Nusa(N)Tara

Nusa(N)Tara
Pesan



Hahhh....


Tara menghela napas panjang, meletakkan kepalanya di atas meja. Zhafira yang disampingnya menatap aneh karena pasalnya Tara telah berulang kali menghela napasnya kasar.


"Ra, kamu kenapa?"


"Gak papa Zha," jawab Tara masih dengan posisi kepala ditenggelamkan diantara kedua tangan yang terlipat.


"Pasti ada apa-apanya, kamu udah menghela napas berulang kali Ra!"


"Emang iya? Aku kok gak sadar Zha. Kamu khawatir ya sama aku sampai-sampai menghitung kalau aku sudah menghela napas berulang kali."


"Iyalah, gimana sih Ra! Kamu kan temanku, udah pasti aku khawatir. Ada masalah apa sih Ra?"


"Sampai sekarang aku belum minta maaf ke Nusa," jawab Tara dengan nada berat.


"Loh kok bisa? Selama ini ngapain aja kamu Ra?"


"Bukannya aku gak ngapa-ngapain loh Zha. Kemaren itu sewaktu kita di museum, cowok iblis yang ambil kopi kalengku gangguin aku terus loh Zha! Aku kesal kali sama dia, apa-apa ikutin aku mulu. Bahkan saat aku sengaja dekat-dekat sama Evan atau kak Lintang, dia masih ada ngikutin. Tuh orang emang ngeselin bet dah!" cetus Tara kesal.


"Kak Lintang?"


"Ehh....bukan maksudnya aku sengaja Zha. Aku cuma mencari perlindungan. Kamu tenang aja Zha, aku gak bakal rebut kak Lintang darimu kok. Santai aeee, kak Lintang aman, jadi jangan cemburu."


"Hah...apa sih Ra? Siapa juga yang cemburu?" cetus Zhafira memalingkan wajah.


"Bilangnya gak cemburu, tapi pipinya merah. Gimana sih kamu Zha? Plin plan banget jadi orang."


"Emang arti dari pipi merah apa? Aku kepanasan tau, makanya gerah sampai pipiku merah!" bantah Zhafira yang membuat Tara menyeringai senang.


"Udah ngaku ajalah Zha, kamu itu suka kan sama kak Lintang? Buktinya aja kamu malu-malu kaya gini. Biasanya kan kamu gak pernah malu Zha, seringnya bikin malu."


"Kamvret kau Ra!" cetus Zhafira kesal sampai mengganti panggilan kamu menjadi kau untuk Tara.


"Hahahaha.... Eh...eh Zha, itu ada kak Lintang," sikut Tara.


"Mana? Mana?" Zhafira langsung melihat ke arah pintu.


"Tapi boong," jawab Tara dengan wajah polos yang membuat Zhafira mengguncang tubuhnya kesal.


"Udah, males aku temenan samamu Zha."


"Lah...jan gitu lah Zha. Masa kaya gitu doang kamu ngambek, udah ah, gak cocok tau!" seru Tara membujuk Zhafira yang kini membelakanginya.


"Zha, Zha," tepuk Tara di pundak.


"Apaan dah, jangan ngomong samaku!"


"Itu ada kak Lintang," bisik Tara.


"Aku gak akan tertipu dua kali Ra. Leluconmu gak kreatif sama sekali!"


"Serius, aku gak bercanda loh Zha. Itu ada kak Lintang." Zhafira memilih menutup kedua telinganya daripada harus mendengar candaan Tara yang tidak lucu sama sekali.


"Woyy, jangan tutup kuping! Itu ada kak Lintang loh! Kak Lintang! Kak Lintang! Kak Lintang! Kak Lintang! Kak Lintang! Kak Lintang!" seru Tara tepat di telinga Zhafira, menyebut-nyebut nama Lintang berulang kali layaknya sebuah goa yang bergema.


"Isshhh.....apa sih Ra? Kau menjengkelkan sekali hari," balik Zhafira menghadap Tara. Namun setelah itu matanya melotot melihat seseorang yang menghampiri mejanya dan Tara.


"Hai Zha, Ra," sapa Lintang menghampiri.


"Tuh kan, aku bilang juga apa. Aku gak bohong kok. Aku anak baik, gak mungkin bohong."


"Terus tadi itu apa, kau bohongin aku bilang kak Lintang ada."


"Bohong dari mana? Tuh buktinya kak Lintang ada di sini. Otomatis aku gak bohong kan?"


"Iya dah Ra, iya, serah kau aja dah!" jawab Zhafira memutar malas bola matanya.


"Ada apa ya kak?"


"Ini Zha, kotak bekalmu tertinggal kemarin dan aku menyimpannya. Ada di kelas, aku gak bawa langsung kemari karena sekalian mampir setelah rapat dengan panitia kegiatan karya wisata tadi. Kalau mau, aku bisa ambil dan bawa kemari, atau kamu mau ikut aku ke kelas?"


"Jadi sama kakak? Aku kira kotak bekalnya sudah hilang. Yaudah kak, aku ikut kakak aja ke kelas."


"Ra, aku pergi sama kak Lintang bentar ya," pamit Zhafira pada Tara.


"Iya Zha santai aee. Lama pun gak papa," jawab Tara sebelum Zhafira dan Lintang menghilang dari ambang pintu.


Tara menopang dagunya dengan tangan, melirik ke sudut sebelah kiri. Tempat dimana Nusa berada. Sepeti biasa, dia selalu menyendiri, memilih menyibukkan diri dengan membaca atau mendengarkan musik lewat earphone. Kali ini, Nusa memilih mendengarkan musik. Tara langsung mengambil smartphonenya dari dalam tas. Mengetik sesuatu dan setelah mengirim pesan, ia melirik Nusa.


Tring!


Nusa terperanjat saat melihat nama Tara terpampang di sana. Kenapa Tara mengirim pesan? Batin Nusa bingung. Nusa mengalihkan pandangannya pada Tara. Nusa mengernyitkan kening, Tara benar-benar aneh, mereka berdua di kelas yang sama tapi kenapa harus mengirim pesan? Tara melengkungkungkan bibirnya ke atas. Nusa membuka pesan dari Tara.


[Sa, aku minta maaf 🙏 Aku gak gak bermaksud membuatmu khawatir. Aku tau aku egois dan aku sadar akan hal itu. Aku benar-benar minta maaf Sa. Maaf kalau aku hanya bisa mengirim kesan karena aku takut menghampirimu]


[Sejujurnya, kemarin aku mau minta maaf samamu tapi kita gak ada waktu untuk ketemu. Sekali lagi maaf ya Sa. Aku benar-benar menyesal]


[Apa yang kamu bilang itu benar, orangtuaku khawatir saat aku pulang dengan luka dan lebam yang memenuhi tubuhku. Bahkan Bang Sean juga. Aku gak tau kalau dia sesayang itu samaku. Dia bahkan memberikanku apa saja yang aku mau 😁]


[Intinya, aku minta maaf 🙏 Terserah kamu mau maafin aku atau enggak]


[Assalamualaikum]


Nusa mengarahkan menik hitam kelamnya pada Tara. Dia terlihat cemas apakah Nusa akan memaafkannya atau tidak. Nusa mengangkat tangannya ke udara, memberi isyarat Tara agar datang padanya. Tara yang melihat hal itu memasang tatapan bingung. Sedetik kemudian, ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju meja Nusa.


"A...ada apa ya Sa?" tanya Tara gugup.


Puk! Puk! Nusa menepukkan tangannya di kursi sebelahnya yang kosong. Tara langsung duduk tanpa memberi komentar apapun.


"J....jadi.....kamu maafin aku?" Tara berucap tanpa melihat lawan bicaranya.


"Hei, kalau bicara lihat aku sebagai lawan bicaramu. Tidak sopan jika kamu menunduk seperti itu." Perkataan Nusa membuat Tara segera mengangkat kepalanya. Ia tahu bahwa tidak melihat lawan bicara adalah perbuatan tidak sopan. Namun apa boleh buat, ia benar-benar tidak sanggup untuk menatap Nusa sekarang ini, terutama matanya.


Nusa bungkam. Ia tidak mengucapkan sepatah katapun, membuat Tara menjadi salah tingkah dan bingung.


"Kamu panggil aku mau ngapain Sa?" tanya Tara memecah keheningan.


"Soal pesanmu," jawab Nusa menunjuk smartphone hitamnya


"Iya? Kamu gak maafin aku ya?" tunduk Tara kecewa.


"Aku belum bicara apa-apa loh Ra. Dan sudah kubilang, lihat lawan bicaramu. Tatap mataku Ra." Nusa menarik dagu Tara agar ia mendongak. Mata mereka bertemu, Tara segera memejamkan matanya.


"Hei, kenapa malah tutup mata?"


"Aku gak bisa tatap mata kamu Sa, setidaknya sampai kamu maafin aku," jawab Tara dengan mata yang masih terpejam.


"Jadi kamu maksa untuk aku maafin kamu?"


"G...gak gitu! Tapi aku berharap kalau kamu maafin aku. Aku benar-benar menyesal."


"Iya aku maafin."


"Hah? Kamu serius Sa? Gak bohong?" seru Tara tidak percaya sembari membuka matanya.


"Aku serius atau kamu mau aku menjauh darimu?"


"Enggak, enggak, mana mungkin aku membiarkanmu pergi lagi meninggalkanku. Aku kesepian dan sedih tau!" Tara menggelembungkan pipinya.


"Kesepian? Tapi ada cowok yang menemani kamu."


"Hah...siapa?"


"Kemarin, di taman. Dengan kopi kalengan bersama Zhafira dan yang lain."


"Cowok iblis maksudnya? Gak! Mana mungkin aku senang kalau ada dia. Yang ada dia itu menyebalkan, bikin aku naik darah... Ehh....tapi tunggu, kamu cemburu?"


"Memang gak boleh kalau aku cemburu?" jawab Nusa dengan wajah datarnya.


"Hah...ya...boleh lah! Aku malah senang. Hehehe," jawab Tara melengkungkan bibirnya senang.


~Bersambung~