Nusa(N)Tara

Nusa(N)Tara
Cemburu?



Nusa, Lintang, dan dua orang teman lainnya telah selesai mendirikan tenda. Mereka memasukkan barang bawaan ke dalam tenda. Dikarenakan ini jam bebas, semua siswa yang telah mendirikan tenda bebas melakukan apa saja. Ada yang tidur-tiduran di dalam tenda, ada yang mandi, atau bahkan sekedar berbincang bersama teman.


"Nusa, Aldo, aku bisa minta tolong?" seru Lintang memanggil Nusa dan Aldo, anak kelas XI IPS B.


"Kenapa Kak?" tanya Nusa dan Aldo kompak.


"Karena kita sudah selesai mendirikan tenda, bisa gak kalau kalian bantu aku sama Zeno untuk mengecek apakah semua siswa/i telah mendirikan tenda. Jika belum, kalian bisa membantunya? Kan tau sendiri anak-anak cewek paling sudah untuk urusan yang beginian," jelas Lintang yang disanggupi oleh Aldo dan Nusa.


Nusa dan Aldo mengecek satu persatu apakah tenda yang dihuni oleh empat orang tersebut telah berhasil didirikan atau belum. Dari kejauhan, Nusa mendapati Tara, Zhafira serta dua orang teman sekelas lain sedang ribut-ribut. Sepertinya mereka belum berhasil mendirikan tenda, lebih tepatnya tenda mereka berhasil berdiri namun dalam bentuk yang tidak semestinya.


"Ehh...itu tenda kelompok Tara aneh banget bentuknya, kita bantuin yuk," ajak Aldo pada Nusa yang masih mematung.


"Kamu kenal Tara?" tanya Nusa spontan saat mengetahui bahwa Aldo tau dengan Tara.


"Gak kenal juga sih, cuma siapa sih yang gak tau sama Tara. Cewek aneh yang setiap pagi selalu mengumpulkan daun-daun kering, sering banget main ke taman atau lapangan walau cuma duduk-duduk doang yang membuatnya hampir dikenal oleh hampir semua orang yang ada di SMA negeri 1," jelas Aldo yang membuat Nusa ber-oh ria.


"Jadi nih kita bantuin mereka?" tanya Aldo lagi mengingat Nusa memasang raut wajah tidak peduli.


"Jadi," jawab Nusa singkat melangkahkan kakinya mendahului Aldo, berniat membantu Tara dan teman-teman lainnya.


Di saat Aldo dan Nusa hanya berjarak tiga meter dari tempat Tara, Nusa menghentikan langkahnya. Sepertinya bantuannya sudah tidak dibutuhkan lagi karena di sana sudah ada Evan.


"Kenapa berhenti Sa?" tanya Aldo heran melihat Nusa berhenti di tengah-tengah perjalanannya.


"Sepertinya bantuan kita susah tidak diperlukan lagi, kita bantu yang lain saja," ucap Nusa berlalu menuju tenda anak-anak cewek kelas bahasa yang diikuti oleh Aldo.


✓✓✓


"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga makasih ya Van," seru Sisy merenggangkan pinggangnya.


"Iya sama-sama," balas Evan singkat.


Tara berdiri agak jauh dari teman-temannya dan Evan. Ia masih merasa kesal akan perbuatan Evan tempo hari yang membuat pergelangan tangannya sakit meski dibalik kejadian itu ia akhirnya bisa berduaan dengan Nusa bahkan jadian tapi tetap saja itu adalah perbuatan yang tidak baik.


Dalam lubuk hati kecil Tara, ia berharap yang datang dan membantunya membenarkan tenda mereka adalah Nusa namun apa boleh dikata bahwa yang datang adalah Evan. Meski begitu, Tara tetap bersyukur masih ada yang mau membantu mereka karena jika tidak mereka pasti tidur dalam tenda yang bentuknya mencang-mencong bahkan terkesan abstrak.


"Makasih ya Van karena telah membantu kita. Tapi maaf aku masuk duluan boleh ya, badanku pegal-pegal mau istirahat," ucap Tara memasuki tenda dimana alasannya tersebut hanyalah alasan untuk mengusir Evan karena kehadirannya di sini hanya membuat Tara merasa tidak nyaman.


Tak lama kemudian, Evan pamit pada Zhafira, Sisy dan Milka. Zhafira memasuki tenda dengan cepat, meninggalkan Sisy dan Milka yang asyik mengobrol entah tentang apa.


"Ra, kamu kenapa?" tanya Zhafira tiba-tiba.


"Itu, kenapa kamu kayak gak kenal gitu sama Evan, kesannya kaya menghindar gitu."


"Ohh...itu, iya aku memang menghindar dari dia soalnya kemarin ada hal yang membuatku malas untuk berurusan dengannya."


"Hah...memang apa?" tanya Zhafira kepo akan apa yang terjadi pada temannya itu.


"Cuma masalah kecil sih, Evan ngajak aku pulang bareng terus aku nolak. Evan terus-terusan maksa aku untuk pulang bareng dia padahal aku maunya pulang sama Nusa. Saat itu aku lagi nungguin Nusa kembali dari ruang guru terus Evan tarik tangan aku dengan kasar bahkan sampai berbekas waktu itu. Untung aja ada Nusa yang nolongin, tapi aku masih malas untuk dekat-dekat dengan Evan apalagi untuk ngobrol," jelas Tara yang disambut anggukan mengerti dari Zhafira.


"Aneh, masa dia maksa kamu sampe sebegitunya. Emang waktu kecil si Evan itu orangnya gimana?"


"Gak gimana-gimana, waktu kecil dia baik banget sama aku. Dia sering nolongin aku waktu digangguin sama anak-anak bandel terus dia juga pernah dimarahi sama tetangga karena mencuri rambutannya tapi yang ngelakuin itu bukan dia tapi aku. Rasanya, Evan yang sekarang beda banget sama Evan yang dulu. Aku tau kalau setiap orang pasti berubah, tapi aku gak nyangka kalau perubahannya sepesat itu. Apa mungkin pengaruh lingkungan saat dia pindah ke luar kota?"


"Mungkin sih bisa jadi. Tapi kok aku merasa bukan karena hal itu ya, aku merasa kalau Evan itu suka sama kamu," ucap Zhafira yang membuat Tara melonjak kaget.


"Hahh...mana mungkin, kamu ada-ada aja Zha!" bantah Tara akan ucapan Zhafira.


"Ya kan aku cuma menebak-nebak, tapi feelingku benar-benar mengatakan kalau dia suka sama kamu Ra. Kalau misalnya dia nembak, kamu bakal jawab apa?"


"Ngelantur kamu, mana mungkin dia melakukan hal itu."


"Kita gak tau loh Ra hati orang itu gimana ke kita, bisa aja kan dia suka sama kamu. Misalnya nih, misalnya gak beneran, kamu ditembak sama Evan apa yang akan kamu lakukan?"


"Gak tau, ngebayanginnya aja aku gak bisa. Tapi kamu tau kan kalau aku sukanya sama Nusa, bahkan sekarang kita juga udah pacaran ya otomatis aku pasti tolak dia lah, tapi aku berharap hal itu gak akan pernah terjadi. Sekarang aja hubungan kami renggang banget, kalau sampai hal itu terjadi aku yakin kalau kita gak akan bisa kembali berteman seperti dulu dan aku gak mau itu."


"Ngomongnya gitu, tapi sekarang malah menghindar dari Evan."


"Itu karena aku masih merasa gak nyaman dekat sama dia karena kejadian itu. Tapi aku akan berusaha bertanya sama dia karena pasti dia punya alasan tersendiri mengapa melakukan hal itu entah pun dia gak sengaja mencengkram pergelangan tangan aku, mungkin aja dia lagi ada masalah keluarga atau apa."


"Hah...iya deh iya, kamu terlalu berpikiran positif tau gak. Sesekali kamu boleh loh untuk berpikiran negatif, jangan apa-apa ngomongnya gak mungkin, karena kita gak bisa memahami seseorang sepenuhnya. Kita gak tau kan apa yang ada dalam hati dan kepalanya."


"Aku ngerti kok Zha, makasih ya karena sudah mengingatkan aku. Btw, kamu sama kak Lintang gimana?" tanya Tara tiba-tiba yang membuat Zhafira menyemburkan minuman yang baru diteguknya.


"Kenapa tiba-tiba ngomongin kak Lintang coba!" pekik Zhafira kesal.


"Gak papa, aku cuma pengen tau aja."


"Ini kamu yang ngelantur, udah ah aku mau keluar aja. Di sini panas," ucap Zhafira keluar dari tenda yang membuat Tara tertawa melihat tingkah lucu sahabatnya itu.


~Bersambung~