
"Ma, Pa, Bang, kita pergi ya," seru Tara setelah mencium punggung tangan orang tuanya.
"Gak mau Papa antar?"
"Ehh...boleh deh Pa, lumayan kan biar irit ongkos dan gak repot karena bawa banyak barang."
"Yaudah tunggu sebentar, Papa ambil kunci mobil dulu," seru Gavin berlalu ke kamar.
"Eh Ra, lo di sana jangan berbuat yang aneh-aneh," ucap Sean tiba-tiba yang membuat mood Tara seketika berubah.
"Aneh-aneh gimana sih Bang?" balas Tara ketus.
"Misalnya kaya mengumpulkan daun-daun kering itu, di sana lo jangan berbuat yang kaya gitu ya. Malu, di sana kan bukan cuma kelas lo doang yang ikut karya wisata tapi semua kelas XI," jelas Sean melipat kedua tangannya.
"Isshh....Abang buat Ra kesal aja pagi-pagi. Ra tau apa yang harus dan gak harus dilakukan tau!"
"Gue kan cume mengingatkan lo sebagai Abang yang baik. Satu lagi, lo jaga diri baik-baik jangan sampe luka! Tapi gue gak yakin sih kalau lo bisa gak luka atau kenapa-kenapa, lo kan ceroboh, sekarang aja lo udah luka."
"Iya deh iya, Ra bakal hati-hati kok, ngomong sama Abang lama-lama bikin kesel," cetus Tara berlalu dari meja makan.
"Oh iya Ra, semua yang kamu perlukan sudah dibawa kan?"
"Udah kok Ma, tenang aja. Yuk Zha kita tungguin di depan aja. Papa juga kenapa lama banget sih ngambil kunci doang," gerutu Tara.
"Tante, kita pamit dulu ya Assalamualaikum," pamit Zhafira sopan.
"Iya, Wa'alaikumussalam."
Sesuai jadwal yang telah ditetapkan, semua siswa kelas XI sudah berkumpul di lapangan tepat pada pukul 7 pagi, namun mereka masih harus menyiapkan barang-barang untuk menginap nanti seperti tenda, peralatan masak dan yang lainnya. Setengah jam kemudian, bus menghidupkan mesinnya, pertanda bahwa mereka akan segera berangkat.
"Ra, aku kebelet nih kamu duluan aja," seru Zhafira berlalu dengan cepat menuju kamar mandi.
"Oke, cepat ya Zha, nanti kamu kena tinggal lagi," balas Tara memasuki bus.
Tara sengaja memilih tempat duduk yang strategis, tidak terlalu di depan juga tidak di belakang ia memilih tempat duduk di tengah-tengah. Tara duduk di dekat jendela, menunggu Zhafira yang sampai sekarang belum kembali padahal bus sebentar lagi akan berangkat. Di sela-sela kebosanan menunggu, Tara melihat Nusa yang duduk sendirian di barisan sebelah kiri.
"Sa, kamu duduk sendirian?" tanya Tara menghampiri Nusa.
"Iya," jawab Nusa singkat.
"Kenapa sendirian? Aku temenin ya."
"Gak usah, aku udah biasa sendiri. Kamu duduk sama Zhafira kan? Sana gih balik ke tempatmu," suruh Nusa yang langsung membuat Tara kembali pada tempat duduknya.
Bruk!
"Loh, kenapa balik lagi?" seru Nusa menoleh pada sebelah kanannya, pada sumber suara.
"Hehe, aku duduk di sini," balas Tara disertai tawa.
"Zhafira gimana?"
"Dia mah gampang, dia bisa duduk sama siapa aja tapi kamu enggak kan? Perjalanan kita lama dan jauh loh, kalau aku jadi kamu aku gak akan sanggup duduk sendirian dan diam saja selama beberapa jam perjalanan kita."
"Aku gak masalah kalau sendirian, kasian Zhafira kalau tau kamu gak duduk bareng sama dia. Kalian tadi pagi datang bareng kan?"
"Iya Sa, tapi udah sih tenang aja palingan Zhafira cuma ngoceh-ngoceh, tapi biasanya dia gak akan masukin ke hati sih. Udah kita tunggu dia aja, kemana sih tuh anak kenapa lama padahal cuma ke kamar kecil doang," balas Tara kesal mengingat Zhafira terlalu lama berada di kamar mandi dan sebentar lagi bus akan segera berangkat.
"Assalamualaikum, selamat pagi semua. Saya selaku salah satu panitia akan menemani kalian, beserta dua orang guru yang menjadi penanggung jawab kalian yaitu pak Andre, selaku wali kelas kalian sendiri dan Bu Melati. Baik, semua telah berada di dalam bus?"
"Interupsi kak, ada satu orang lagi yang belum naik, Zhafira masih di kamar mandi," ucap Tara mengangkat tangannya.
"Kalau begitu kita tunggu, apakah ada lagi yang masih diluar?"
"Hah..hah...maaf saya telat," ucap Zhafira terengah-engah memasuki bus.
"Sudah semua. Pak, sudah bisa berangkat sekarang," ucap Lintang pada pak supir.
Tanpa basa-basi lagi, pak supir langsung melajukan busnya dengan kecepatan sedang tanpa menunggu Zhafira duduk pada tempatnya.
Zhafira berjalan di lorong, lalu berhenti pada tempat duduk Nusa dan Tara. Zhafira melayangkan tatapan tajam pada Tara yang membuat Tara hanya bisa tertawa dan menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Maaf Zha, aku bukan sengaja. Nanti aku kasi tau alasannya," ucap Tara merapatkan kedua tangannya.
Belum sempat menjawab, seseorang yang berada di belakang Zhafira mendorong dan menyuruhnya untuk duduk.
"Lohhh...kak Lintang! Kenapa ada di sini?" pekik Zhafira kaget karena yang ia tahu bahwa yang ikut karya wisata hanyalah anak-anak kelas XI.
"Iya, kakak kan salah satu panitia penyelenggara. Otomatis kakak ikut dong. Duduk yuk, pegal nih berdiri lama-lama," ucap Lintang mendorong Zhafira pada sebuah bangku kosong, tempat dimana Tara duduk tadi sebelum berpindah ke tempat Nusa.
"Aku gak tau loh kalau kakak panitia," ucap Zhafira basa-basi.
"Iya. Kalau tau, kamu mau ngapain?"
"Ya gak ngapa-ngapain juga sih kak. Hehehe."
Puk! Puk!
"Kenapa kepala aku di puk-puk sih kak?" cetus Zhafira kesal membenarkan rambutnya.
"Gak papa, kakak suka. Kamu kenapa lama di kamar mandinya? Kalau telat semenit aja, udah kami tinggal loh."
"Itu kak, air kerannya mati. Jadi aku cari pak Anto dulu, kan biasanya pak Anto yang bertugas makanya lama kak."
"Ohh...gitu," jawab Lintang singkat mengalihkan pandangan pada jalanan.
"Oh iya kak, perjalanan kita berapa lama ya?"
"Sekitar 5 atau 6 jam-an."
"Hah...kok lama banget sih kak. Pegal juga kalau duduk selama itu."
"Ya mau gimana lagi, tapi sampai di sana pasti seru kok kan kita sekalian camping juga."
"Nah itu dia yang buat aku pengen ikut selain karena wajib sih."
Di tempat Tara, ia mendengar sorak sorai semua orang yang sedang mengobrol satu sama lain. Ia juga mendengar suara tawa Zhafira yang entah apa yang dibicarakannya dengan Lintang. Tara melirik pada Nusa, ia memperhatikan wajah itu dengan saksama.
"Kenapa Ra?" tanya Nusa menoleh pada Tara.
"Ehh...enggak, aku cuma pengen lihat kamu aja," balas Tara menjawab seadanya.
"Kamu bosan ya?"
"Ehh...enggak kok, siapa bilang aku bosan."
"Udah gak usah bohong. Seharusnya kamu duduk sama Zhafira saja, kalau sama Zhafira kamu bisa membicarakan apapun. Kalau gitu aku pindah ya ke belakang," ucap Nusa bangkit dari tempat duduknya.
"Jangan," cegah Tara menarik ujung kemeja Nusa.
"Kamu di sini aja, aku gak bosan kok. Aku malah berpikir kalau kamu yang gak nyaman samaku karena kamu diam aja dari tadi aku jadi kepikiran."
"Kamu kan tau kalau aku jarang ngomong. Aku gak merasa bosan kok, aku malah senang kamu ada di sini," ucap Nusa duduk kembali di tempatnya semula dan Tara segera mengalihkan pandangannya pada jalanan, ia merasa malu agaknya.
~Bersambung~