Nusa(N)Tara

Nusa(N)Tara
Tumpah Ruah



"Sa, kamu kenapa? Sakit atau gimana?" panik Tara sesaat melihat Nusa meneteskan air mata.


"Ahh....gak papa kok, maaf ya semuanya karena saya tiba-tiba nangis kaya gini," seru Nusa menghapus air matanya yang lama kelamaan bukannya berhenti malah semakin deras.


Karina yang melihat Nusa seperti itu merasa tersentuh dan langsung berhambur mendekap Nusa, memeluknya erat.


"Ehh....maaf tapi kenapa Tante peluk saya?" ujar Nusa kaget mendapat pelukan erat dari Karina.


"Tante gak tau kamu sudah melalui apa saja, tapi satu yang Tante pahami adalah kamu membutuhkan pelukan dan kehangatan keluarga. Sedari tadi Tante sudah memperhatikan kamu, tampak dari sorot mata kamu kesepian. Kalau memang menangis bisa membuatmu merasa lebih baik, gak papa nangis aja gak ada yang melarang kok," jelas Karina yang membuat bom air mata yang selama ini ditahannya meledak seketika.


Tara yang melihat Nusa benar-benar menumpahkan semua air mata yang selama ini ditahannya hanya diam membatu, tidak tau harus berbuat apa. Ia sama sekali tidak tahu bahwa sakit yang selama ini di tahannya separah ini. Surat yang ditemukannya waktu itu hanyalah salah satu penyebab kecil mengapa ia menjadi seperti ini. Nusa seberapa besar luka yang ada di hatimu itu? Sampai-sampai air mata itu terus saja mengalir membasahi pipimu yang tampaknya tak akan berhenti dalam waktu dekat.


"Gimana, kamu udah tenang?" tanya Karina mengelus-elus puncak kepala Nusa.


"Tan, boleh gak kalau Nusa peluk Tante sekali lagi?" pinta Nusa dengan mata yang memerah.


"Tentu boleh dong sayang, sini" Karina merentangkan tangannya, Nusa pun berhambur dalam pelukan Karina.


"Sudah lama sekali sejak Nusa terakhir kali dipeluk sama ibu," gumam Nusa yang bisa terdengar jelas oleh Karina.


"Nusa, tante tak akan bertanya mengapa kamu bisa seperti ini tapi tante punya satu permintaan untuk Nusa. Apa Nusa mau melakukan itu?"


"Iya tante, selama Nusa bisa melakukannya. Pasti Nusa akan melakukan permintaan Tante tersebut."


"Tante harap, kamu jangan pernah bersedih lagi untuk alasan yang sama. Sekarang, kamu mungkin akan menangis dengan satu alasan, tapi besok atau lusa jangan pernah bersedih dengan alasan seperti hari ini."


Nusa membelalakkan mata sebelum mengiyakan permintaan dari Karina.


"Iya Tante, Nusa akan coba untuk tidak bersedih dengan alasan yang sama. Kalau gitu Nusa balik ya Tan, udah sore kaya gini. Nanti orang rumah nyariin lagi," seru Nusa bangkit dari tempat duduknya.


"Kamu yakin bisa pulang sendiri?" tanya Karina khawatir takut terjadi apa-apa dengan Nusa.


"Iya Tante, Nusa udah gak papa kok," ucap Nusa yakin.


Tara yang sedari tadi duduk di teras depan, akhirnya bangkit saat melihat Nusa keluar dari rumahnya. Tara menawarkan diri untuk mengantar Nusa sampai ke jalan raya guna mencari angkot. Dalam perjalanan, Nusa dan Tara hanya diam membisu. Seperti biasa Nusa selalu saja menghemat suaranya atau mungkin ia sudah lelah karena menangis tadi sehingga membuat suaranya hilang?


"Ya?"


"Kamu gak papa?"


"Bohong kalau aku bilang baik-baik aja. Ra, aku mohon agar kau melupakan kejadian tadi anggap aja bumi tak bisa lagi menampung tetesan air hujan, akhirnya ia turun deras mengalir pada seorang anak manusia," jelas Nusa menatap jalanan yang dipenuhi lalu lalang kendaraan.


"Tapi bagaimana aku bisa lupa jika kamu merasa seperti itu? Kamu tau ekskresi apa yang kamu buat tadi? Aku baru kali pertama melihat kamu kaya gitu, tapi entah kenapa aku ikut merasa sedih dan sakit disaat yang bersamaan. Sa, tidak bisakah kamu berbagi cerita dengan orang lain? Haruskah luka itu kamu tahan dan pendam sendirian?"


"Aku belum menemukan orang yang sepenuhnya bisa aku percaya untuk berbagi cerita, berbagi keluh kesah. Takutnya di saat dia jenuh dan bosan, akhirnya ia pergi meninggalkan lalu kembali dengan tatapan yang tak bersahabat bahkan tatapan kebencian. Aku pernah benar-benar percaya pada sesorang, namun akhirnya aku dikhianati. Aku iri, iri sama keluargamu," terang Nusa yang membuat Tara membulatkan matanya.


"Kenapa? Apa yang perlu kamu irikan dengan keluargaku?"


"Keluargamu aku suka. Mereka baik, ramah, pengertian, rasa kekeluargaan itu amat terasa saat aku berada di sana. Membawaku kepada kenangan masa lalu yang kini tak kudapati lagi. Aku dulu pernah punya keluarga bahagia seperti kalian, bermain dan bercanda bersama, tertawa bersama. Hangatnya keluarga dulu pernah kurasa. Ra, jika boleh aku berpesan jangan pernah sia-siakan keluargamu itu. Meskipun bang Sean adalah orang yang selalu membuatmu jengkel, tapi dia akan menjadi orang pertama yang akan melindungi ketika kamu disakiti, dia yang akan memberikan badannya untuk dijadikan perisai ketika panah datang dengan cepatnya, mencoba melukaimu, membunuhmu."


Grab! Tara memeluk Nusa erat, ia tak tahan mendengar semua ucapan Nusa yang begitu menyakitkan. Tara dan Nusa menjadi pusat perhatian di tengah ramainya kendaraan dan pejalan kaki yang lalu lalang. Namun Tara tak peduli dengan tatapan orang-orang, yang ia prioritaskan saat ini adalah Nusa.


"Kamu ngapain sih Ra? Lepas," Nusa mencoba melepaskan pelukan Tara yang semakin erat.


"Gak, kenapa sih kamu itu egois banget Sa. Apa benci orang yang egois, yang memendam masalahnya sendiri. Hikss....aku gak suka orang yang kaya gitu," Tara menangis sesenggukan masih memeluk Nusa lebih erat dari yang sebelumnya.


"Ra, bisa gak lepaskan pelukanmu? A...aku se...sak na....pas," ungkap Nusa terbata.


Tara yang menyadari apa yang diperbuatnya seketika melepaskan pelukannya dari Nusa. Jika tadi yang berlinang air mata adalah Nusa, kali ini Tara yang menangis sejadi-jadinya dalam diam, membiarkan air matanya mengalir deras tanpa henti. Nusa sadar bahwa ialah penyebab Tara menjadi begini. Apa jadinya nanti jika keluarganya tau bahwa Tara menangis untuknya? Mungkin Nusa akan dijadikan ikan pepes oleh Sean.


"Ra, aku ingin sekali berbagi cerita denganmu. Tapi tidak untuk sekarang, karena aku ingin memberitahumu disaat yang tepat. Kumohon jangan nangis apalagi dengan alasan yang tidak logis. Ra, kamu adalah ketidaksengajaan yang selalu aku harapkan. Setitik cahaya yang menarikku keluar dari kegelapan, ruang kehampaan," ucap Nusa menenangkan Tara dengan sedikit menepuk-nepuk puncak kepalanya.


Nusa bermaksud agar Tara berhenti menangis untuk dirinya, untuk alasan yang dia sendiri tidak tau apa. Namun sayang bukannya menghentikan Tara yang berlinang air mata, malah air mata Tara terjun bebas begitu deras. Tampaknya bendungan yang menahan air matanya tumpah ruah telah jebol atau bahkan telah roboh bersamaan dengan pecahnya bola kaca air mata.


"Sa, aku gak tau harus senang atau sedih karena setelah mendengar pernyataan kamu barusan aku merasa kehadiranku selalu mengganggumu. Aku tak pernah menyangka bahwa kamu akan berkata demikian. Maaf kalau aku merasa bahagia di saat yang tidak tepat," ucap Tara menyandarkan kepalanya pada dada Nusa yang bertopang pada tubuh kurusnya.


~Bersambung~