
"Hay, Veronica... lebih baik kamu pergi dan urus saja brondong-brondong sialanmu itu. Biarlah Xavi menjadi urusanku. Meskipun kamu mendaftarkan diri sebagai guru di sekolah putramu, percuma. Dia nggak akan pernah tahu siapa kamu. Dia sudah menganggapmu mati. Karena aku sudah menyettingnya seperti itu. Paham!" ucap Richard, tegas.
Spontan, Veronica pun naik darah. Ia tak Terima jika dirinya dimatikan begitu saja. Karena ia merasa masih memiliki hak atas Xian.
"Gila kamu, Rich.... aku ibunya. Aku yang mengandungnya selama sembilan bulan. Aku yang melahirkannya ke dunia ini. Lalu dengan mudahnya kamu berucap demikian. Jahat kamu Rich," ucap Veronica emosi.
"Benarkah aku jahat? Bukankah ini pilihanmu. Meninggalkan putramu demi nafsumu. Ayolah Veronica, jangan sok alim. Siapa di sini yang durhaka? Aku, atau kamu? Soal putraku, dia milikku! Selamanya milikku. Kamu.... tidak akan pernah ku izinkan menyentuhnya, walau hanya sehelai rambut pun!" balas Richard, tak mau kalah.
"Aku tidak terima, aku akan menuntut hak atas anakku. Lihat saja nanti!" ancam Veronica kesal.
"Silakan! Kamu pikir aku peduli. Selama aku masih hidup, aku nggak akan pernah meluruskan niatmu. Kamu tidak akan pernah bisa menyentuhnya . Bahkan seujung kuku pun. Karena aku tahu kualitasmu sebagai seorang ibu. Sekarang katakan padaku? Di mana hati nuranimu ketika meninggalkan bayi yang butuh Asi darimu? Di mana hati kecilmu ketika mendengar bayimu menangis untuk pertama kali? Di mana jiwa keibuanmu ketika bayimu membutuhkan dirimu saat dia terbaring lemah di rumah sakit? Di mana? Katakan! Aku ingin tahu jawabanmu!" tantang Richard emosi.
Veronica diam sesaat. Lalu ia pun menjawab, "I am sorry, please... kasih aku kesempatan sekali lagi, Richard. Aku sudah berubah."
"Terlambat Veronica, terlambat. Maafku untukmu sudah tertutup ketika kamu memilih pergi bersama pria yang kamu cintai itu. Maafku sudah terkubur dalam-dalam ketika mau melayangkam gugatan cerai itu. Maafku sudah hilang ketika kamu memilih meninggalkan kami. Meninggalkan kami berdua dalam keterpurukan. Bukan aku cemburu pada kisah cinta kalian. Tapi setidaknya katika kamu mengambil keputusan, lihatlah Xavi terlebih dahulu. Lihatlah ketidakberdayaannya," ucap Richard dengan tatapan nanar ke arah samg mantan istri. Sebab ia teringat dengan tangisan Xavi ketika bayi. Ketika bocah itu membutuhkan asi ibunya. Tetapi ibunya malah memilih pergi bersama pria lain.
"Maafkan aku, Rich... maaf!" ucap Veronica, menyedihkan.
"Apakah kamu tau, saat itu, dia menangis seperti memanggilmu. Memanggilmu untuk memberinya Asi. Saat itu tangisannya sangat menusuk telingaku. Sangat mencabik-cabik hatiku. Saat itu dia sangat membutuhkanmu, ibunya. Dia sangat , membutuhkan dekapanmu. Dia masih kecil, Vero. Aku seorang ayah, bukan ibu. Tapi hatiku bergetar mendengar tangisannya. Tapi lihatlah kamu. Kamu begitu santai melangkah pergi. Astaga! Apakah se berarti itu kekasihmu hingga kamu tega meninggalkan putramu!" Richard tersenyum sinis. Seakan meremehkan keputusan bodoh sang mantan istri.
"Maaf.... " Veronica hendak mendekati Richard. Sayangnya Richard melarangnya. p
"Ahhh... sudahlah. Sayangnya kamu datang tidak tepat waktu. Dia sudah menemukan seseorang yang bisa membuatnya nyaman. Aku pribadi tidak peduli siapa wanita itu. Yang penting dia bisa membuat Xavi, nyaman. Jadi, sebaiknya kamu jangan mengusiknya. Biar wanita itu jadi urusanku. Aku yang berhak menentukan dia pantas berteman dengan Xavi atau tidak. Sekarang pergilah! Jangan pernah tunjukkan wajahmu di hadapanku lagi. Apa lagi sampai berani menemui Xavi. Aku tidak akan segan-segan menyakitimu, paham!" ancam Richard tak main-main.
Untuk membuktikan ucapannya itu Richard segera menghubungi keamanan dan meminta mereka menyeret wanita ini dari kantornya.
***
Di lain pihak...
Benar kata Richard, jika Xavi sangat nyaman berteman dengan Yunda. Namun sayangnya Richard tidak tahu, bahwa Xavi sering menemui Yunda tanpa sepengetahuannya.
Richard juga tidak menyadari bahwa ucapan sang mantan istri tempo hari, itu tersulut oleh sebuah kecemburuan yang bersumber dari kedekatam Xavi dengan gadis itu.
Mungkin jika ia tahu, Richard pasti marah besar, sebab hampir setiap hari Xavi meminta ajudannya untuk mengantarkannya ke tempat gadis yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya itu.
Yunda sendiri juga tidak keberatan dengan kedatangan bocah tampan itu. Justru ia senang. Baginya, Xavi adalah hiburan baginya. Di tengah-tengah kemelut hidup yang saat ini sedang di jalannya.
"Apakah kali ini kamu juga kabur? Tidak minta izin lagi dengan papi, hemmm?" tanya Yunda, dengan senyuman temanisnya.
"Tenang saja Kakak, papi tidak akan tahu. Mereka tidak akan berani mengadu. Xavi janji," jawab bocah tampan ini lagi.
"Bagaimana jika mereka mengadu? Dan papimu tau kalo kita sering bertemu? Bagaimana jika dia marah dengan kakak?" tanya Yunda lagi.
"Tenang saja, aku pasti membelamu. Kita kan kekasih!" jawab bocah tampan itu, lugu namun menggemaskan.
"Kekasih? benarkah kita sepasang kekasih?"
"Ya... aku mana menikahimu ketika aku dewasa nanti. Kakak tenang saja!
Spontan Yunda pun tertawa mendengar jawaban itu. Sungguh, ini hanya ucapan seorang bocah. Namun, ucapan itu seperti sebuah janji seorang pria yang rela menjaganya. Yunda jadi terharu.
"Memangnya menikah itu apa?" pancing Yunda.
"Menikah itu, Kakak jadi princes and Xavi jadi raja, di panggung. Seperti itu," jawabnya lugu.
Kali ini Yunda tidak tertawa, hanya tersenyum sembari mengangguk-anggukkan kepala. Seakan menyetujui jawaban itu.
"Baiklah, kakak siap menjadi ratumu. Tapi sayangnya kita punya satu halangan." Yunda pura-pura bersedih.
"Apa itu?" Xavi menatap serius pada Yunda.
"Raja yang ada di rumahmu. Si pria seram itu. Kakak takut," ucap Yunda sembari melirik lucu.
"Tenang saja kakak, papi tidak akan berani. Dia sangat menyayangiku," jawab Xavi.
Yunda tahu jika Xavi ragu dengan jawabannya iyu. Tapi Yunda salut, anak sekecil Xavi begitu percaya diri melindungi apa yang ia cintai.
Bersambung...
Jangan lupa like komen and Votenya ya😚😚