
Pagi ini, semua siswa sudah bersiap untuk melanjutkan aktivitas kegiatan yang kata Pak Rendy, mereka akan melakukan penelitian terhadap semua tanaman yang ada di sekitar hutan.
"Baiklah, kalian bisa memulai pencarian dan penelitiannya. Batas waktunya sampai jam makan siang, saya harap kalian dapat melakukannya dengan sungguh-sungguh. Setiap kelompok akan mendapatkan masing-masing satu guru pembimbing. Saya harap kalian hati-hati, jangan melakukan apapun yang dapat membahayakan diri sendiri ataupun orang lain," jelas Pak Rendy semangat yang membuat semua siswa segera berhambur mencari tanaman untuk diteliti.
Tara berserta kelompoknya dan Bu Citra sebagai guru pembimbing berjalan dengan santai menyusuri hutan. Bu Citra adalah orang yang ceria dan penuh semangat yang membuat semua anggota kelompok 4 merasakan semangat mengalir dalam diri mereka. Bu Citra berpesan agar anak-anak didiknya itu mencari dengan santai dan perlahan karena meskipun mereka mencari banyak tanaman bahkan yang langka sekalipun jika tidak diteliti maka sama saja dengan omong kosong.
Untuk itu, Bu Citra membagi anggota kelompok empat menjadi dua kubu, satu kubu bertugas untuk mencari tanaman dan satu kubu lagi bertugas untuk meneliti tamanan tersebut, mulai dari akar sampai daun, bagaimana ia tumbuh dan sebagainya. Bu Citra memimpin kubu dua, sedangkan Evan ditugaskan untuk memimpin kubu satu.
Tara sangat gembira karena ia berada di kubu pencari bukan peneliti, karena jika dia berada di sana, ia hanya akan menghambat teman-teman lainnya lagipula Tara paling suka jika berhubungan dengan alam, mencari tanaman adalah kesukaannya seperti biasa yang ia lakukan, mencari dedaunan kering.
"Dua jam lagi kita berkumpul di titik ini. Tim pencari harus kembali dua jam kemudian, bawa apapun yang dapat kalian temukan. Setelah itu, kita akan menelitinya secara bersama-sama," jelas Bu Citra.
"Interupsi Bu, saya ingin bertanya kenapa kita harus melakukan hal ini? Bukannya tanaman dan penelitian adalah bidangnya anak-anak IPA? Kenapa semua siswa baik jurusan IPS ataupun Bahasa harus melakukan hal ini juga?" tanya Tama mengacungkan jarinya.
"Pertanyaan bagus. Semua siswa baik dari jurusan IPA, IPS ataupun Bahasa harus melakukan semua agenda yang telah disusun oleh panitia. Mau tidak mau kalian harus melakukannya karena perjalanan karya wisata ini adalah wajib maka setiap agenda kegiatan juga wajib diikuti. Bukan itu saja, tujuan kenapa semua ikut dalam penelitian tanaman ini untuk memberi warna baru pada setiap jurusan masing-masing. Saya tau kalau kalian pernah merasa jenuh dengan mata pelajaran jurusan kalian, oleh karena itu semua siswa setiap jurusan harus melakukannya. Tak hanya itu saja, nanti kita juga akan mengunjungi tempat bersejarah yang mana ini adalah wadahnya anak-anak IPS dan kegiatan terakhir kita akan mengunjungi museum dalam penelitian kebahasaan negara-negara yang pernah menjajah Indonesia sepeti Belanda atau Jepang. Jadi ibu harap kalian bersungguh-sungguh karena tujuan kita karya wisata adalah belajar sekaligus bermain. Sepertinya Ibu memakan waktu kalian, silakan lakukan tugas kalian sebaik mungkin dan kita kumpulkan poin sebanyak yang kita bisa!" jelas Bu Citra mengepalkan tangannya semangat sebelum kelompok 4 pergi melakukan tugasnya masing-masing.
"Ra, kamu udah dapat berapa tanaman?" tanya Evan menoleh pada Tara yang dengan semangat mengutip tamanan secara sembarang yang membuat Evan merasa ragu apakah yang diambilnya itu sesuai dengan yang diperintahkan atau Tara hanya asal comot saja?
"Ada...lima nih Van," jawab Tara singkat setelah menghitung tanaman yang ada ditangannya.
"Apa aja?"
"Murbei, singkong, ceri, tunas bambu, sama ini bunga liar, aku gak tau apa namanya. Ehh...apa semua ini termasuk tanaman?" tanya Tara ragu setelah mengumpulkan semua itu padahal awalnya ia sangat bersemangat dan yakin dengan apa yang didapatnya.
"Entahlah, bukannya tanaman adalah semua yang tumbuh dari tanah? Seperti kata Pak Rendy, penelitian tanaman ini hanyalah formalitas karena sebenarnya kita meneliti apapun yang ada di alam sekitar kita. Jadi, selama itu tumbuh dari tanah, sudah pasti dia termasuk tanaman kan?" balas Evan sesuai dengan pemikiran yang terlintas di kepalanya, meskipun ia tak tau itu benar atau tidak tapi menurut logika bukankah itu benar?
"Ohh...iyaya, pintar kamu Van," balas Tara memberi Evan dua jempol.
Dua jam telah berlalu, sudah waktunya tim pencari maupun tim peneliti berkumpul di titik perkumpulan. Tara melangkah dengan riang karena ia berhasil mengumpulkan banyak tanaman baik bunga, buah, daun, akar, atau apapun yang bisa didapatnya. Tak hanya Tara saja, semua anggota tim pencari berhasil mengumpulkan banyak tanaman dan mengumpulkannya dalam sebuah keranjang kecil. Sangking banyaknya, mereka sendiri tidak tau apa yang mereka ambil karena di sana ada beberapa rerumputan liar yang diambil oleh entah siapa.
Di tengah perjalanan, secara sekilas Tara melihat bunga yang menghipnotis matanya. Bunga tersebut berbentuk seperti cakar yang tumbuh menggantung dari ranting-ranting pohonnya. Warnanya sangat khas dan indah, yakni variasi warna hijau kebiruan dan hijau mint yang membuat Tara ingin sekali meraihnya karena baru kali pertama ia menemukan bunga yang indah dan unik seperti itu.
"Aku harus mendapatkannya agar kelompok kami memperoleh poin yang lebih tinggi dari kelompok lain," batin Tara mengepalkan tangannya semangat.
Tara mencoba merengkuh bunga tersebut tetapi sangat sulit karena bunga itu tumbuh di pinggir tanah yang curam. Meski begitu, Tara tak gentar dengan apa yang ada di hadapannya. Tekadnya lebih kuat daripada rasa takut jika ia tergelincir, terperosok bahkan menghantam pohon-pohon rimbun dibawah jurang tersebut.
Tara berpegangan pada sebuah pohon lalu menelungkupkan badannya, dengan tangan kanan mencoba meraih bunga tersebut. Dengan susah payah Tara mencoba meraihnya tapi gagal. Tara mengatur strategi, kali ini ia berjongkok dan tap! Tara berhasil meraih ujung bunga tersebut.
Tara menariknya dengan perlahan dan hati-hati karena jika salah sedikit saja kakinya akan tergelincir dan dia akan terperosok dalam jurang itu namun sejatinya Tara tidak takut karena rasa keingintahuannya lebih besar dari hanya sekedar rasa takut akan luka, toh Tara sudah sering terluka.
"Ayoo... sedikit lagi," geram Tara meraih bunga yang letaknya agak jauh dari pegangan Tara saat ini.
Sangking semangatnya, tanpa sadar tangan kiri Tara terlepas dari pengangannya pada ranting pohon tersebut. Tanah tempat Tara berpijak seketika retak, sepertinya semesta tidak mengizinkannya untuk mengambil keindahan alam tersebut terbukti dengan susahnya bunga itu untuk diraih disertai bantuan teman-teman dari si bunga tersebut.
Tara mengurungkan niatnya, ia berdiri dan hendak kembali pada kelompoknya yang tengah melakukan penelitian. Ketika berbalik, tanpa sengaja Tara berpijak pada tanah lembap ditambah dengan tanah retak yang dipijaknya saat berjongkok barusan untuk meraih bunga cantik tersebut.
Waaargghhhh....!
Gusrak! Gubrak!
"Awwww....sakit," Tara meringis saat kepalanya tanpa sengaja menghempas pepohonan.
"Tolong.....to....long.....," ucap Tara lirih menatap dengan mata berkunang-kunang, berharap bahwa ada orang yang akan menolongnya.
"Hah...harusnya aku tidak mencoba untuk mengambil bunga itu. Kalau Mama, Papa, Bang Sean tau aku pasti diomeli habis-habisan ditambah Nusa yang entah bereaksi seperti apa. Nusa, aku harap kamu datang, tolong aku," batin Tara sebelum pandangannya menjadi gelap.
~Bersambung~