
Siang ini, langit tidak secerah biasanya, dipenuhi awan gelap yang sebentar lagi siap menurunkan tetesan air dan membasahi bumi. Beberapa saat kemudian, satu persatu rintikan air mulai berjatuhan, membasahi jalanan, menjangkau setiap sudut kota. Tara bersiap untuk pulang, meninggalkan makam yang dikunjunginya beberapa saat yang lalu. Ekor matanya menangkap seseorang yang tengah berziarah, sosok yang sangat ia kenal. Ia memakai kemeja coklat, memakai sneaker hitam, dan membawa sebuket bunga. Ia berjongkok di samping makam, meletakkan sebuket mawar putih di sana, ia sama sekali tidak terganggu dengan hujan yang perlahan membasahi dirinya, membiarkan rambutnya yang ikal dan lembut itu basah terkena air hujan. Tara tak tahan saat perlahan kakinya bergerak menghampiri pemuda itu.
"Nusa," ucap Tara berdiri di samping Nusa, memayunginya.
"Ziarah juga?" tanya Nusa yang membuat Tara melongo karena selama ini Nusa selalu diam atau berkata agar Tara menjauhinya.
"Ehh...i...iya, a...aku ziarah ke makan kakek," balas Tara gelagapan.
"Ohh," ucap Nusa singkat.
Hening untuk beberapa saat, Tara akhirnya membuka suara mencoba memecahkan keheningan.
"Ziarah ke makam siapa Sa?"
"Keluarga. Ayah, Ibu, Kakak," balas Nusa tanpa mengalihkan pandangannya dari makam.
"Ini makam Ibumu ya Sa? Melati, nama yang cantik, pasti ibumu cantik sesuai namanya ya Sa," ucap Tara ikut berjongkok di samping Nusa.
"Iya, ibu adalah wanita paling cantik di dunia. Tapi tidak sesuai dengan namanya, ia malah suka dengan mawar, terutama mawar putih," terang Nusa dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Kalau mau nangis, nangis aja Sa, dengan begitu perasaanmu pasti lebih lega. Kalau boleh tau, Ayah, Ibu, sama Kakakmu meninggal karena apa? Sakit?" tanya Tara ragu takut-takut kalau Nusa mencuekinya seperti biasa.
"Kenapa kamu selalu ingin tau tentangku?"
"Maaf kalau aku terkesan kepo dan mengurusi urusan pribadi orang lain, tapi aku cuma mau jadi temanmu Sa. Setidaknya agar kamu memiliki teman meski hanya satu orang. Sendirian itu gak enak loh Sa, kamu tau gak kalau teman-teman di kelas kita itu pengen banget berteman denganmu, ngajak ngobrol bareng, makan bareng, bercandaan bareng, tapi sayangnya mereka ragu karena kamu yang terlalu menutup diri dengan keadaan sekitar. Aku memang gak tau apa yang menyebabkanmu menjadi begini, tapi setidaknya bertemanlah dengan yang lain karena nyatanya manusia makhluk sosial kan?"
"Memang ya kalau ngomong itu paling gampang. Bukannya gak mau, tapi keadaan yang tak memungkinkan untukku berteman dengan orang lain."
"Kenapa?"
"Kamu adalah orang yang paling kepo sedunia. Meskipun kamu bertanya, aku gak akan menjawab pertanyaan itu."
"Maaf, maaf, tapi setidaknya bisakah aku menjadi temanmu? Aku ingin mengenalmu lebih jauh, aku akan mencari tau sendiri apa yang menyebabkan hatimu bisa terluka sebegitu parahnya."
"Berarti kamu telah ingkar janji," ucap Nusa tanpa memperdulikan perkataan panjang kali lebar Tara.
"Ohh..iya, janji seminggu yang lalu. Tapi aku udah berusaha semampuku untuk menjauhimu meskipun berhasil saat di sekolah, namun pikiranku selalu dipenuhi denganmu Sa. Jadi aku mohon mau ya jadi temanku," harap Tara dengan mata berbinar.
"Serius? Bukan candaan kan? Gak bohong juga kan Sa? Bohong itu gak baik loh."
"Serius, ingat bahwa tepat pada tanggal 12 April kita resmi menjadi teman dan bertepatan juga dengan hari ulang tahunku yang ke 16," seru Nusa yang membuat Tara refleks meloncat kegirangan dan langsung mengentikan aksinya setelah menyadari bahwa ia berada di makam, tepatnya di depan makam keluarga Nusa.
"Tunggu, bertepatan dengan hari ulang yang ke 16? Hari ini kamu ulang tahun? Wahh...selamat ya Sa, semoga kamu gak kesepian lagi, memiliki banyak teman, dan bahagia selalu," ucap Tara lagi setelah sadar akan ucapan Nusa yang mengatakan bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya.
Melihat Tara yang kegirangan dan menari-nari tidak jelas, Nusa hanya berdiam diri bahkan saat air hujan jatuh kembali membasahi dirinya namun dengan intensitas yang lebih deras dari yang sebelumnya membuat pakaian yang hampir kering basah kembali.
"Ra, aku kebasahan nih," ungkap Nusa meminta Tara kembali memayunginya.
"Maaf aku gak sengaja," dengan cepat Tara kembali mamayungi Nusa.
"Sebentar, kamu panggil aku Ra? Aku gak mimpi kan baru pertama kalinya loh kamu panggil aku dengan nama," celetuk Tara lagi tak percaya akan apa yang keluar dari mulut Nusa, cowok misterius yang katanya Zhafira cowok mode malam, dark.
"Karena kita telah berteman, sudah sepantasnya aku memanggil dengan yang seharusnya. Tapi kamu gak akan menyesal kan karena kemungkinan akan ada risiko yang mungkin saja terjadi di kemudian hari," cetus Nusa dengan wajah serius.
"Enggaklah, kan aku yang ingin sekali menjadi temanmu. Apapun risikonya aku pasti akan hadapi, ya meskipun aku sendiri gak tau apa risiko itu karena aku baru dengar kalau berteman memiliki risiko dan konsekuensi," balas Tara tanpa ragu.
Nusa tak menanggapi ucapan Tara, ia kembali berjongkok di tengah-tengah makam Ayah Ibunya serta makam Kakaknya bertepatan di sebelah makan Ayahnya, di sini kanan Nusa.
"Yah, Bu, kak Zidan lihat nih ada cewek yang bersikeras untuk menjadi temannya Nusa, katanya dia gak mau lihat Nusa kesepian padahal dia sendiri belum tau Nusa ini seperti apa. Sejak kepindahan Nusa ke SMA Negeri 1, cewek ini selalu mengganggu Nusa, bikin kesel dan jengkel tapi tetap aja dia gak nyerah untuk jadi teman Nusa, terlebih banyak orang bilang dia cewek aneh. Sekarang, tepat di hari ulang tahun Nusa dan di depan makam kalian semua, Nusa dan dia, Tara Nesya Ningrum resmi berteman," ucap Nusa di depan makam keluarganya yang sontak membuat Tara ikut berjongkok di samping Nusa.
"Iya Tante, Om, Kak, Tara janji bakal bikin Nusa senang dan gak kesepian lagi. Tara akan jadi teman yang baik buat Nusa, hari ini Tara mau ajak Nusa jalan-jalan biar dia senang," ucap Tara seenaknya tanpa meminta persetujuan dari si pemilik badan.
"Yaudah yuk kita pulang, udah terlalu lama kita di sini, hujannya juga makin deras," ajak Tara yang disambut anggukan oleh Nusa.
Kurang lebih sudah setengah jam Tara dan Nusa berteduh di sebuah pos ronda. Hujan turun semakin deras seiring berjalannya waktu, Tara benar-benar berharap agar hujan segera reda mengingat ia ingin merayakan hari pertemanannya dengan Nusa dan tentunya merayakan ulang tahun Nusa.
"Hujannya belum reda juga, sampai bajumu yang tadinya basah sekarang udah kering tapi hujannya belum reda juga, aku bosan," Tara berbaring dengan santai setelah ia lelah menunggu redanya hujan.
Ia memang merasa sangat bosan, dan tidak tahu harus melakukan apa, karena semua aktivitas telah dikerjakannya mulai dari main hp, baca komik atau novel, nonton film, mengajak Nusa ngobrol meski hanya sebatas obrolan yang tak berguna, menghitung setiap tetes air hujan yang jatuh dari atas daun keladi, memukul-mukul kentungan yang ada di pos ronda, mencoret-coret papan jadwal warga yang akan melakukan ronda, dan sekarang ia hanya berbaring saja. Sedangkan Nusa masih anteng dalam diamnya menatap yang entah apa itu. Tampaknya Nusa benar-benar menikmati setiap melodi hujan yang jatuh membasahi bumi.
~Bersambung~