
Tara berlari memasuki gerbang sekolah dengan tergesa-gesa. Berhambur dengan cepat menuju kelasnya, ia tengah diburu oleh waktu karena pasalnya ia telat lima menit dari jam masuk sekolah, dan kabar baiknya adalah Bu Andini, guru terdisiplin se-SMA Negeri 1 mengisi jam pelajaran pertama dengan mata pelajaran matematika.
Hah...hahhh...hahh....
Tara terengah-engah memasuki ruang kelas, semua murid sudah duduk dengan rapi di kursinya masing-masing. Yang membuat Tara lebih heran adalah di sana tidak terdapat Bu Andini sama sekali. Mungkin ini adalah hari keberuntungannya karena Bu Andini biasanya tak pernah telat sekalipun. Tara bernapas lega, berjalan santai menuju tempat duduknya.
"Tumben telat Ra," komentar Zhafira sesaat setelah Tara duduk di kursinya.
"Iya, aku kesiangan tadi. Oh iya Zha, Bu Andini mana? Tumben belum masuk, padahal aku udah jantungan banget tau gak, lari-larian kaya orang gila. Lihat nih rambut aku aja berantakan padahal udah rapi-rapi dari rumah," gerutu Tara merasa usaha lari maratonnya sia-sia.
"Kenapa ngomel sih Ra, harusnya bersyukur karena Bu Andini masuknya telat, kita juga gak ada yang tau kenapa. Mungkin ada urusan kali," Zhafira membuat alasan seadanya.
Belum sempat Tara membalas ucapan Zha, Bu Andini dengan langkah gontai berjalan memasuki ruang kelas, menjadikan kelas yang tadinya ribut kaya pasar, hening seketika bahkan jangkrik pun enggan untuk bersuara.
"Pagi anak-anak, maaf telat karena saya ada beberapa urusan yang harus diselesaikan. Baik, buka buku kalian halaman 107, dibaca baik-baik contoh latihan tersebut dan setelah itu kalian kerjakan soal di halaman 110. Hari ini kalian belajar mandiri, karena setengah jam lagi saya harus menghadiri rapat penting dengan guru-guru dari sekolah lain," terang Bu Andini dengan jelas yang membuat semua murid senang bukan kepalang namun mereka semua mencoba menyembunyikan ekspresi kegembiraan mereka dengan memasang wajah kecewa serta ungkapan tak senang karena Bu Andini tak mengajar mereka yang tentunya itu hanyalah kebohongan semata karena sebenarnya mereka selalu berharap agar Bu Andini tidak datang barang sehari saja. Sepertinya doa yang sekian lama mereka panjatkan akhirnya terkabul juga meskipun Bu Andini sempat datang dan masuk mengajar di kelas.
Tara mengemasi perlengkapan belajarnya, merapikan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas. Tara mengamati sekeliling, sekilas ia sempat melihat Nusa di tempat duduknya beberapa menit yang lalu dan sekarang ia sudah menghilang seperti jin tanpa orang lain sadari.
"Zha, tadi Nusa datang kan? Kok sekarang udah gak ada aja tuh orang di kursinya cepat banget ngilangnya."
"Iya Nusa memang datang dan sekarang dia udah menghilang. Kamu tau sendiri kan Ra, Nusa tuh orangnya emang gitu, sekejap ada sekejap tak ada."
"Yaudah kalau gitu aku pergi ya Zha," ucap Tara berlalu meninggalkan Zhafira yang berniat mengajaknya ke kantin, tapi belum sempat Zhafira ngomong, Tara udah ngacir mencari Nusa.
"Yaudah kalau gitu aku ke kantin sendirian aja," batin Zhafira dengan cepat berjalan menuju kantin takut-takut brownies coklat Wak Oteh kesukaannya ludes diborong oleh siswa lain.
✓✓✓
"Nah kan sudah kuduga kamu di sini, kenapa cepat banget ngilangnya sih Sa?"
"Aku selalu merasa tidak nyaman dengan orang-orang, makanya secepat yang aku bisa aku harus segera pergi sebelum orang-orang bertanya tentang hal yang membuatku tidak nyaman."
"Aku penasaran, apakah kamu punya trauma atau semacamnya dengan orang lain?"
"Yah mungkin bisa dibilang seperti itu bisa juga tidak. Tapi yang pasti orang-orang hanya ingin tau, tanpa benar-benar peduli. Jadi yah, aku lebih memilih menghindar dari mereka."
"Oke, untuk kesekian kalinya, misteri tentangmu makin bertambah banyak. Menambah daftar misteri seorang Nusa Mahendra Zachery."
"Haha, apaan tuh ada daftarnya segala. Dasar cewek aneh," ejek Nusa setelah mendengar pernyataan dari Tara yang repot-repot menulis daftar misteri milik orang lain.
"Oh iya Sa, kamu bawa bekal apaan tuh?" lirik Tara pada kotak makan milik Nusa sekaligus mengalihkan topik pembicaraan takut kalau Nusa menyadari wajahnya yang memerah.
"Ohh....aku bawa martabak telur nih, kamu mau? tanya Nusa yang mendapat anggukan cepat dari Tara.
"Aaaaaa," Nusa menyodorkan sendoknya pada Tara, memberi aba-aba untuk membuka mulutnya. Tara yang mendapati perlakuan demikian hanya diam sampai Nusa memberinya tatapan tajam, dengan ragu Tara mendekatkan mulutnya dengan sendok yang masih dipegangi oleh Nusa.
Tara mengunyah makanannya dengan pelan, ia merasakan pipinya memanas. Apa efek dari martabak yang masih hangat atau karena hal lain? Entahlah, biasanya Tara tak pernah merasakan hal aneh seperti ini, ia yakin bahwa wajahnya sekarang telah merah padam. Tara mencoba mengingat-ingat, ini sudah yang keberapa kalinya ia malu begini? Dan penyebabnya adalah Nusa, agaknya Nusa lebih istimewa dari yang Tara sendiri sadari.
"Lohh.... wajahmu kok merah Ra? Apa demam?"
"Gak kok, kamu kali yang demam. Kemaren kamu pingsan kan, terus ngapain datang ke sekolah segala? Emang udah baikan apa? Kalau sampai pingsan lagi aku gak akan peduli loh ya, aku biarin aja kamu tergeletak tanpa ada yang nolongin," celetuk Tara ngasal yang membuat Nusa memiringkan kepalanya bingung.
"Ini sudah siang loh Ra, tapi kenapa omonganmu ngelantur kaya gitu sih? Belum minum obat ya?" cetus Nusa memasang wajah ilfil takut-takut kalau otak temannya itu sudah sedikit miring.
"Lagipula apa kamu tega biarin aku pingsan tergeletak entah dimana? Aku yakin kamu bakal panik setengah mati takut kalau aku kenapa-kenapa," Nusa menambahi ucapannya sebelum Tara mencerocos yang tidak jelas lagi.
"Tau ah, aku mau balik ke kelas duluan," Tara berlalu dengan cepat dan kesal, tampak emosinya telah memuncak seperti ada asap yang keluar dari kepalanya layaknya kereta api.
"Hah....tuh anak kenapa jadi aneh kaya gitu. Benar-benar aneh deh itu si Tara," batin Nusa bingung dengan sikap Tara yang belum pernah dilihatnya selama mereka bersama.
✓✓✓
"Arggghhhhh....kenapa aku jadi salting kaya gini sama Nusa sih? Aku kenapa coba, masa iya mukaku merah terus kaya kepiting rebus? Apa karena terlalu lama kena panas matahari ya. Tapi selama apapun aku dibawah teriknya matahari aku gak pernah sampai merah kaya gitu wajahnya. Terus aku kenapa coba? Argghhhhhh....," teriak Tara melewati lorong-lorong kelas yang membuat semua orang melihat ke arahnya tapi mereka sudah biasa melihat tingkah Tara yang tidak wajar, karena Tara memang sudah terkenal se-SMA Negeri 1 dengan julukan cewek aneh.
Tara bejalan sesuka hati, tanpa memperhatikan jalanan dengan benar, ia menerobos kerumunan begitu saja tanpa permisi terlebih dahulu. Sekarang ia yakin bahwa dirinya telah menabrak seseorang yang entah siapa.
"Maaf aku gak sengaja," ucap Tara mencoba melihat siapa orang yang ditabrak olehnya.
"Tara," cetus orang itu kaget yang membuat Tara bingung karena selama ia bersekolah di sini, ia belum sekalipun pernah bertemu atau melihat orang yang ada di hadapannya ini. Apa dia adalah jelmaan iblis, siluman, atau dewa yang turun ke bumi untuk mencari pujaan hatinya seperti dalam komik-komik? Karena seingatnya, Tara tidak pernah sekalipun bertemu dengan orang ini.
"Siapa?" ketus Tara melipat kedua tangan di dada.
"Ini aku Evano! Evano Farzan Gunandhya," seru cowok berambut pirang memperkenalkan dirinya dengan girang.
"Hah...sapa ya? Gak kenal," cetus Tara berlalu begitu saja meninggalkan lelaki pirang yang bernama Evano itu, tampaknya ia merasa sedikit syok mendapat tanggapan Tara yang demikian cuek, atau mungkin hatinya merasa tertolak dengan perlakuan Tara?
~Bersambung~