?" balas Richard, tak kalah manja. Membuat Vero semakin marah.


"Ada, sebentar."


"Oke! I love you," ucap Richard.


Yunda menghentikan langkah. Namun diam.


"Eh, kok diam? Kenapa?" tanya Richard


"Mau bales, tapi malu," jawab Yunda.


"Malu? Malu kenapa, Sayang. Aku kan calon suami kamu. Kamu calon istri aku. Kenapa mesti malu hemm?" balas Richard, tentu saja kemesraan mereka berdua semakin membuat jiwa Vero merasa panas membara. Terbakar cemburu yang tak bisa ia bendung lagi. Andai tangannya tak diikat dan mulutnya tidak tertutup, Ingin rasanya Vero mencakar wajah Richard agar berhenti mempermainkan perasaannya.


"Baiklah, aku pun mencintaimu. Hati-hati kerjanya. Tolong jaga diri baik-baik untukku, untuk Xavi dan untuk cinta kita," pinta Yunda.


Richard tersenyum. Lalu memberikan ciuman lewat ponsel itu.


"Ih malu, di sini ada Xavi tau," ucap Yunda.


"Nggak pa-pa, Xavi juga nggak keberatan kok kalo papinya ini menikah lagi. Apa lagi sama kamu. Dia pasti langsung setuju nggak pakek nanti," ucap Richard.


"Hemm, semoga. Semoga kita bisa bersatu dalam keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah. Aamiin!" ucap Yunda.


Richard tersenyum. Kemudian Yunda pun memberikan ponselnya pada Xavi


"Sayang, lagi ngapain?" balas Richard.


"Mau makan, Pi. Ini udah siapin sama kak Yunda," jawab bocah tampan itu.


"Benarkah? Kak Yunda masak apa?"


"Apa ini ya. Kak... ini namanya apa?"


"Oh, itu ayam saos tiram, perkedel tahu sama tumis brokoli." jawab Yunda menjelaskan.


"Seperti itu, Pi!" tambah Xavi.


"Wah, kelihatannya sedap sekali. Papi jadi pengen ikut makan. Kira-kira kak Yunda mau nggak ya nganterin makan siang itu ke tempat, Papi?" pinta Richard.


"Em, sebenar Pi. Xavi tanya dulu!"


Terdengar suara Xavi sedang berbicara dengan Yunda. Tak lama berselang, Xavi kembali menyambung pembicaraan mereka.


"Kata Kak Yunda, boleh Pi. Ini sedang disiapin. Tapi Xavi boleh ikut nganter ya, Pi!" ucap bocah tampan itu.


"Tentu saja, Sayang. Ikutlah dengannya. Papi tak masalah. Oiya, boleh Papi tanya sesuatu?" jawab Richard.


"Tentu saja, Pi. Kenapa tidak? Papi mau tanya apa?"


"Emmm, seandainya Papi menikah lagi, boleh?" tanya Richard.


"Boleh. Tapi Xavi yang pilih."


Richard tersenyum sebab ia yakin jika wanita yang hendak Xavi pilih untuknya pasti Yunda.


"Oke, Kira-kira Xavi mau milih siapa buat jadi bundanya Xavi?" pancing Richard.


"Emmm, bagaimana kalo Kak Yunda saja. Xavi sangat suka dengan Kak Yunda, Pi. Maukah Papi menikah dengan kak Yunda?" jawab Xavi lugu.


Dan Yes... apa yang Richard tebak ternyata buka isapan jempol belaka. Nyatanya Xavi memang memilih gadis itu untuk menjadi istrinya.


"Emmm, gimana ya? Kalo Papi sih mau-mau aja. Cuma Kak Yundanya Gimana?" tanya Richard.


"Soal itu, Nanti Xavi bantu ray Papi. Yang penting Papi Oke," jawab bocah tampan ini.


"Oke, baiklah... Papi setuju. Ya udah, sekarang kamu makan ya. Papi balik kerja kagiy. Jangan lupa minta calon bundamu untuk mengirim makan siang buat Papi. Papi lapar sekali, Sayang!? " pinta Richard manja.


"Tentu saja, Papi. Sayang Papi," ucap Xavi, kemudian mereka pun mengakhiri obrolan mereka. Sebelum itu, tak lupa Richard dan Yunda kembali melanjutkan obrolan mereka. dan terkahir, Richard memberikan kecupan dan ungkapan cinta terdalam untuk wanita yang kini telah sukses menjadi pemilik hatinya.


Di lain pihak, Vero terlihat meneteskan air mata. Kebencian tampak jelas dari sorot mata itu. Richard yakin jika saat ini serangan mental yang ia lakukan untuk menyerang mantan istrinya itu, sudah pasti berhasil.


Bersambung...