
Sebenarnya Richard tak ingin durhaka terhadap ibunya. Tetapi menurutnya, Sang ibu sangat keterlaluan.
Lihatlah, saat ini sang ibu dengan tega merebut mobil yang sedang digunakan oleh sang istri. Wanita itu juga tega menurunkan istrinya di jalan tol yang panas itu.
Kemarahan Richard tidak hanya perihal itu. Tetapi perihal mantan istrinya yang sok tahu itu. Wanita penjilat yang tak tahu diri itu, nyatanya juga menjadi penyebab tersulut nya emosi sang ibu dan memaksa wanita itu untuk memusuhinya.
"Awas saja kamu, Vero! Kalo kamu tidak berhenti, maka aku yang akan menghentikanmu!" ancam Richard marah.
Tak ingin kecolongan lagi, Richard pun memutuskan untuk meminta anak buahnya untuk menculik wanita itu. Richard ingin menginterogasi Vero sekali lagi. Agar wanita itu jera mengganggu kehidupan Pribadinya.
***
Sore menjelang malam, Richard terlihat melamun di ruang kerjanya. Sang istri yang tahu betapa kalut nya sang suami, tentu saja tak ingin membuat pria itu semakin terpuruk.
Dengan cinta, ia pun segera mendatangi sang suami di ruang kerja tersebut. Membawakan secangkir kopi panas dan sepotong kue brownis kesukaan Richard.
"Sore, Sayang!" sapa Yunda ketika masuk ke dalam ruangan sang suami.
"Sore juga, Sayang Apa itu?" tanya Richard.
"Kopi, Sayang sama cake kesukaan kamu!" jawab Yunda sembari meletakkan nampan itu di meja kerja suaminya.
"Makasih, Honey." Richard tersenyum lalu memberikan kecupan manis di bibir istrinya.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, Sayang? Apakah masih marah?" tanya Yunda.
"Ya, terus terang aku masih sangat kesal dengan mami, apa lagi dengan wanita jahat itu."
"Emmm, oke. Tapi bolehkah aku kasih saran?"
"Tentu saja, Sayang! Saran apa itu?"
"Tolong jangan terlalu keras sama mami. Kita kan sama-sama tahu, kalo mami sedang dalam suasana hati yang kurang baik. Kalo kita melawan, atau memberikan beban, aku rasa itu kurang baik untuk kita, Sayang," ucap Yunda mengingatkan.
"Jadi aku mesti apa? Haruskah aku diam saja. Melihat istri dan anakku ditindas oleh mereka?" protes Richard.
"Kami baik-baik saja, Sayang. Kami juga mengerti kok kalo mami kita sedang marah. Orang marah jangan terlalu dilawan. Kita sendiri nanti yang rugi," jawab Yunda lembut.
"Alangkah baiknya kalo kita diam, Yang. Kita biarkan dulu mami puas dengan amarahnya. Nanti kalo misalnya mami udah paham kalo wanita yang selalu ia bila adalah salah, ya udah kota tinggal bantu ngejelasin aja. Supaya mami sadar, bahwa apa yang ia lakukan selama ini adalah salah," Jawab Yunda mengingatkan.
Richard diam. Jujur ia mengakui kedewasaan sang istri.
Richard merasa beruntung karena bisa mendapatkan wanita setulus dan sebaik Yunda. Tapi mengapa ibunya sama sekali tidak bisa melihat ketulusan itu. Ingin rasanya Richard menjerit marah. Andai boleh.
Jujur, Richard lega bisa mengutarakan isi hatinya pada Yunda. Dan Yunda sendiri juga begitu baiknya mau mendengarkan serta menerima apa yang ia utarakan. Andai Yunda punya hati keras seperti Vero, mungkin Richard akan lebih tertekan ketika menghadapi masalah ini.
"Malam ini mau makan apa, Yang?" tanya Yunda sembari membantu Richard merapikan buku-buku yang berserakan di meja.
"Mau makan apa ya? Mau makan kamu boleh?" canda Richard.
"Dih, maunya... " jawab Yunda dengan senyum manisnya.
"Ya nggak pa-pa, Yang. Kan suami istri!"
"Tahu sih, tapi aneh, yang di tanya apa eh jawabnya apa!" ucap Yunda.
"Ya nggak pa-pa, tapi boleh ya ntar malem."
"He em, apapun untukmu," jawab Yunda sembari melangkah mendekati sang suami dan mengembalikan Buku-buku tersebut ke tempatnya.
"Makasih, Sayang. Duh manisnya istri Om Ricard ini," ucap Richard sembari tersenyum menggoda.
"Dih, masak gitu. Udah di minum kopinya, keburu dingin!" ucap Yunda.
"Nggak pa-pa, kan ada kamu yang bakalan ngangetin!" balas Richard.
"Kambuh mesumnya!"
Richard tertawa. Nyatanya Yunda begitu manis dan selalu bisa menghidupkan suasana. Bohong jika Richard tidak semakin jatuh cinta pada istrinya ini.
Bersambung...