
Setelah menempuh perjalanan selama hampir 5 jam, rombongan kelas XI tiba di tempat tujuan. Empat bus yang mengangkut mereka beserta beberapa guru terparkir rapi di tempat seharusnya. Bus 2, bus XI IPS C tiba paling akhir. Dengan cepat mereka berkemas karena yang lainnya sudah sampai beberapa menit yang lalu. Tara turun dengan hati-hati, mengambil tasnya yang ada di bagasi bus dan seketika ia kaget saat seseorang menepuk pundaknya.
"Kaget aku Zha," seru Tara mengelus dadanya.
"Kamu kenapa duduk sama Nusa coba?" tanya Zhafira tanpa basa-basi, agaknya ia benar-benar merasa terkhianati oleh Tara.
"Maaf Zha, aku gak tega lihat Nusa duduk sendirian. Kamu tau kan kalau di sekolah dia juga sendirian, di kelas juga duduk sendirian. Bayangin coba betapa kesepiannya dia, makanya aku duduk bareng Nusa tadi. Tapi kamu jangan marah ya, apalagi sama Nusa. Dia udah nyuruh aku untuk duduk sama kamu tapi akunya yang bersikeras mau bareng dia," jelas Tara dengan mata berbinar, berharap Zhafira tidak akan marah padanya.
"Hah...iya deh aku maafin. Aku juga ngerti keadaan Nusa meski aku gak tau alasannya apa."
"Jangankan kamu, aku yang pacarnya juga gak tau," ucap Tara santai mengambil tenda.
Untuk beberapa saat, Zhafira terdiam, mencoba mencerna kembali apa yang dikatakan oleh Tara barusan. Tara yang melihat tingkah temannya yang aneh itu segera mengguncangkan tubuhnya takut-takut kalau Zhafira kesambet karena Zhafira bukanlah orang yang akan diam membantu seperti itu.
"Zha, kamu kenapa? Sadar, kamu harus bangun!" teriak Tara mengguncangkan tubuh Zhafira serta menepuk-nepuk pipinya.
"Isshh...sakit tau!" kesal Zhafira memegangi pipinya yang nyut-nyutan.
"Ternyata kamu sadar, aku kira kamu kesambet. Hehehehe," balas Tara dengan wajah tanpa dosa.
"Hehe...hehe....emang lucu apa? Tapi serius kamu pacaran sama Nusa?" tanya Zhafira mencoba memastikan apa yang di dengarnya barusan bukanlah halusinasinya semata.
"Hah....kamu...t....tau...dari mana??" pekik Tara panik dan mendadak menjadi gelagapan sendiri.
"Ehh...bujang, dia sendiri yang ngomong, malah nanya tau dari mana," cetus Zhafira menepuk jidatnya.
"Aku yang ngasi tau? Kapan?"
"Kalau kaya gini udah panjang urusannya," Zhafira berlalu meninggalkan Tara yang masih sibuk mengangkut barang.
Di tengah perjalanan menuju tempat camping, Tara dihampiri oleh Nusa yang tentu saja membuat hatinya berbunga-bunga. Kalau saja di sana hanya ada dia dan Nusa mungkin Tara sudah menari-nari gak jelas karena terlalu senang yang entah untuk alasan apa.
"Sini Ra biar aku bawakan perlengkapan campingnya," seru Nusa menyodorkan bantuan.
"Oh iya, ini Sa," Tara menyerahkan tenda dan perlengkapan pendukung lainnya pada Nusa tanpa ragu. Tara benar-benar mengharapkan ada seseorang yang menawarinya membantu mengangkut barang bawaannya, dan tampaknya khayalannya itu menjadi nyata.
"Nih," Nusa menyerahkan sebuah kotak pada Tara.
"Apa ini Sa?" tanya Tara memiringkan kepalanya bingung.
"Kompor," jawab Nusa singkat sembari melanjutkan perjalanannya.
"Kompor? Buat apa? Kenapa kamu kasi ke aku Sa?" Tara melayangkan banyak pertanyaan sambil sedikit berlari mengejar Nusa yang beberapa langkah di depannya.
"Ya kamu bawa," ucap Nusa lagi yang membuat Tara semakin bingung.
"Kamu gak liat tuh kak Lintang bawaannya banyak banget, masa kamu gak kasihan sama dia yang udah capek-capek mempersiapkan karya wisata ini masa iya dia yang paling banyak bawa barang padahal kan itu untuk kita juga. Jadi, kamu bantuin kak Lintang bawa kompor itu," jelas Nusa yang membuat Tara diam untuk sesaat.
"Aku kan udah bawain barang bawaan kamu."
"Apa bedanya kalau kamu bawain barang aku dan aku bawa barang lain. Padahal aku lagi gak pengen bawa-bawa apapun," cetus Tara memasang wajah kecut.
"Cieee....yang ekspektasinya gak sesuai realita," ejek Zhafira yang membuat Tara semakin kesal.
"Diam kamu Zha!"
"Ahayy...ada yang kesel nih, udah bawa aja tuh kompor Ra. Btw Sa, aku suka gaya kamu, mantap," seru Zhafira mengacungkan ibu jarinya pada Nusa.
"Iya Ra, benar kata Zhafira bawa aja itu kompor. Maksud aku bawa barang kamu dan aku suruh kamu bawa kompor agar kamu gak keberatan bawa banyak barang. Kalau kamu bawa tenda, kompor, tas, dll itu semakin berat dan menyusahkan makanya aku meringankan sedikit beban kamu dengan mengambil tenda dan barang lainnya supaya kamu fokus bawa itu kompor. Lagian hanya kompor minyak, gak terlalu berat kan? Kalau aja kita pake kompor gas, aku suruh kamu bawain tuh kompor sekalian sama gabung gasnya," jelas Nusa detail agar Tara tak salah paham dan merasa kesal lagi.
"Kalau kamus suruh aku bawa tabung gas ya pasti aku nolak lah Sa, itu kan berat."
"Nah itu, kamu memang berhak untuk nolak karena aku juga gak akan tega lihat kamu susah-susah bawa tabung gas yang berat kaya gitu."
"Oke, oke, aku bawa kompornya," ucap Tara menyerah dengan semua spekulasi yang diberikan oleh Nusa, dimana Tara merasa sedikit terharu juga dengan alasan yang diungkapkan oleh Nusa tadi.
Setelah berjalan selama kurang lebih lima belas menit, rombongan SMA negeri 1 sudah tiba di tempat tujuan. Mereka semua berkumpul dan berbaris sesuai kelas masing-masing guna mendengar instruksi dari pak Rendy.
"Assalamualaikum wr.wb. Selamat siang dan salam sejahtera bagi kita semua. Alhamdulillah kita telah tiba di tempat tujuan dengan selamat dan sehat wal Afiat. Sebelum kita melakukan agenda kegiatan karya wisata, sebaiknya kita semua makan siang terlebih dahulu. Setelah makan siang, kita akan mendirikan tenda dan setelah itu kalian semua bebas mau melakukan apa saja selama tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Dan malamnya, kita akan membuat api unggun dan games kecil-kecilan sebelum kegiatan sesungguhnya akan dilakukan esok hari. Saya tidak akan berlama-lama karena semua yang ada disini pasti lelah setelah perjalanan panjang dan tentunya semua sudah lapar dan ingin segera makan. Bukan begitu Bapak, Ibu?" tanya pak Rendy yang membuat para guru hanya tersenyum simpul sedangkan para murid antusias setuju bahwa mereka sudah lapar sekali.
"Baiklah hanya ini saja yang bisa saja sampaikan. Lebih dan kurang saya mohon maaf. Wassalamu'alaikum wr.wb." tutup pak Rendy yang mana semua siswa berhambur kesana kemari mencari spot terbaik dan ternyaman untuk menyantap bekal makan siang mereka, yang semoga saja tidak basi.
Nyam! Nyam!
"Aku suka banget sama jamur crispy buatan Tante Karina, minta lagi dong Ra," ucap Zhafira dengan mulut penuh mencoba mencomot jamur crispy yang ada dalam kotak bekal Tara.
"Isshh....ini kan punya aku Zha! Jangan diambil dong, aku kan mau bagi-bagi ke yang lain terutama sama Nusa," cetus Tara menarik kotak bekalnya.
"Pelit!" gerutu Zhafira dengan mulut penuhnya.
"Pelit darimana coba, lauk kamu itu udah di dominasi sama jamur bahkan hampir menutupi nasi kamu sangking banyaknya dan sekarang minta punyaku? Gak akan aku kasi!" tegas Tara mendekat pada Nusa.
"Iya deh iya, kalau gitu aku minta lauk punya yang lain aja deh. Si, Mil, Do, kak Lintang, aku minta lauk kalian dikit ya," ucap Zhafira pada orang-orang yang ada di dekatnya.
"Iya Zha, ambil aja, aku bawa banyak kok," ucap Sisy lembut.
"Yoii, ambil aja kali Zha, gak usah sok malu-malu kaya gitu. Kaya bukan kau yang bisanya," balas Aldo, kawan kelas sebelah.
Tara menolak peduli dengan apa yang dilakukan Zhafira, ia dengan lahap menyantap makanannya di samping Nusa sedangkan Lintang yang berada di sebelah mereka hanya bisa tertawa melihat tingkah adik-adik kelasnya itu.
~Bersambung~