
"8...9...10, sudah semuanya. Sebaiknya aku masuk kelas sebelum bel masuk berbunyi." Tara menepuk-nepuk ujung roknya sebelum bangkit dari posisi berjongkoknya.
"Lo aneh, fungsinya mengumpulkan daun-daun kering itu untuk apa coba?" Tara mengedarkan pandangannya. Ada suara tapi tidak ada pemiliknya? Seketika Tara bergidik ngeri, masih pagi sudah ada kejadian aneh begini?
"Woyy...gue ada di atas." Pernyataan tersebut membuat Tara mendongak.
"Pantesan merinding, ada saudara setan rupanya, iblis!" cetus Tara setelah melihat bahwa yang bersuara adalah Semesta.
Hup!
Semesta mendarat dengan sempurna. Ia melompat turun dari pohon setelah dirasa puas tidur-tiduran. Tara berbalik, berniat meninggalkan taman terbengkalai dan Semesta, tapi langkahnya terhenti saat Semesta kembali bersuara.
"Gue mau tanya, untuk apa lo kumpulkan daun-daun kering? Lo kolektor daun? Tapi kok gak berkelas, seharusnya yang di koleksi itu daun semanggi, daun maple atau yang lain yang berkelas. Ini malah lo kumpulkan daun-daun tanaman lokal, daun mangga, ceri dan kawan-kawan. Fungsinya buat apa coba?"
Tara berbalik menghadap Semesta yang beberapa meter ada di depannya. Ia tidak terima saat orang lain mengkritik hobinya, terutama mengkritik dedaunannya.
"Urusan denganmu apa? Terserah aku mau kumpulkan daun, mau kumpulkan tanah se-truk atau mengumpulkan lumut yang menempel di dinding sekolah. Semuanya gak ada hubungannya denganmu! Satu hal lagi, kau gak perlu mengkritik kenapa aku mengumpulkan daun mangga atau yang lain, karena apa? Karena aku lebih memilih dedaunan dari pohon lokal tapi bukan berarti aku tidak tertarik mengumpulkan daun maple atau sebagainya!" cetus Tara berbalik meninggalkan Semesta begitu saja tanpa pamit.
Tanpa Tara sadari, Semesta menarik sudut bibirnya, menciptakan sebuah senyum yang menghiasi wajahnya. Tipis, sangat tipis, tapi mampu membuat perubahan pada wajahnya, mengurangi sedikit ekspresi menjengkelkan yang biasa ditunjukkan.
✓✓✓
Tara mengobrak-abrik isi tasnya. Zhafira menatap dengan tatapan bingung. Apa lagi yang dilakukan bocah aneh ini, pikir Zhafira dalam hati. Tara masih sibuk mengeluarkan isi tasnya, mengecek bukunya satu persatu, membuka kotak pensilnya. Setelah itu, itu menghela napas berat sebelum menyandarkan punggung di kursi dengan keadaan meja yang penuh dengan isi tasnya yang berserakan.
"Ngapain sih Ra?" tanya Zhafira setelah lelah melihat aktivas Tara.
"Aku mencari gantungan kunci," jawab Tara tanpa mengalihkan pandangannya pada zhafira.
"Gantungan kunci yang mana? Itu di tasmu banyak koleksi gantungan kunci," balas Tara menunjuk beberapa gantungan kunci yang melekat pada tas sahabatnya itu.
"Bukan yang itu. Ini gantungan kunci yang spesial dan istimewa. Kamu lihat gak Zha?"
"Lahh....kenapa tanya aku? Kamu kira aku tau dimana ganci kamu?"
"Masa kamu gak lihat sih Zha. Gantungan kunci bergambar beruang, warnanya kuning."
"Gak tau aku Ra. Mungkin jatuh di suatu tempat?"
"Jatuh dimana ya Zha," pikir Tara memegang dagunya.
"Coba ingat-ingat, sebelum pergi sekolah masih ada?"
"Ada, sewaktu di rumah ganci beruang itu masih melekat di tasku. Aku melihatnya sewaktu menyiapkan buku-buku."
"Kemungkinan terbesarnya, kamu menjatuhkan ganci itu setelah keluar dari rumah. Coba telusuri jalanan yang dilewati pagi tadi sebelum sampai ke sekolah. Lebih mudahnya, kamu bisa cari di kelas terlebih dahulu, siapa tau jatuh di dekat sini," jelas Zhafira yang mendapat jawaban oke dari Tara.
Tara mengitari kelasnya guna mencari gantungan kunci berbentuk beruang yang didapatnya tempo hari bersama Nusa. Ia tidak ingin menghilangkan gantungan kunci tersebut karena ganci itu istimewa, tanda bahwa dirinya dan Nusa adalah pasangan. Nusa melihat Tara penuh tanda tanya. Tara masih sibuk mencari ganci tersebut sampai ke sudut-sudut ruangan kelas. Nusa angkat suara saat Tara berada tidak jauh dari tempat duduknya.
"Kamu cari apa Ra?"
"G....gak cari apa-apa kok Sa."
Tara mendapat tatapan tajam dari Nusa karena ia sama sekali tidak percaya pada Tara.
"Ekhhh...tatapannya biasa aja kali. Aku lagi cari gantungan kunci," jawab Tara jujur.
"Gantungan kunci? Gantungan kunci yang mana?"
"Gantungan kunci beruang yang dikasi sama mbak kasir sewaktu kita makan es krim itu loh."
"Ohh...udah lah gak usah dicari. Kamu ambil aja punyaku, masih ada kok atau mau ke cafe itu lagi?"
"Memang ada bedanya sama ganci punyamu?"
"Secara teknis sih gak ada. Tapi kan itu spesial, dapatnya sewaktu sama kamu ditambah kemarin itu cafenya baru buka. Mungkin sekarang sudah gak ada lagi, kan katanya kemarin sebagai alat promosi. Lagipula aku cuma mau ganci yang itu. Aku gak tau dia hilang atau jatuh dimana," jelas Tara bersikeras mencari gantungan kunci miliknya.
"Ya sudah, aku bantu kamu cari." Nusa bangkit dari tempat duduknya.
"Gak usah, gak usah, kan aku yang menghilangkannya jadi biar aku saja yang cari. Nanti kalau aku udah nyerah, kamu boleh deh bantuin aku cari ganci itu," cegah Tara yang dibalas anggukan mengerti dari Nusa.
Tara kembali ke mejanya, hasilnya nihil. Di kelas, ganci beruang kesayangannya tidak ada dimana-mana. Tara memutar kembali memorinya, tempat-tempat apa saja yang dilaluinya hari ini. Seketika Tara meloncat kaget, ia ingat bahwa sebelum masuk kelas, ia singgah ke taman terbengkalai untuk mencari dedaunan kering.
"Aku harus ke teman terbengkalai," seru Tara berlari ke luar kelas. Zhafira menatap kepergian Tara dengan tanda tanya yang memenuhi kepalanya.
Tara menyusuri jalan dari kelas menuju taman terbengkalai dengan hati-hati. Di tengah padatnya siswa/i yang berkerumun, Tara hanya memiliki peluang 50% untuk menemukan gantungan kunci miliknya. Namun Tara tidak berputus asa. Setelah di rasa tidak menemukan selama di perjalanan, Tara langsung meluncur ke taman terbengkalai. Ia mengobrak-abrik tumpukan daun tempat dimana ia singgah tadi.
"Dimana sih gancinya, apa jangan-jangan diambil sama orang?" batin Tara memikirkan kemungkinan yang akan terjadi. "Tapi gak mungkin, taman ini kan jarang dikunjungi. Apa aku salah ya, jatuhnya gak di sini. Bisa aja jatuhnya di jalan atau jatuh di halaman rumah. Tadi pagi aku kan buru-buru."
Tara bangkit dan menepuk-nepuk tangannya yang kotor. Ia menyerah mencari gancinya di taman terbengkalai. Sepulang sekolah, ia harus menyusuri jalan yang sama seperti tadi pagi dan memperhatikan jalan dengan teliti, siapa tau gantungan kuncinya terjatuh di sana.
"Lo cari ini?" Semesta menunjukkan gantungan kunci beruang yang dicari-cari Tara.
Tanpa basa-basi, Tara berlari menghampiri Semesta dan mencoba meraih gantungan kuncinya tapi Semesta menggantungkan tangannya di udara. Tara kesusahan menggapainya meskipun telah berjinjit.
"Iya punyaku. Balikin." Tara masih berusaha menggapai tangan Semesta.
"Gue balikin tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Kasi tau gue nama lo!"
"Hah? Yakin nama doang?"
"Iya, itu syarat termudah. Kalau lo mau syarat yang sulit ya gak papa, gue dengan senang hati memberinya. Lo harus bersih-bersih di rumah gue selama seminggu. Gimana?"
"Ogah! Namaku Tara," jawab Tara singkat.
"Nama panjangnya? Gak mungki Taraaaaaa kan?"
"Tara Nesya Ningrum."
"Semesta Langit Biru."
"Gak nanya!" cetus Tara berbalik.
"Tunggu, tunggu. Nih, lo simpan baik-baik," Semesta menyerahkan secarik kertas pada Tara.
"Hah...apaan nih? Semesta Langit Biru? Ini kan namamu, untuk apa dikasi ke aku?" tanya Tara bingung.
"Gak papa, biar lo selalu ingat sama gue. Simpan baik-baik, awas aja kalau hilang. Syarat sulit akan gue berlakukan ke lo," cetus Semesta serius.
"Ya, ya, ya. Oh iya, makasih karena lo sudah mengembalikan ganci kesayangan gue."
"Lain kali hati-hati, barang kesayangannya di jaga. Gak lucu kan kalau barang spesial dari pacar hilang," seru Semesta yang membuat Tara membelalakkan mata.
"Hah...apa?"
"Gue duluan ya, bye." Semesta berlalu begitu saja, meninggalkan Tara dengan tatapan bingung.
~Bersambung~