Om Duda I Love You

Om Duda I Love You
Rasa Ini Ada Untukmu



Tiga hari sejak kedatangan kedua orang tuanya, Richard memilih banyak diam dan menghabiskan waktunya untuk bekerja. Bahkan ia tak pernah pulang. Richard memilih tetap di kantor dan tidur di sana.


Atas permintaan Xavi, Yunda pun memutuskan untuk pergi ke kantor pria itu. Ia hanya ingin memastikan bahwa ayah sahabatnya itu baik-baik saja.


Entah mengapa ia takut kalau Richard mengabaikan kesehatannya. Seperti yang pernah diceritakan Pak Sam kepadanya.


Richard pernah bertindak seperti ini sebelumnya. Gara-gara kepergian istrinya bersama pria lain. Ditambah dia harus menghadapi perceraian, sempat membuat Richard stres dan akhirnya melampiaskan kemarahannya dengan gila bekerja. Hingga akhirnya dia tumbang dan dilarikan ke rumah sakit.


Dengan dikawal langsung oleh Pak Sam, Yunda pun akhirnya sampai di depan pintu ruangan Richard.


Sebenarnya dia gugup. Namun, ketika teringat cerita Pak Sam dan permintaan Xavi, akhirnya Yunda pun memberanikan diri mengetuk pintu ruangan itu.


"Assalamualaikum... " ucap Yunda ketika melongok kan kepalanya di pintu ruang kerja Richard.


"Waalaikumsalam... " Richard menatap aneh pada Yunda.


"Maaf Om, boleh Yunda masuk?" tanya Yunda ragu.


"Ya," jawab Richard seraya meletakkan berkas yang ia pegang ke meja kerjanya.


Yunda memantapkan niatnya. Masuk dan melangkahkan kaki mendekati pria berstatus duda satu anak itu.


"Maaf Om, Maaf kalo Yunda menganggu. Xavi sangat mengkhawatirkan anda," ucap Yunda sedikit berbohong. Karena sebenarnya bukan hanya Xavi yang mengkhawatirkan Richard. Diam-diam dirinya juga mengkhawatirkan pria itu.


"Ya, maafkan aku. Aku sampai melupakannya."


"Tak apa, dia anak yang kuat. Oiya Om, ini ada titipan dari Xavi. Makanlah," ucap Yunda seraya menyerahkan rantang yang ia bawa.


Richard menatap penuh tanya pada Yunda. Benarkah apa yang dia katakan?


"Apa ini?" tanya Richard.


"Sop ayam, tempe goreng dan sambal tomat Om. Ada krupuk juga. Tadi saya masak itu buat Xavi. Kata Xavi Om juga suka masakan itu. Makanya dia minta saya untuk nganter makanan ini ke sini," jawab Yunda. Kembali berbohong. Padahal ini adalah inisiatifnya sendiri. Xavi hanya menyetujui usulan itu tadi.


"Oh oke, kamu boleh siapkan. Aku cuci tangan dulu," jawab Richard seraya melangkah ke arah wastafel.


Sayangnya sebelum pria itu sampai ke tempat tujuan, tubuh kekarnya hampir jatuh. Dengan cepat Yunda pun berlari menolong Richard.


"Astaga Om! Om oke?" tanya Yunda sembari memapah Richard ke sofa.


"Iya, aku oke," jawab Richard berbohong.


Yunda segera mengambilkan air putih. Kemudian menyerahkan gelas itu pada Richard.


"Minum dulu, Om. Mari saya bantu," ucap Yunda sembari membatu Richard meminum air itu.


"Makasih. Maaf aku sudah merepotkanmu," ucap Richard lagi.


"Iya. Jangan terlalu keras bekerja. Pikirkanlah kesehatanmu. Kasihan Xavi kalo terjadi apa-apa denganmu," ucap Yunda, memelas. Ah tidak, bukan memelas tapi mesra. Membuat darah Richard berdesir senang.


Tanpa Yunda sadari, kerlingan matanya menunjukkan rasa lain yang ia miliki. Begitupun Richard. Pria dewasa ini juga menunjukkn rasa yang sama. Sama seperti yang Yunda tunjukkan padanya.


Namun, lamunan mereka buyar ketika ponsel Yunda berdering. Dan sang pemanggil adalah bocah kecil itu. Bocah tampan yang menghubungkan perasaan mereka berdua.


"Sebentar, Om. Xavi telpon," ucap Yunda.


"Hemmm, jangan katakan apapun padanya tentangku," pinta Richard.


Yunda tersenyum sekilas. Ia tahu apa yang harus ia lakukan.


"Iya, Sayang. Ada apa?" tanya Yunda pada Xavi.


"Sudah, Sayang. Ini papi lagi makan titipan Xavi. Xavi mau ngomong?" balas Yunda.


"Tidak, Kak. Biarkan papi makan. Nanti Xavi telpon lagi," balas Bocah itu.


"Ya udah kalo gitu. Nanti kakak minta paoi buat telpon Xavi. Oke!"


"Oke. Bilang papi, Xavi sayang papi. Oke!"


"Siap Pangeran, saya akan menyampaikan pesan anda." Yunda tersenyum. Begitupun Xavi yang ada di seberang sana. Bocah itu juga tersenyum lega. Sebab ayahnya dalam keadaan baik-baik saja, yang ia tahu. Setidaknya itu yang ia tahu.


Obrolan berakhir. Xavi menutup panggilan telpon yang ia lakukan. Sedangkan Yunda meletakkan ponselnya di meja. Lalu kembali mendekati Richard.


"Om sudah dengar kan kalo Xavi sangat mengkhawatirkan Om," ucap Yunda.


"Ya, aku dengar. Bagaimana kabarnya? Apa dia nyaman di rumah?" balas Richard.


"Haruskah aku jawab pertanyaan itu?"


Richard menatap Yunda. Seakan sudah mengerti akan kondisi mental putranya saat ini.


"Aku malas sekali pulang. Kepalaku sakit kalo ketemu papi mami," ucap Richard jujur.


"Om nggak boleh begitu. Mau seburuk orang tua kita, kita harus tetap menghormatinya."


"Aku ingin seperti itu, tapi mereka terus menekanku. Mereka duluan yang cari gara-gara denganku," jawab Richard tak mau kalah.


Yunda tersenyum mendengar jawaban itu. Jawaban itu terdengar menggelikan.


"Kenapa kamu tersenyum? Apa yang lucu?" tanya Richard.


"Tidak... tidak ada yang lucu. Hanya saja Om kurang dewasa menghadapi mereka. Harusnya Om tunjukkan pada mereka bahwa Om berhak bahagia. Berhak memilih pasangan yang Om inginkan. Yang diinginkan oleh Xavi juga sebagai ibu sambungnya. Percayalah, Om pasti bakalan ketemu sama orang seperti itu," ucap Yunda menyemangati.


"Apa yang harus aku lakukan supaya mereka mau diam? Aku ingin membuat mereka mau mengakui wanita pilihan mereka sebenarnya buruk dan bahkan sangat buruk," jawab Richard sembari memijat keningnya yang mulai pening.


"Sebenarnya mudah Om."


"Bagaimana?" Richard menatap Yunda.


"Bukalah hatimu. Lihat wanita-wanita yang mungkin punya potensi bisa mendamaikn hatimu. Yang bisa membuatmu nyaman. Bisa memberimu bahagia. Yang bisa membuatmu ingin pulang untuk bertemu dengannya. Intinya yang bisa membuatmu bahagia," ucap Yunda, semangat.


"Memangnya ada wanita seperti itu?" tanya Richard.


"Astaga! Ya ada lah Om. Itu namanya cinta."


Richard menatap sekilas pada Yunda. Lalu ia pun berucap, "Kamu ini, masih kecil udah bicara soal cinta. Harusnya kamu sekolah dulu."


"Ye Om... biar kecil gini juga rawit Om. Banyak tau orang di kampung yang mau jadiin Yunda mantu. Om aja belum tahu," jawab Yunda, dengan senyum manisnya.


"Mana boleh kamu kawin. Masih kecil. Nggak usah kamu mikir kawin. Main saja sama Xavi," larang Richard kesal.


"Enak aja, Yunda udah 19 taun tau. Udah boleh pacar-pacaran Om." Yunda terkekeh. Spontan Richard menjitak jidat gadis itu.


Keakraban terjalin di sini. Nyatanya Richard sangat nyaman bercengkerama dengan Yunda. Begitupun sebaliknya.


Inikah yang dikatakan kenyaman yang dimaksudkan Yunda. Inikah kebahagiaan yang di jabarkan oleh gadis itu. Richard diam dan terus mempelajari kata-kata itu. Lalu menerjemahkan ucapan tersebut dengan rasa. dan ternyata memang indah. Rasa itu ada. Rasa itu nyata. Tinggal memperjelas semuanya saja. Bukankah begitu?


Bersambung...