Nusa(N)Tara

Nusa(N)Tara
Semesta



Tara merengut, memasang wajah cemberut. Zhafira yang disebelahnya menaikkan sebelah alis, sedari tadi ia heran pada sahabatnya itu yang memasang wajah tidak layak untuk dilihat.


"Ra, kamu kenapa?" Zhafira akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


"Aku kesal Zha!" cetus Tara tanpa menoleh pada Zhafira.


"Kenawhy?"


"Aku belum minta maaf ke Nusa."


"Loh??"


"Ini gara-gara si cowok iblis! Kalau aja dia gak ganggu aku tadi, pasti aku sudah berhasil minta maaf sama Nusa dan mungkin aku sudah dimaafkan," jengkel Tara memanyunkan bibirnya.


"Terus masalahnya dimana?" seru Zhafira memiringkan wajahnya bingung.


"Dimana-mana lah Zha! Aku gak keburu kejar Nusa karena sudah waktunya kita berkumpul kembali ke museum. Sumpah ya, aku kesal kali sama dia! Awas aja kalau ketemu lagi, ku hajar dia!" Tara mengepalkan tangan erat saat mengingat cowok yang dimaksud.


"Kamu kenal sama di Ra? Sejak kapan?" tanya Zha penasaran tanpa memperdulikan ocehan Tara.


"Gak kenal aku! Dianya aja yang sok-sok kenal. Tadi siang aku tau dia, dia tarik tanganku dari barisan belakang karena aku yang kesusahan melihat artefak yang dijelaskan Abang-abang pemandu museum."


"Aku kok gak tau Ra. Kemana aku waktu itu?" cetus Zhafira dengan polosnya yang membuat Tara mencubit pipinya gemas, pengen nabok.


"Nanya lagi, waktu itu kamu ngacir entah kemana. Ninggalin aku sendirian, Milka sama si Sisy juga menghilang kaya hantu. Sekarang mereka dimana coba? Kadang aku heran sama mereka berdua, udah kaya jailangkung, datang gak diundang, pulang gak diantar!"


"Haha..emang tu anak dua cocok, aneh juga," sahut Zhafira terkekeh.


"Sama kaya kamu Zha!" cetus Tara bangkit dari tempat duduknya.


Semua siswa-siswi kembali ke tempatnya, berkumpul dengan kelompok masing-masing guna berdiskusi untuk menyelesaikan tugas yang diberi guru pembimbing, berbekal penjelasan yang diberikan pemandu museum. Tara terlihat berpikir keras, ia sama sekali tidak mengingat apa yang dikatakan pemandu museum tersebut, lebih tepatnya ia tidak fokus saat mendengar, karena ada cowok yang menganggunya. Yap, siapa lagi kalau bukan cowok yang disebut iblis oleh Tara.


"Pusing nih yeeee...."


Tara mengalihkan pandangannya ke kanan, melihat siapa yang berseru padanya. "Kau lagi, ngapain di sini?" Tara memalingkan wajahnya saat melihat orang yang disampingnya adalah si cowok iblis.


"Terserah lah! Gak ada yang melarang gue kesini kan? Lagipula kita ini teman sekelompok, wajar jika kita berdekatan."


Mengernyitkan dahi. Tara berucap tidak percaya. "Hah... Aku gak ingat punya teman sekelompok jadi-jadian kaya kau!"


"Jadi-jadian? Apa maksudnya? Lo kira gue siluman?" ucap si cowok tidak terima dengan pernyataan Tara.


"Kau kan iblis! Jauh-jauh dariku, aku ini manusia baik," cetus Tara menggeser duduknya sedikit menjauh dari si cowok tapi cowok itu malah mengikuti Tara. Ia semakin mendekatkan diri pada Tara.


"Isshhh....kau ini siapa sih? Gak kenal! Satu lagi, menjauh dariku, ngapain mepet-mepet?" Tara berucap dengan emosi.


Cowok itu hanya bungkam. Bukannya menjawab ataupun menjauh, ia malah mengulurkan tangannya. Tara menatapnya dengan tatapan aneh.


"Mau apa? Minta duit? Aku gak punya!"


"Gue gak butuh duit lo, gue juga banyak kali." jawab di cowok yang membuat Tara mengelus dadanya, mencoba menahan amarahnya agar tidak meledak.


"Lo bilang kita gak saling kenal, makanya kenalan dulu," tambahnya menjelaskan maksud mengulurkan tangannya pada Tara.


"Gak, untuk apa kenalan sama iblis kaya kau!" tolak Tara membalikkan badan sebelum berpindah tempat ke samping Evan.


"Nama gue Semesta! Lo harus ingat itu," teriak cowok bernama Semesta itu yang mendapat tatapan tidak enak dari teman-teman yang lain. Mereka terusik dengan teriakan Semesta, mengganggu. Sedangkan Tara hanya berikap tdiak peduli. Bodo amat! Batin Tara.


✓✓✓


"Tara, tolong bawa lembar jawaban kelompok kita pada panitia. Ibu ada urusan sebentar dengan guru-guru lain," seru Bu Citra yang disambut anggukan mengerti dari Tara.


Tara berjalan mencari panitia untuk menyerahkan lembar jawaban kelompoknya. Celingak-celinguk kesana-kemari, Tara tidak mendapati salah satu diantara panitia penyelenggara. Lebih tepatnya, ia mencari Lintang karena hanya dia satu-satunya panitia yang dikenal.


Tara berbalik saat merasakan seseorang menepuk pundaknya sebelum berkutat dengan keraguan karena pasalnya Tara merasa merinding saat mendapat tepukan oleh seseorang. Sejenak Tara sadar bahwa sekarang masih siang bolong, jadi apa yang perlu ditakutkan?


"Ya, siapa?" Tara melotot saat melihat orang yang menepuk pundaknya.


"Hai," sapanya melambaikan tangan.


"Kau lagi, kau lagi. Kau mengikutiku ya?"


"Geer! Siapa juga yang ngikutin lo!"


"Yaudah serah, aku harus segera pergi karena di sini ada sesuatu yang bikin aku merinding," ucap Tara bergidik ngeri.


"Apa? Emang ada hantu nongol di siang bolong kaya gini?"


"Ada, kau contohnya!" jawab Tara menunjuk Semesta lalu pergi meninggalkannya.


"Kak Lintang mana ya," batin Tara melihat kesana-kemari.


"Cari apa lo?" sahut seseorang yang ada dibelakang. Tanpa perlu berbalik, Tara tau bahwa orang yang ada dibelakangnya adalah iblis, yap, Semesta.


"Sumpah ya, kau itu menyebalkan tau gak! Ngapain ngikutin aku coba? Dasar iblis gak punya kerjaan." Hari ini Tara benar-benar disulut emosi, kehadiran Semesta yang datang entah dari mana membuatnya mengurut kepala.


"Justru karena gue gak ada kerjaan makanya gue ngikutin lo. Selain itu, gue juga kasian sama lo."


Tara menaikkan sebelah alisnya. Kasian? Buat apa? Batin Tara.


"Lo kesepian kan? Makanya itu, gue berbaik hati untuk menemani lo."


"Apaan dah, aku gak kesepian kali! Justru kau yang kesepian karena dari tadi ngerusuhi aku mulu. Cieee.....yang gak punya teman, kasihan deh lo," ejek Tara terkekeh.


"Gue bukannya gak punya teman, tapi teman gue tuh terlalu banyak makanya gue bingung mau main sama siapa. Ya udah, gue memutuskan untuk sendirian, mencari orang-orang kesepian kaya lo!"


"Ya...ya....ya....serah kau aja dah!" Tara berjalan meninggalkan Semesta yang masih mengikutinya.


Beberapa meter di depan, terlihat Lintang yang otomatis membuat Tara berlari menghampiri, takut-takut kalau Lintang menghilang lagi, susah dicari pasti.


"Kak Lintang," teriak Tara menghampiri Lintang yang tengah memungut sampah.


"Loh... Tara, kenapa lari-lari?" tanya Lintang dengan tatapan bingung.


"Takut kakak hilang lagi!"


"Hah?"


"Ini kak, Ra mau kasi lembar jawaban hasil penelitian dan analisa kami sama panitia penyelenggara. Nah, berhubung kakak itu salah satu panitia, jadi Ra titip ke kakak ya? Soalnya kalau sama panitia lain gak kenal, segan juga."


"Ohh...gitu, ya udah. Ini aku pegang ya, nanti diserahkan pada juri agar dinilai."


"Oke, makasih ya kak," balas Tara girang.


"Iya. Ahemm...tapi ngomong-ngomong, itu di belakang kamu siapa ya Ra?" tanya Lintang yang tampaknya penasaran akan Semesta yang berdiri dibelakang Tara. Dari tadi kehadirannya terlupakan di sana.


"Ohh... Ra juga gak tau kak. Ni cowok ngeselin bet, dari tadi gangguin Ra mulu. Padahal Ra udah suruh jauh-jauh tapi masih aja nempel, gak ada kerjaan nih orang," tunjuk Tara pada Semesta.


"Biarlah, suka-suka gue mau ngapain."


"Tuh kan kak, ngeselin banget emang. Udah kak, kita tinggalin aja dia, anggap aja jurig. Ehhh, lebih tepatnya sih iblis," cetus Tara mengajak Lintang pergi dengan tatapan penuh tanda tanya. Sedangkan si empunya badan, Semesta, menatap kepergiannya dengan tangan yang terkepal. Tampaknya ia kesal terhadap Tara, tapi apa boleh buat, Semesta juga membuat Tara kesal sejak siang tadi.


~Bersambung~