
Tara duduk menyendiri di halte bus sambil mendengarkan musik yang keluar dari headsetnya. Bel pulang telah berbunyi lima belas menit yang lalu dan sampai sekarang ia malah belum menemukan satupun bus atau angkot yang lewat. Tumben, biasanya bus ataupun angkot berlalu lalang tanpa henti di depan sekolahnya. Kali ini tak ada satupun, mungkin para supir bus atau angkot lagi mogok kerja kali ya, pikir Tara dalam hatinya.
"Belum pulang Ra?" seru seseorang yang membuat Tara mencari si pemilik suara.
Dilepasnya headset yang menyumbat kedua telinga, dan ia merasa terkejut saat mendapati siapa yang ada di hadapannya.
"Hah... ngapain di sini?" balas Tara cuek dan kecewa saat seseorang yang menyapanya bukanlah Nusa melainkan cowok yang sok akrab dengannya.
"Memangnya gak boleh? Ini kan halte milik umum dan aku juga bersekolah di sini. Jadi sah-sah aja kalau aku berada di sini," balasnya membuat Tara memutar malas kedua bola matanya.
"Terserah! Lagian kamu siapa sih dari tadi sok kenal banget samaku? Aku gak kenal samamu jadi jangan sok akrab denganku ya," tegas Tara pada cowok yang ditabraknya tadi siang, Evano kalau tak salah namanya.
"Kamu gak ingat Ra? Ini aku Evano teman masa kecilmu, kita sering main bareng loh sebelum aku akhirnya pindah ke luar kota ikut papa yang pindah karena pekerjaannya," jelas cowok itu lagi yang membuat Tara memasang wajah curiga.
Tanpa menanggapi ucapan dari Evano, Tara berlalu meninggalkan halte tersebut dan berjalan menuju perempatan. Tara mendapati Lintang di sana, tengah mengisi bensin motornya. Tanpa ragu Tara menghampiri Lintang, meminta tebengan. Paling tidak sampai ia bisa menghindari si cowok sok kenal sok dekat itu. Tara duduk di bangku belakang, menunggu Lintang yang tengah membayar dan ia sangat terkejut saat mendapati si cowok sksd tersebut berlari mengejar dirinya. Tara meminta Lintang untuk langsung tancap gas, meninggalkan si cowok sksd dengan asap yang mengepul.
"Makasih banyak ya kak. Untung aja ada kakak di sana, kalau gak entah gimana tadi jadinya," ucap Tara turun dari motor Lintang, kakak kelasnya.
"Iya sama-sama. Tapi kenapa tiba-tiba minta nebeng?"
"Tadi ada cowok sksd kak, masa iya dia bilang dia tuh teman kecilnya Ra. Padahal Ra gak pernah punya teman masa kecil deh kayanya, terus dia sok akrab gitu sama Ra. Jadi Ra tinggal, makanya tadi nyuruh kak Lintang untuk tancap gas," jelas Tara bergidik ngeri mengingat Evano, si cowok sksd.
"Ohh...gitu, atau mungkin dia bukannya sok kenal tapi memang udah kenal kali. Coba ingat-ingat lagi, apakah Ra punya teman gak sewaktu kecil dulu, siapa tau dia benar kan."
"Hmm...kayaknya sih enggak kak. Tapi yaudah deh nanti aku coba tanya ke mama. Sekali lagi makasih ya kak."
"Iya, kalau gitu kakak pulang dulu ya," Lintang berlalu dengan motornya dengan kecepatan sedang, menghilang dibalik tekongan yang masih meninggalkan Tara di depan gerbang rumahnya, mencoba mengingat-ingat apakah ia benar memiliki teman sewaktu kecil? Dan lagi orangnya seperti si Evano itu? Tara mencoba menenangkan pikirannya, berjalan memasuki rumah dan merebahkan dirinya di kasur empuk kesayangannya.
✓✓✓
"Aku minta maaf sampai gak kenal samamu," ucap Tara tertunduk malu.
"Aku sempat sakit hati loh karena kamu ngomongnya ketus dan cuek kaya gitu."
"Serius aku benar-benar gak ingat kalau kamu itu Evan makanya aku bilangnya kamu tuh cowok sksd yang menjengkelkan. Terlebih lagi aku gak pernah tau kalau ada murid sepertimu di sini, ternyata toh murid pindahan pantesan aku gak kenal."
"Iya iya, kau perginya lama banget sih makanya aku gak ingat. Udah beberapa tahun yang lalu itu ya?"
"Tujuh tahunan mungkin?" jawab Evano mengira-ngira.
Tara dan Evan berbagi cerita, sedang Zhafira yang berada di sana merasa terabaikan. Ia tak enak hati sampai harus mengganggu obrolan seru mereka, nostalgia tentang masa kecil mereka yang menyenangkan sampai Evan harus pindah ke luar kota mengikuti orangtuanya yang membuat Tara bersedih saat itu.
"Ra, aku balik ke kelas duluan ya," Zha akhirnya angkat bicara meninggalkan Tara dan Evan yang masih asyik mengobrol dan menyantap semangkok bakso.
Zhafira bejalan dengan langkah malas, baru kali ini ia merasa tidak bersemangat. Ia berjalan dengan langkah berat memasuki lorong kelas XII. Akhirnya ia memutuskan untuk membatalkan niatnya menuju kelas, ia memilih untuk mengembalikan semangat hidupnya ke lapangan siapa tau bisa melihat hal menarik di sana. Ternyata benar, terdapat anak-anak kelas XII yang tengah berolahraga. Anak-anak perempuan bermain voli, sedangkan anak laki-laki memilih bermain basket setelah bosan dengan sepakbola.
"Lumayan juga aku kesini, bisa lihat tontonan gratis," batin Zha melihat lapangan.
Zhafira sangat menikmati permainan mereka, baik anak laki-laki ataupun perempuan mereka bermain dengan sangat apik gak kalah dengan atlet-atlet profesional yang sering di tontonnya di tv. Tiba-tiba, Zha merasa ada seseorang yang berdiri di belakangnya. Seketika bulu kuduk Zha langsung berdiri bahkan tanpa Zha beri aba-aba. Ia semakin kaget saat sesosok yang berada di belakangnya menepuk pundaknya yang sontak membuat Zha berteriak histeris.
"Waaaaaa......," teriak Zha dengan keras, membuat mereka yang tengah bermain di lapangan mengalihkan pandangannya ke tempat dimana Zha duduk.
"Hushhh... ini aku," ucapnya mendekatkan jari telunjuk ke bibirnya, meminta Zha untuk berhenti berteriak.
"Kak Lintang," seru Zha kaget begitu tahu sosok yang membuatnya merinding tadi adalah Lintang, kapten basket yang keren dan populer.
"Hehe," Lintang hanya tertawa seadanya melihat betapa kagetnya Zha barusan. Jika bisa, mungkin ia akan merekam reaksi ketakutan Zha yang pasti membuatnya tak bisa berhenti tertawa.
"Aku kaget loh kak. Kenapa munculnya kaya setan gitu? Tiba-tiba berdiri di belakang, Zha kira beneran setan penunggu lapangan olahraga ini," ucap Zha kesal memanyunkan bibirnya.
"Hehe iya maaf, aku gak bermaksud nakutin. Tapi ekspresimu tadi lucu banget tau gak sampai-sampai anak-anak yang main di lapangan pada melihat ke arahmu, andai aja aku bisa rekam pasti lucu baget itu. Hahahaha," tawa lintang dengan keras di akhir ucapannya. Tampaknya ia menikmati menjahili adik kelasnya itu.
"Ihhhh....gak lucu tau kak! Aku kaget beneran tadi, kalau tenyata aku kena serangan jantung gimana? Kakak mau tanggung jawab?" Zha berkata dengan kesalnya, mencoba memasang wajah serius. Tapi tetap saja wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa malu di depan kakak kelasnya tersebut.
"Haha, mukamu tuh sok serem tapi lucu. Tenang, kalau Zha kena serangan jantung atau apapun kakak akan tanggung jawab. Jadi jangan kesal kaya gitu lagi ya. Kakak minta maaf hehehe," ucap Lintang dengan mulut yang terbuka lebar. Sedari tadi yang Zha sadari adalah Lintang selalu saja tertawa. Banyak orang yang bilang bahwa Lintang adalah orang yang asyik dan ceria, tampaknya itu bukan hanya omongan belaka.
"Iya aku maafin," balas Zha sedikit malu karena Lintang yang sedang tertawa benar-benar membuat hati Zha berdetak tak karuan.
~Bersambung~