Nusa(N)Tara

Nusa(N)Tara
Hari tanpa Semangat



Nusa terbaring sendiri di atas atap, menatap langit biru dalam diam. Ya, Nusa memang izin untuk pulang lebih awal, namun sejatinya ia sama sekali tidak pulang, melainkan hanya berbaring di atas atap sekolah sembari menatap langit. Tangannya masih sedikit gemetaran mengingat apa yang telah dilakukannya tadi pada Tara. Ia merasa bersalah karena telah menyakiti Tara yang sebenarnya Nusa sendiri tau akan ada konsekuensi yang jauh lebih berat saat Tara dekat dengan dirinya meskipun ia juga sadar bahwa kehadiran Tara yang mengganggu ketenangan hidupnya sedikit demi sedikit membuat benteng pertahanannya memiliki satu celah.


Nusa merogoh tasnya, mencari sesuatu yang sudah sangat familiar baginya, sebuah buku catatan bewarna biru muda. Satu demi satu kata tertoreh lewat goresan pena, menodai kertas putih bersih. Deretan kata terpampang di sana, memenuhi satu halaman kertas. Lalu ia lipat menjadi sebuah pesawat, terbang bersamaan dengan angin yang membawanya meliuk kesana kemari sampai pesawat itu mendarat secara paksa, jatuh menghujam tanah dan rerumputan. Beruntungnya kali ini, tidak ada Tara di sana. Sebelum melayangkan pesawat itu, Nusa memastikan terlebih dahulu bahwa tidak ada orang di bawah sana terutama seseorang yang bernama Tara Nesya Ningrum yang memang ingin dihindari olehnya.


"Ternyata kamu benar ada di sini," ucap seseorang yang sukses membuat Nusa membuka mata, bangkit dari posisinya; tiduran.


Nusa menghela napas panjang saat mendapati si pemilik suara adalah seseorang yang ingin sekali ia hindari, Tara.


"Ngapain kesini?" tanya Nusa memutar malas kedua bola matanya.


"Aku khawatir samamu," jawab Tara spontan tanpa berpikir terlebih dahulu.


"Untuk apa? Seharusnya kamu menghawatirkan diri sendiri, bukannya aku."


"Sebegitu bencinya kah kamu denganku Sa sampai menghindariku? Jangankan menghindar, melihat bayanganku saja pun kamu tak mau. Maaf kalau aku terlalu lancang dan sok akrab denganmu. Mulai hari ini, aku gak akan menjadi orang yang sok dekat dan kenal denganmu, karena aku gak ingin kamu membenciku lebih dari ini. Sekali lagi maaf atas semua yang telah kuperbuat, maaf karena sering membuatmu jengkel," ucap Tara dengan suara parau dan pergi meninggalkan Nusa yang masih mematung jauh beberapa meter darinya.


Nusa menatap punggung Tara dengan perasaan yang tak dapat dijelaskan, ia merasa tak rela jika Tara pergi tapi di satu sisi dialah satu-satunya orang yang mendorong Tara untuk menjauh disaat dia datang mendekat. Nusa membuang napas kasar, mengacak-acak rambutnya frustasi. Nusa nyatanya senang akan kehadiran Tara namun keadaan yang tak mengizinkan bagi Nusa untuk menerima kehadiran Tara.


Selama hampir 16 hidupnya, baru kali ini ia bertemu dengan seseorang yang begitu keras kepala seperti Tara yang selalu datang meski ditolak berulang kali, seperti ombak yang menyapa pantai terus-menerus. Namun akhirnya ia kalah juga, meninggalkan pantai yang selama ini disapanya dengan ombak, menjadikannya kering kerontang dalam jangka waktu yang tak dapat ditentukan, mungkin selamanya.


"Tumben kamu gak ngikutin Nusa Ra? Biasanya selalu nempel kaya perangko," celetuk Zhafira melihat temannya yang sedari tadi hanya mengoret-oret buku tulisnya dengan asal.


"Enggak Zha, mulai sekarang aku gak bakal sksd sama Nusa lagi."


"Hah...serius? Ini kamu lagi gak sakit kan Ra? Apa obatnya habis makanya ngomong ngawur kaya gini?"


"Gak Zha, aku gak sakit ataupun kehabisan obat. Sekarang aku sadar kalau kehadiranku memang gak diharapkan sama Nusa, mungkin dia benci samaku," jawab Tara lesu menundukkan kepalanya.


"Kemana semangat dan kepercayaan diri kemaren Ra? Bukannya kamu sendiri ya yang semangat untuk menjadikan Nusa sebagai temanmu. Kenapa tiba-tiba nyerah di tengah jalan? Ada angin apa nih?" Zhafira memberondongkan Tara dengan banyak pertanyaan karena ia sangat tahu tabiat temannya itu karena pasalnya Tara bukanlah orang yang mudah menyerah mengingat selama ini selalu sesumbar menjadikan dirinya sebagai teman pertama bagi Nusa.


"Sekarang aku sadar kalau Nusa selama ini memang terganggu dengan kehadiranku. Jadi aku sudah memutuskan untuk menyerah lebih awal."


"Udah Zha, aku gak mau bahas apapun tentang Nusa lagi. Aku mau ke taman Zha, tapi kamu jangan ikut, aku pengen sendiri," ujar Tara melangkahkan kakinya keluar dari kelas .


Tara berjalan dengan langkah berat menuju taman, ia akhirnya duduk di bawah pohon rindang sembari melihat beberapa kakak kelas yang sedang bermain basket. Matanya tertuju pada atap sekolah, mencoba memastikan di sana apakah ada Nusa atau tidak? Meskipun ia mengatakan akan menjauhi Nusa, tapi nyatanya hati dan pikirannya berbanding terbalik. Hatinya masih ingin dekat dengan Nusa, Namun semangat yang selama ini berkobar dalam dirinya telah padam bagai bara api yang padam tersiram air.


"Entah kenapa rasanya aku kangen duduk berdua dan makan bekal bersama dengan Nusa dalam keheningan."


Tara tak menampik bahwa kepalanya dipenuhi oleh sosok misterius bernama Nusa yang kehadirannya sukses membuat semua orang berkomentar.


"Maaf Sa, meksipun aku bilang akan menjauh darimu, tapi nyatanya aku gak bisa. Tapi tenang saja karena kali ini aku tak akan menghampiri atau mengganggumu karena sekarang aku hanya akan berdiri di sini dalam diam, menatapmu dari kejauhan," batin Tara memandangi Nusa yang jauh beberapa meter dari tempatnya berdiri.


Kretek!


"Sial, kenapa harus keinjak ranting segala sih. Ceroboh banget sih Ra," batin Tara panik saat ia tanpa sengaja menginjak ranting pohon yang sukses membuat Nusa mencari sumber suara.


"Aku harus segera pergi sebelum Nusa datang memergokiku," batin Tara panik saat mendapati Nusa yang berjalan ke arahnya.


Tara panik setengah mati sampai-sampai ia lupa untuk kabur dari sana, secara ia sendiri pun terpesona pada sosok Nusa yang di sorot sinar matahari, membuat rambutnya yang sedikit ikal itu berkilauan. Tara mengerjap cepat menyadari bahwa ia harus segera pergi dari sana sebelum Nusa benar-benar memergokinya.


"Mau kemana?" tanya seseorang yang suaranya sangat dihapal oleh Tara.


"Ehhh... Nusa, aku gak sengaja datang kemari kok. Bukannya aku datang untuk melihatmu atau apa, tapi aku pengen jalan-jalan aja sekalian refreshing otak sama pelajaran matematika yang tadi, susah banget sih soalnya. Hehehe," kilah Tara gelagapan yang dimana Nusa sendiri tahu ia hanya berbohong, semua terlihat jelas dari wajahnya namun Tara masih berharap bahwa Nusa akan percaya alasan omong kosongnya.


"Ohhh.... yaudah kalau gitu aku balik ke kelas duluan," terang Nusa yang membuat Tara menghela napas lega.


"Huhh...hampir aja, tapi apa benar Nusa percaya sama alasanku barusan? Dia kan orangnya pinter masa iya gak tau kalau aku bohong atau jangan-jangan dia pura-pura gak tau ya," batin Tara menebak-nebak.


"Udahlah yang penting aku gak dimarahi sama Nusa."


~Bersambung~