
"Ra"
"Tara"
"Tara banguuunnnn...," teriak seseorang yang spontan membuat Tara bangun sangkin kagetnya.
"Hah...kenapa? Apa ada kebakaran?" tanya Tara celingak-celinguk kesana kemari.
"Iya kebakaran hutan."
"Ehhh...dimana? Gak ada kok. Kamu bohong ya Sa?" tanya Tara mencari kebenaran setelah menyadari bahwa dirinya di bohongi.
"Iya memang, udah yuk pergi hujannya udah reda nih."
"Oh..iya hujannya udah reda, aku sampai gak tau sangkin pulasnya."
"Emang, udah kaya kebo dibangunin gak bangun-bangun dari tadi."
"Ehh...enak aja bilangin aku kebo. Oh iya Sa, yuk kita jalan-jalan ke kebun binatang, sea world, taman bermain, ke tempat game arcade juga," ajak Tara semangat 45.
"Enggak ah, emangnya aku anak kecil makanya di ajak ke tempat yang kaya gitu," tolak Nusa tanpa basa-basi.
"Ihhhh....seru tau, sekalian merayakan hari pertemanan kita dan hari ulang tahunmu juga. Aku pengen banget liat panda di kebun binatang, terus lihat penguin di sea world, main wahana permainan di taman bermain, please temenin ya, nanti aku traktir es krim deh," celetuk Tara dengan mata berbinar.
"Nyogok pake es krim? Gak mempan karena aku bukan bocah SD. Tapi ya berhubung hari ini aku lagi senggang dan dalam mood yang baik, boleh deh aku temenin," Nusa akhirnya menyerah dan mau ikut dengan Tara yang tentunya disambut gembira oleh Tara, sampai loncat-loncat kegirangan.
✓✓✓
"Wahhh... liat deh Sa, lucu banget ya pandanya bikin gemes."
"Ihhhh....singanya garang banget."
"Waaa....Nusa tolongin, aku dikejar sama burung merak," teriak Tara berlarian menghindari burung merak yang menyerangnya.
"Gak, salah sendiri kenapa meraknya di gangguin padahal dia lagi anteng tidur, terima aja kemarahan dari si merak."
"Ihhhh...jahat," Tara memanyunkan bibirnya saat Nusa memilih cuek tak peduli pada Tara yang dikejar-kejar burung merak sampai sang penjaga ikut turun tangan mengatasi merak yang marah itu dan Tara tentunya mendapati nasehat agar tak mengganggu ketenangan semua hewan yang ada di sana. Nusa yang melihat Tara meminta maaf dengan bersungguh-sungguh sampai membungkukkan badannya tertawa dari kejauhan.
"Oke, sekarang kita ke sea world," semangat Tara mengepalkan tangannya meninju udara.
"Tadi udah lihat hewan darat, sekarang mau lihat hewan laut lagi? Gak capek apa Ra?" tanya Nusa heran melihat stamina teman pertamanya di bangku SMA itu tak pernah habis.
"Enggak dong, aku mau lihat penguin, paus, hiu, ubur-ubur, penyu, kura-kura, pari, terus apa lagi ya. Pokoknya semua hewan laut aku pengen liat."
"Yaudah deh terserah," Nusa mengikuti Tara dalam diam.
Tara sangat antusias melihat semua hewan laut itu berenang kesana-kemari. Ada juga singa laut dan lumba-lumba yang melakukan aksi akrobat membuat Tara kegirangan bukan main seperti anak kecil yang mendapati permen atau mainan baru.
"Sa makan yuk, aku laper," ajak Tara setelah selesai berkeliling sea world dan melihat lumba-lumba serta singa laut melakukan aksi akrobatik.
Tara langsung menarik tangan Nusa sebelum iya mengiyakan ajakannya, membawanya ke salah satu tempat makan yang letaknya tak terlalu jauh dari tempat aksi akrobat lumba-lumba dan singa laut.
"Bisa gak lepasin tanganku?" Nusa yang sedari tadi bungkam akhirnya membuka suara mungkin risih dengan Tara yang dengan seenaknya jidatnya menarik tangannya tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Tara menyantap makanannya dengan lahap, ramen pedas cumi yang beberapa saat yang lalu terhidang di mejanya, sekarang mangkuk itu telah kosong separuh. Tampaknya Tara sangat kelaparan atau memang dia doyan entahlah hanya Tara sendiri yang tau bahkan Nusa yang ada bersamanya pun mencoba mengabaikannya meski cukup sulit karena Tara berada di hadapannya, cukup mengganggu penglihatan.
"Makannya bisa pelan-pelan gak Ra? Bising tau gak," cetus Nusa kesal.
"Maaf maaf, aku gak bermaksud kaya gitu tapi mau gimana lagi, aku lapar banget dan ini tuh makanan favorit aku. Kamu mau Sa?"
"Gak deh, makasih," balas Nusa kembali melahap makanannya dengan tenang tidak seperti Tara grasak-grusuk dan belepotan seperti tidak makan selama sebulan.
"Oh iya Sa, kamu besok datang ke sekolah kan?" tanya Tara dengan mulut penuh.
Nusa merasa risih melihat mulut Tara yang penuh dan belepotan kemana-mana, gak ada bedanya dengan anak TK yang baru belajar makan.
"Kalau mau ngomong, makanannya di telan dulu napa, belepotan kaya gitu kan," ucap Nusa sembari menyeka mulut Tara yang comeng-comeng dengan tisu yang spontan membuat Tara membeku seketika.
Menyadari perbuatannya yang membuat suasana menjadi canggung, Nusa langsung menghentikan aksinya.
"Maaf aku gak sengaja."
"Iya gak papa kok," balas Tara canggung dan melanjutkan membersihkan sendiri mulutnya yang belepotan.
Setelah selesai makan, energi Tara kembali penuh ia pun langsung mengajak Nusa ke taman bermain. Nusa yang sudah mengiyakan ajakan Tara saat di pemakaman mau tak mau ikut saja dengan Tara, ia sendiri heran mengapa Tara tak merasa capek sama sekali, memangnya sebanyak apa energi yang Tara punya? Begitu kira-kira yang ada dalam pikiran Nusa.
Sebelum sampai ke taman bermain, tanpa sengaja Tara melihat mesin pencapit boneka si depan sebuah toko mainan. Tara sangat antusias dan langsung berlari kesana dan memasukkan uang koin. Dengan wajah serius, Tara benar-benar berkonsentrasi penuh menggerakkan mesin pencapit boneka tersebut. Menggerakkannya kesana-kemari mencari boneka yang di anggapnya paling mudah untuk di ambil.
"Wahh..dapat," girang Tara saat ia mendapatkan boneka tersebut, di saat boneka tersebut hampir jatuh ke tangannya, boneka beruang itu malah memilih jatuh berkumpul kembali dengan teman-teman bonekanya yang lain yang tentu saja membuat Tara kecewa dan sedikit kesal karena ia hampir mendapatkan boneka beruang tersebut.
"Masa main kaya gitu doang gak berhasil, anak kecil juga bisa kali Ra," ejek Nusa yang berada sekitar tiga meter dari tempat mesin pencapit boneka.
"Itu baru permulaan tau, aku baru pemanasan. Lihat aja, palingan juga nanti aku dapat itu boneka, kamu liat baik-baik ya Sa," ungkap Tara sesumbar tak terima saat Nusa mengejeknya seperti itu.
Koin kedua telah dimasukkan Tara, menggerakkan mesin pencapit dengan konsentrasi lebih dari percobaan yang pertama. Bruk! You lose! Percobaan kedua juga gagal, Nusa yang berdiri tiga meter darinya pura-pura tidak melihat. Tara tidak berputus asa, ia memasukkan koinnya lagi. You lose! You lose! You lose! Kali ini Tara benar-benar putus asa, sudah lima kali ia mencoba tapi hasilnya nihil tak ada satupun boneka yang ia dapatkan.
"Mana bonekanya Ra? Katanya kamu bakal dapatin boneka dan yang tadi cuma pemanasan, apa pemanasan sampai sebanyak 5x gitu?"
"Udah deh gak usah ngejek, coba kamu yang mainin aku jamin gak bakal menang deh kamu," tantang Tara pada Nusa yang sedari tadi meremehkan mesin capit boneka itu padahal nyatanya mesin itu benar-benar terkutuk bahkan sampai percobaan kelima pun tidak ada satu boneka yang mendarat ke dalam pelukan Tara.
You lose!
"Wahahaha.....tuh kan aku bilang juga apa, bukan aku yang gak pandai mainnya tapi mesinnya aja tuh yang terkutuk," ungkap Tara dengan tawa yang cukup keras membuat beberapa pengunjung toko mainan tersebut melihat ke arahnya.
"Baru permulaan, yang kedua pasti berhasil," Nusa kembali memasukkan koinnya, tak butuh waktu lama ia berhasil mendapatkan sebuah boneka panda berukuran sedang.
"Nih untukmu, kamu suka panda kan?", Nusa menghampiri Tara dan memberikan boneka yang didapatnya tadi pada Tara.
Tara entah mengapa hanya diam tanpa kata, mencueki Nusa yang ada di hadapannya, tidak biasanya ia diam begini.
"Woy, napa diam aja. Nih untukmu, aku sengaja pilihkan boneka panda karena tadi sewaktu di kebun binatang kau sangat antusias dengan panda kan."
"Ahh...iya, ma...makasih ya Sa," Tara mengambil boneka panda itu dari tangan Nusa. Ia merasa pipinya sedikit panas entah karena cuaca yang cukup terik atau karena ia berada di dekat Nusa? Pasalnya saat Nusa memberikan boneka panda itu dan sengaja memilih boneka panda untuk di capit, ia terlihat begitu keren bak model berada di atas panggung dengan lampu sorot alami, sinar matahari yang menyilaukan mata.
~Bersambung~