
Bam!
Tara terpojok, kanan kirinya di hadang dengan lengan. Ia takut, ingin menjerit meminta pertolongan tapi bibirnya kelu. Tara memejamkan mata, berharap akan ada yang datang menghampirinya, membantunya keluar dari situasi bahaya dan menakutkan ini.
"Takut? Lo pikir gue gak tau apa rencana lo? Milka hanya pion yang lo gunakan untuk menyingkirkan gue. Iya kan?" seru Semesta dengan nada tinggi, Tara gemetar seketika.
"Kalau ditanya ya jawab!" tegas Semesta yang membuat Tara tersentak kaget.
"I...iya, terus kenapa?" balas Tara mencoba menyembunyikan dirinya yang tengah gemetar ketakutan.
"Heh...di giniin aja lo gemetar? Makanya, lo jangan cari gara-gara sama gue. Selama ini gue berusaha bersikap baik sama lo, tapi yang lo lakukan apa? Secara terang-terangan lo berusaha menyingkirkan gue? Lo pikir gue akan kemakan rencana klasik lo itu?"
"Iya, aku memang ingin menyingkirkanmu. Jadi aku harap kau dapat pergi dari kehidupanku." Tara membalas ucapan Tara dengan yakin, ia telah berhasil mengumpulkan keberaniannya meski tidak sepenuhnya karena saat ini bahunya masih terlihat sedikit gemetar.
"Jadi ini jawaban lo? Lo tetap gak suka sama gue?" tanya Semesta lagi.
"Iya, apapun yang akan kau lakukan aku gak akan pernah suka samamu apalagi sampai jatuh cinta. Maaf, aku harus pergi." Tara menyingkirkan tangan kanan Semesta yang mengunci pergerakannya tapi dengan cepat Semesta menahan Tara di dinding, memojokkannya.
"Lepas! Aku kau pergi!" teriak Tara.
"Lo boleh pergi, tapi gue duluan yang pergi." Semesta berjalan keluar dan menutup pintu ruang peralatan olahraga, meninggalkan Tara yang berada di belakangnya.
Ceklek!
Pintu terkunci, Tara berusaha membuka pintu dan memohon agar Semesta mau membukanya tapi Semesta memilih diam untuk beberapa saat.
"Lo tinggal di sini sampai bel pulang berbunyi. Setelah itu, gue akan buka ini pintu dan sekali lagi gue kasi lo kesempatan untuk merenung. Sebaiknya lo terima cinta gue kalau enggak gue gak akan bukakan pintu ini untuk lo. Pulanng sekolah nanti gue tunggu jawaban lo," ucap Semesta pergi meninggalkan Tara begitu saja.
"Hah... apa-apaan dia, gila kali ya," cetus Tara menyandarkan punggungnya di daun pintu.
Tara melihat sekeliling, ruangan gelap gulita dikarenakan bohlam yang rusak dan belum diganti dengan yang baru. Tara merogoh saku roknya. Sial! Dia mendengus kesal saat ponsel yang dicarinya tidak ditemukan. Yap, ponselnya tertinggal di kelas.
"Bagaimana caranya aku keluar dari sini," seru Tara mencoba untuk tenang.
Tara menarik-embuskan napasnya berulang kali. Di sudut kanan terdapat jendela kecil sebagai fentilasi udara. Tara girang, sesaat setelahnya senyum yang merekah itu hilang. Jendela fentilasi itu terlalu tinggi untuknya. Tara memutar otak, di sana terdapat meja tenis. Tara menarik meja tenis tersebut dan menggesernya dekat jendela fentilasi yang dimaksud. Tara naik, tapi jendela itu belum dapat dicapai olehnya. Tara berjinjit, mencoba meraih jendela fentilasi tesebut. Tara girang saat ujung jarinya hampir menyentuh jendela tapi sayang, saat Tara berhasil meraihnya, ia kehilangan keseimbangan dan jatuh.
"Aduhh....itu siapa sih yang buat jendela fentilasi tinggi banget," gerutu Tara memegangi bokongnya yang nyeri.
Tara putus asa karena satu-satunya jalan keluar yang dia punya adalah jendela fentilasi. Tara menyandarkan diri di depan pintu, memeluk kakinya dengan erat. Perlahan, aroma sumpek merasuk ke dalam indra penciumannya. Sebisa mungkin ia menutup hidung tapi apa boleh buat, aroma itu terus-menerus memenuhi aroma penciumannya sampai-sampai membuatnya mual.
Tara merasakan dadanya sesak, napasnya terputus-putus. Dengan keadaan yang menyakitkan itu, perlahan kristal air jatuh, mengalir dengan deras. Tara tidak dapat membendung rasa sakit yang di alaminya saat ini. Perlahan, Tara berdiri dengan kaki gemetar.
"Tolong....." Teriak Tara lirih sembari menggedor pintu.
"Tolong...to...long... Siapapun tolong a...ku." Tara berteriak lagi dengan suara lemah.
Beberapa menit berlalu, Tara masih berusaha meminta pertolongan. Namun hasilnya nihil, tidak ada satu orangpun yang menyahuti teriakannya. Apa karena jam belajar makanya sepi, pikir Tara sesaat sebelum ia jatuh ke lantai. Tara merasakan pipinya panas, butiran kristal itu terus-menerus jatuh tanpa tahu kapan akan berhenti. Tara duduk bersimpuh dan berdoa, mengharapkan akan ada seseorang yang datang menyelamatkannya.
"Ya Allah, tolong bantu Tara keluar dari sini. Gerakkanlah hati seseorang untuk melangkahkan kakinya menuju ruang peralatan olahraga. Tara sudah tidak kuat lagi ya Allah," batin Tara sebelum menyapukan telapak tangannya ke wajah.
Tara menyandarkan diri di balik pintu, memeluk kakinya erat-erat karena sampai detik ini dadanya semakin sesak dan napasnya semakin terputus, terengah-engah layaknya seseorang yang telah menyelesaikan lari marathon.
"Sa, aku harap kamu datang," lirih Tara sebelum akhirnya pandangannya menjadi gelap, segelap ruangan yang ditempatinya saat ini.
✓✓✓
"Gak tau Sa, sejak jam istirahat tadi dia udah gak kelihatan dan sampai sekarang belum balik tapi tenang aja sih Sa, nanti dia balik kok," jawab Zhafira santai.
"Iya sih, tapi aku khawatir sama dia Zha. Aku cari dulu ya."
"Tunggu, tunggu, telpon aja kali gak usah di cariin segala. Bentar, aku coba telpon dia."
Tulilut.. tulilut....
"Lahh... hpnya tinggal di dalam tas. Kebiasaan banget tuh anak," gerutu Zhafira.
"Aku pergi cari Tara Zha, aku khawatir sama dia," cetus Nusa meninggalkan Zhafira begitu saja.
"Hadeuhhh....tungguin napa. Aku kan mau ikut cari Tara sekalian bolos jam pelajaran Bu Ginting," batin Zhafira menyusul Nusa.
Nusa dan Zhafira berpisah mencari Tara tapi mereka tidak menemukan Tara dimana pun. Tempat-tempat strategis sudah dikunjungi tapi Tara entah berada dimana.
"Gimana Sa, kamu gak ketemu sama Tara?" tanya Zhafira setelah sampai di tempat berkumpul.
"Gak ada Zha, kamu gak ketemu dia?" balas Nusa dengan tanya.
"Gak ada makanya aku namanya samamu. Kira-kira dia ada dimana ya Sa, gak biasanya dia ngilang kaya gini."
"Aku juga gak tau."
"Nusa, Zha, kenapa kalian di sini?" Lintang berjalan menghampiri Nusa dan Zhafira.
"Kita lagi mencari Tara kak," jawab Zha singkat.
"Memangnya dia kemana?"
"Itu masalahnya kak, sejak jam istirahat sampai sekarang dia gak balik ke kelas. Karena kita berdua khawatir, kita berusaha cari Tara, takutnya dia kenapa-kenapa."
"Yaudah aku ikut bantu cari Tara," ucap Lintang menawarkan bantuan.
Nusa, Zhafira dan Lintang mencari Tara sekali lagi di lingkungan sekolah. Langkah mereka terhenti saat bertemu dengan Milka dan Sisy.
"Loh...kalian kok rame-rame?" seru Milka bingung.
"Kita lagi cari Tara, kamu lihat gak Mil?" Zhafira langsung bertanya tanpa basa-basi.
"Tara? Bukannya sama Semesta?"
"Gimana bisa Tara bisa bersama dengan dia?" cetus Nusa tidak sabaran.
"Aku juga gak tau, tapi aku lihat mereka jalan ke arah ruang penyimpanan alat olahraga. Aku kira mereka ada perlu apa di sana. Memangnya kenapa kalian mencari Tara?"
"Dia belum balik ke kelas Mil," jawab Zhafira lagi.
"B..." Milka menghentikan perkataannya saat Nusa berlari melewatinya.
"Yaudah Mil, kita ke ruang penyimpanan dulu ya. Makasih atas infonya," cetus Zhafira berlari menyusul Nusa dan Lintang, meninggalkan Milka dan Sisy dengan tanda tanya. Terlebih Sisy, ia tidak tau apa-apa tentang Semesta yang menyukai Tara.
~Bersambung~