Nusa(N)Tara

Nusa(N)Tara
Misi



Sesuai dengan janji Semesta, ia berniat membuat Tara menyukainya. Setelah pengakuan di kantin, Semesta terus-terusan muncul di depan Tara dengan berbagai cara yang diharapkan membuatnya luluh. Langkah awal, Semesta bersikap lebih baik dari biasanya. Sosok Semesta yang menyebalkan seakan hilang entah kemana. Bagaikan dua sisi mata uang yang berlawanan, sifatnya membuat Tara seketika merinding.


Pasti ada yang salah, hanya itu kata-kata yang terlontar dari mulutnya. Sikap manis ditunjukkan Semesta yang membuat Tara bingung dan aneh. Apakah ini Semesta yang sama dengan Semesta yang menyebalkan itu? Tara menyandarkan punggungnya di bangku taman terbengkalai. Hari-hari di sekolah terasa lebih melelahkan dari biasanya. Rasanya, sekolah lebih menguras tenaga layaknya seorang pekerja bangunan.


"Hah....." Tara menghela napas kasar.


"Capek? Nih minum." Nusa menyodorkan minuman botol.


"Gimana ya Sa, Semesta itu buat aku takut. Kadang dia baik, kadang juga dia bersikap menyebalkan kaya biasa tapi semenjak pengakuan di kantin, sikapnya menjadi lebih baik dan dia sudah tidak pernah membuatku marah-marah atau kesal. Apa yang harus aku lakukan supaya dia menghentikan aktivitasnya?"


"Gimana ya, aku juga gak tau karena dia orangnya keras kepala. Apapun yang kita katakan, dia tidak akan mendengar. Prioritas utamanya adalah kamu Ra, hati-hati ya. Aku percaya sama kamu."


"Iya, aku akan berusaha menolak dia secara perlahan. Kamu gak apa dengan itu?"


"Tidak apa, kita lakukan dengan cara lembut terlebih dahulu tapi jika dia melakukan suatu hal yang dapat membahayakanmu, aku akan turun tangan dan aku tidak dapat menjamin apa yang akan aku lakukan padanya," jelas Nusa dengan tatapan dinginnya.


"Haduh...iya, iya, sebisa mungkin kita hindarkan cara kekerasan. Tapi Sa, menurutmu cara yang paling efektif untuk menanganinya seperti apa?"


"Kamu nanya ke aku?"


"Iyalah, terus aku tanya siapa lagi? Pohon? Batu kerikil? Gak mungkin kan!"


"Hmmmm...gimana kalau mencarikan Semesta teman baru? Kamu dapat kenalkan seseorang yang kiranya dapat merubah Semesta. Lebih bagusnya lagi, kalau Semesta jadi suka sama dia," jelas Nusa yang entah dari mana mendapat ide brilian.


"Ohh...iya, kamu benar Sa. Sebelum itu, aku mau tanya dulu nih, kita memanfaatkan cewek ini untuk membuat Semesta suka sama dia? Kalau gitu kasian si Semesta nya, yang ada dia malah makin menggila kalau sampai dia suka sama cewek ini terus tau-taunya dia hanya dimanfaatkan."


"Sebisa mungkin jangan, lakukan saja secara alami. Mereka berteman layaknya orang-orang biasa. Gimana? Kamu setuju? Karena cuma cara ini yang dapat dilakukan, syukur-syukur dia suka beneran sama cewek itu dan semoga cewek itu juga suka sama dia."


"Aku setuju, nanti aku bicarakan sama Zha ya. Aku tanya pendapat dia, atau enggak sekalian aja aku kumpulkan Evan dan kak Lintang?"


"Iya, ajak saja mereka karena kalau urusan perasaan, agak sulit untuk menghadapinya. Harus dihadapi dengan perasaan juga," cetus Nusa.


"Cieee...sekarang kamu udah pintar ya. Belajar dari mana itu?" goda Tara pada Nusa.


"Dari kamu. Hehehe," kekeh Nusa singkat.


Keesokan harinya, Evan, Lintang dan Zhafira berkumpul di rumah Tara. Mereka akan membahas tentang Semesta. Seharusnya masalah Semesta hanya menjadi masalah baginya dan Nusa saja tapi mereka dengan sukarela ikut membantu karena sejak awal mereka sudah terbawa arus Semesta.


"Jadi, siapa yang akan melakukan tugas penting ini?" tanya Zhafira di akhir diskusi mereka.


"Siapa ya? Aku juga bingung. Teman sekelas kita ada yang cocok gak?" balas Tara kembali bertanya.


"Jangan, sebisa mungkin teman sekelas jangan ada yang tahu terlebih lagi teman-teman kita gak ada yang cocok dengan peran ini. Siapa ya," Zhafira terlihat berpikir sembari memegangi dagunya.


"Ahaaa....gimana kalau Milka? Dia pintar dan mandiri terus gak cengeng. Aku yakin kalau dia cocok untuk peran ini. Dia gak akan terpengaruh pada sifat Semesta karena terkadang dia juga bersikap menyebalkan dan dia juga tahu Semesta kan? Dia orang yang paling cocok," jelas Zhafira singkat.


"Masalahnya, dia mau gak?" sambung Evan yang sedari tadi bungkam.


Milka datang ke rumah Tara dengan tanda tanya. Ia diminta untuk hadir karena ada urusan penting? Tara menyambut kedatangan Milka dengan baik yang mana si empunya terlihat kaget karena dirumah Tara sedang kedatangan tamu.


Tara segera menjelaskan maksud tujuannya mengajak Milka datang. Seperti yang diharapkan, Milka mendengarkan secara saksama semua penjelasan Tara dari A sampai Z. Tara menceritakan semua tentang Semesta dengan detail pada Milka. Responnya, dia hanya mengernyitkan kening.


"Oke, aku akan bantu kamu Ra," cetus Milka yang membuat Tara dan Zhafira girang sampai-sampai mereka mendapat teguran dari Kirana karena suara mereka yang terlalu berisik.


✓✓✓


Hari berikutnya, Semesta mengajak Tara makan siang bareng. Skenarionya, Milka manjadi seseorang yang kebetulan berada di cafe dimana Tara dan Semesta akan makan. Tara akan mengajak Milka ikut bergabung bersama mereka. Skenario klasik seperti film televisi yang sering ditonton Mamanya hampir tiap hari.


"Lo mau makan apa Ra?" tanya Semesta melihat buku menu.


"Terserah, yang penting enak," jawab Tara tidak tertarik.


Hitungan menit setelahnya, Tara memberi isyarat agar Milka lewat di samping meja mereka. Milka langsung menjalankan perannya.


"Milka," seru Tara pura-pura terkejut.


"Lohhh... Tara, kamu makan siang di sini juga?" seru Milka sealami mungkin.


"Iya, kamu sendirian?"


"Sepertinya iya karena temanku gak jadi datang padahal kita udah janjian ketemu di cafe ini," cetus Milka kecewa.


"Yaudah, gabung sama kita aja. Kamu gak berniat untuk pulang kan?"


"Enggak, aku mau makan dulu rencananya. Gak papa kalau aku gabung sama kalian?" tanya Milka melihat Semesta.


"Gak papa, udah gabung aja. Lebih rame lebih seru kan? Duduk Mil, pilih makanan yang kamu mau, tapi bayar sendiri ya. Hehehe," kekeh Tara diakhir ucapannya.


"Ra, gue mau makan siang bareng lo, kenapa lo ajak teman lo ikut gabung?" gerutu Semesta seraya berbisik.


"Apa salahnya? Kan sekarang kita lagi makan bareng. Kalau Milka gak boleh duduk di sini, aku pergi aja," sambung Tara ikut berbisik. Semesta diam, mencoba menerima kehadiran Milka karena jika tidak, Tara yang akan pergi.


Mereka bertiga menyantap makanan dalam diam. Suara dentingan sendok menjadi pemecah keheningan. Sesekali Tara mulai membuka topik pembicaraan, Semesta menyambut dengan baik, kadang dia membalas perkataan-peekataan Milka dengan baik pula. Milka memang keren, tidak salah jika Zhafira merekomendasikannya, batin Tara tanpa sadar manggut-manggut sendiri.


"Kenapa Ra? Kok manggut-manggut?" tanya Semesta.


"Ohh....gak papa. Aku kebelet pipis, aku ke toilet dulu ya. Mil, temani Semesta ya," seru Tara bangkit dari tempat duduknya.


"Lohhh...gak mau ditemani?" sahut Milka.


"Gak usah, kamu temani Semesta saja Mil. Aku duluan." Tara langsung ngacir meninggalkan Milka dan Semesta berdua saja, meninggalkan Semesta dengan tatapan bingung menatap kepergiannya. Ia berharap agar Milka mampu membuat Semesta luluh, semoga mereka dapat berteman baik dan setelah itu perlahan tapi pasti, Semesta akan melupakannya dan kehidupan sekolah yang menenangkan dapat kembali seperti semula.


~Bersambung~