
Perlahan, sinar kuning kemerah-merahan memenuhi langit. Menggantikan tugas matahari yang telah usai, meski sesaat kehadirannya selalu dinanti setiap insan, indah dan menghangatkan. Waktu kerjanya hanya sebentar, sebelum bulan dan bintang datang menghiasi langit malam. Tara masih antusias, sedang Nusa hanya bisa pasrah mengikuti langkah kaki Tara, ia cukup lelah karena sejak siang sampai malam hari begini ia berkeliling tanpa henti ke tempat wisata yang diinginkan Tara, ya meskipun dia sendiri cukup menikmatinya.
"Ayolah Sa, ini yang terakhir loh, setelah ini kita pulang," rengek Tara.
"Gak Ra, ini udah malem loh dan udah seharusnya kita pulang. Besok juga harus sekolah kan?"
"Iya aku tau, cuma gak sah kalau udah ke taman bermain terus kita gak naik bianglala. Pemandangannya indah loh apalagi malam kaya gini. Aku mohon, ini yang terakhir," mohon Tara lagi dengan pupil mata yang membulat.
"Hahhh...iya iya, tapi ini yang terakhir ya," Nusa menghela napas panjang. Sedari tadi, ia selalu saja kalah dan tak dapat menolak apapun yang Tara minta.
"Yeayyyyyy," Tara girang bukan main dan langsung berhambur ke loket tiket.
Dikarenakan dipenuhi banyak pengunjung, Nusa dan Tara harus bersabar menunggu antrean yang panjang. Nusa memasang wajah tak enak, membuat Tara hanya bisa memasang wajah kecut. Tampaknya Nusa sudah tak bisa menunggu lagi, mungkin kadar kesabarannya akan segera habis detik ini juga.
"Duhhh....antreannya kok panjang banget ya. Tapi sekali putaran lagi kayanya selesai deh kita semua bisa naik," ucap Tara berusaha membuat Nusa agar tetap berada dalam barisan antrean sedangkan Nusa masih memasang wajah yang tidak enak untuk dilihat yang membuat Tara langsung mengalihkan pandangannya pada bianglala berharap agar antrean panjang ini dapat naik ke dalam bianglala tersebut agar ia dapat lekas pulang sebelum Nusa benar-benar menyeretnya dari sana, kan sayang tiketnya udah dibeli percuma dong kalau pulang begitu saja.
Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya Tara dan Nusa naik ke dalam bianglala. Sejak melangkahkan kaki memasuki bianglala, Nusa masih saja memasang wajah masam yang membuat Tara semakin tak enak padanya.
"Udah dong Sa mukanya jangan yang gak enak dilihat gitu, habis ini kita langsung pulang kok."
Nusa hanya diam melihat keluar jendela bianglala, mencueki ucapan Tara.
"Jangan diam aja dong, Sa. Maaf deh kalau kamu gak suka kita main kesini, nanti lain kali aku gak akan bawa kamu kesini lagi," ucap Tara tertunduk lesu merasa bersalah.
Melihat Tara yang lesu tidak bersemangat seperti sebelumnya, Nusa akhirnya angkat bicara.
"Bukannya tidak suka, cuma ingat waktu Ra. Sekarang udah jam berapa coba? Sudah jam 9 lewat, orangtuamu pasti khawatir mengingat kamu sudah pergi dari siang."
"Tapi kan orangtuaku udah tau kalau aku main bareng teman, jadi mereka gak perlu khawatir."
"Mana ada sih orangtua yang gak khawatir sama anaknya. Kamu sedari tadi gak ada mengecek hp kan? Aku yakin udah puluhan bahkan ratusan panggilan dari orangtuamu."
"Astaghfirullah, iya aku baru ingat," spontan Tara menepuk jidatnya.
"Iya benar Sa, ada 10 panggilan tak terjawab dari papa, 15 dari mama, dan 3 dari kak Sean. Mereka pasti khawatir, aku telpon mereka dulu ya."
Beberapa menit kemudian, Tara telah menyelesaikan panggilannya dan tentu saja orangtuanya di rumah sangat khawatir takut anaknya kenapa-kenapa namun Tara berhasil meredakan rasa kekhawatiran mereka dan mengatakan kalau dia baik-baik saja dan akan segera pulang sebentar lagi.
"Yahh...aku tau kamu terlalu senang sehingga lupa untuk mengabari orangtuamu. Itu alasan kenapa dari tadi aku terus mengajakmu untuk pulang karena bagaimanapun juga aku yang bertanggungjawab atas dirimu dan aku gak mau kamu kenapa-kenapa."
"Iya, sekali lagi aku minta maaf. Tapi rasanya aku gak pengen waktu cepat berlalu, aku pengennya bareng samamu terus, dunia seakan berbeda jika aku bersamamu Sa dan aku sangat menikmati itu," ungkap Tara membuat jeda beberapa saat, hening di antara mereka berdua, kini mereka tengah berada di puncak bianglala.
"Lihat, kita ada di puncak Sa. Indah banget kan? Banyak kelap-kelip berwarna-warni di bawah sana, menjadikan malam yang gelap gulita menjadi lebih berwarna dan semakin indah ditemani dengan bintang-bintang dan sinar rembulan.
"Sa, aku pengen banget bisa melihat bintang samamu. Janji ya, kalau aku mengajakmu melihat bintang, harus mau!" tegas Tara menekankan ucapannya yang membuat Nusa menyunggingkan senyuman tipis, setipis kertas bahkan lebih tipis dari itu namun senyum itu terekam jelas dalam memori otak Tara, dimana Tara langsung menyimpan memori itu ke tempat yang paling spesial karena ini pertama kalinya ia melihat Nusa tersenyum. Si cowok misterius dan tanpa ekspresi tersenyum? Sebuah keajaiban yang menjadi nyata.
"Hiksss... hiksss.....," Tara terisak, menghampus butiran air yang terjun bebas di pipinya.
"Lohh...kenapa nangis?" tanya Nusa panik.
"Aku terharu melihatmu tersenyum Sa. Karena selama ini, baru kali pertama aku melihat kamu tersenyum ya meskipun samar-samar bahkan tampak tidak terlihat, tapi aku sudah merekam jelas senyummu itu dan menyimpannya dalam memori otakku," jelas Tara masih menghapus air matanya yang sedari tadi tak mau berhenti.
"Udah jangan nangis gitu. Ini semua berkat kamu Ra, kamu orang pertama yang memandangku secara berbeda dan aku bersyukur atas itu. Mungkin kedatanganku kemari adalah takdir agar aku bisa bertemu denganmu, cewek aneh menjengkelkan yang selalu membuatku kerepotan. Terima kasih ya, Tara Nesya Ningrum," ucap Nusa dengan senyum yang kali ini merekah lebar, manis.
"Huhu....kau senyum gitu aku jadi tambah nangis," Tara berhambur dalam pelukan Nusa yang tentu saja membuat Nusa kaget.
"Gak cuma kamu Sa, aku juga berterima kasih samamu karena selama ini aku tak pernah peduli dengan keadaan orang lain. Mengapa seseorang selalu tertawa, mengapa seseorang hanya diam, atau mengapa seseorang selalu marah? Aku gak tau kenapa, tapi sekarang aku tau karena setiap orang memiliki masalahnya sendiri dan mereka bebas untuk mengekspresikannya dengan cara apa, dan aku menghargai itu."
"Oh iya, terima kasih juga karena hari ini aku benar-benar senang karena kamu juga mau menemani aku ke banyak tempat, Zha aja kadang gak sanggup kalau aku ajak keliling kaya gitu, tapi kamu bisa tahan dengan aku yang kata kebanyakan orang kaya anak kecil."
"Iya memang kaya anak kecil, bikin aku kerepotan, buat aku merasa malu karena kamu merengek-rengek dan dilihatin banyak orang. Tapi meskipun begitu aku juga senang dan aku tak memungkiri bahwa aku juga lelah karena seharian berjalan berkeliling tanpa henti."
"Hehe maaf, oh iya Sa, boneka panda ini akan aku simpan dan jaga baik-baik karena boneka ini pemberian darimu dan aku gak akan pernah lupa itu," celetuk Tara lagi menunjukkan boneka panda yang diberi oleh Nusa saat bermain mesin capit boneka tadi sore.
"Iya terserahmu saja, dan tawaran untuk melihat bintang itu aku terima. Tapi bukan kamu yang akan mengajakku, tapi aku yang akan mengajakmu melihat bintang bersama suatu hari nanti."
Ucapan Nusa sukses membuat Tara malu, iya yakin wajahnya pasti merah padam seperti kepiting rebus, tapi ia senang, sungguh senang melihat Nusa yang bersikap sangat manis padanya.
"Sekali lagi terima kasih ya Sa, aku benar-benar senang," Tara menyunggingkan senyum terbaik yang ia punya sambil memeluk erat boneka panda pemberian Nusa.
"Gak, bukan kamu yang senang tapi aku. Aku senang, sungguh senang, melebihimu," ucap Nusa sebelum akhirnya ia ambruk yang membuat Tara panik setengah mati memanggil-manggil nama Nusa dan berteriak meminta pertolongan dan memohon agar bianglala segera diberhentikan. Malam itu, entah apa yang terjadi pada Nusa sehingga ia jatuh pingsan, yang pasti Tara menyalahkan dirinya akan apa yang terjadi pada Nusa.
~Bersambung~